
Di kediaman Teddy tepatnya di dalam kamar pasangan suami istri tersebut, Lidya masih bermalas-malasan tiduran di atas peraduan. Sedangkan Teddy terlihat sibuk di depan laptopnya.
Lidya dengan nakalnya kini mendekati Teddy yang masih fokus dengan laporan dari bawahan nya. Memang saat ini Teddy duduk di atas tempat tidur dengan laptopnya. Kelapa Lidya kini direbahkan nya di atas paha Teddy. Teddy tersenyum melihat sikap istrinya yang mulai manja kepada dirinya.
" Masih belum selesai juga yah Kak, melihat laporan keuangan ataupun kegiatan dari sekretaris kakak di perusahaan?" tanya Lidya dengan suaranya yang manja.
"Sebentar lagi sayang! Sedikit lagi selesai kok. Ada apa sih sayang? Kamu mau apa, hem?" kata Teddy.
"Lapar! Aku mau makan tapi harus sama dengan kamu kak Teddy," sahut Lidya yang tumben kali ini menjadi sangat manja. Teddy tersenyum lebar.
"Oh aku pikir kamu mau mengajak aku naik dan bermain odong-odong lagi,"sahut Teddy dengan bahasa absurd. Lidya tersenyum kecil sambil mengusap bagian dada Teddy yang masih terbuka karena bertelanjang dada.
" Nah, jangan membangunkan singa tidur, sayang!" kata Teddy. Lidya semakin nakal mengganggu Teddy. Teddy menutup laptopnya lalu dengan cepat menindih tubuh Lidya dan kembali meraup bibir nya sebentar.
"Ayo, kita makan kak! Aku sudah lapar," bisik Lidya pelan.
"Oke, ayo kalau begitu!" ucap Teddy akhirnya.
__ADS_1
🦋🦋🦋🦋🦋
Di ruang makan Teddy terlihat sangat perhatian mengambilkan makanan untuk Lidya. Lidya seperti seorang tuan putri yang dilayani dengan baik seorang pangeran.
"Mau gulai kepala ikan tidak?" tawar Teddy mencoba menawarkan jenis makanan itu pada Lidya. Lidya yang melihat kepala ikan gurami yang di buat gulai itu terlihat geli karena mata gurami nya terlihat melotot kepada Lidya.
"Enggak mau!" sahut Lidya manja sambil menggelengkan kepala nya.
"Iga bakar mau, sayang?" tanya Teddy lagi.
"Hem, mau!" jawab Lidya dengan cepat. Teddy tersenyum lebar melihat ekspresi Lidya yang menggemaskan.
"Huum," sahut Lidya dengan menganggukkan kepalanya.
Teddy mendekatkan beberapa piring lauk pauk dan juga satu piring nasi ke depan Lidya. Lidya mulai menyantap hidangan yang sudah tersaji itu dengan lahap setelah mereka sama-sama berdoa.
"Selamat makan, sayang!" ucap Teddy.
__ADS_1
"Selamat makan, kakak Teddy!" sahut Lidya dengan tersendiri lebar.
Teddy membisikkan sesuatu ke telinga Lidya setelah menggeser tempat duduknya. Lidya menyipitkan kedua bola matanya mendengar Teddy membisikkan sesuatu ke telinga nya.
"Makan yang kenyang sayang! Karena setelah makan nanti kita akan kembali bekerja keras membuat adik bayi. OKe?" bisik Teddy ke telinga Lidya. Lidya menjadi merona wajahnya mendengar ucapan Teddy itu. Teddy tersenyum menyeringai nakal.
Teddy dan Lidya menikmati makan malam itu bersama dengan saling menyuapi satu dengan yang lain. Tiba-tiba langkah suara kaki mendekati keduanya.
"Halo kakak, aku datang!" teriak Rere yang datang bersama dengan Erik. Rere tanpa malu digandeng mesra oleh Rere. Hal itu membuat Teddy melebarkan bola matanya.
"Kalian dari mana saja sih, tadi?" tanya Teddy.
"Maaf kak Teddy! Tadi saya membawa Rere ke rumah dulu. Hem, kami berencana akan menikah secepatnya," ucap Erik to the points. Lidya dengan cepat tersenyum lebar dan penuh kebahagiaan.
"Wah, syukur lah, akhirnya Rere bisa menyusul kita menikah kak Teddy! Selamat yah Rere dan Erik! Akhirnya kalian bisa serius untuk menikah dengan cepat," kata Lidya.
"Masalah itu, nanti kita bicara setelah makan malam ini yah! Kalian makan dulu! Ayo Erik duduklah dan kamu Rere ajak Erik makan juga. Soal rencana pernikahan kalian nanti harus kita sampai kan dulu ke mama papa kita," kata Teddy yang terlihat bijaksana ketika sudah di depan adiknya.
__ADS_1
Lidya menatap Teddy dengan heran. Suaminya ini bisa berubah dengan cepat sikapnya ketika bertemu dengan karyawan ataupun adiknya. Terlihat bijaksana dan berkharisma. Lidya semakin dibuat kagum dengan Teddy. Ini sangat berbeda jika sudah bersama dengan Lidya di dalam kamar.