
Lidya membuka handle pintu kamar Teddy. Di sana Teddy terlihat masih duduk di sandaran tempat tidur nya. Di atas pahanya ada benda pintar, laptop nya. Teddy masih melihat email yang masuk dari beberapa karyawan nya.
"Apakah kamu dari kamar ibu kamu? Bagaimana keadaan nya?" tanya Teddy berbasa-basi. Tentu saja Teddy sudah tahu perihal keadaan dan perkembangan ibu Lidya yang semakin membaik.
"Maaf! Aku tadi ke kamar ibu sebentar saja kok. Memastikan keadaan ibu baik-baik saja," kata Lidya.
"Oke, aku mau istirahat! Kerjakan tugasmu sekarang!" ucap Teddy. Teddy segera berbaring di atas kasur empuk nya. Lidya mulai menyiapkan minyak yang sering digunakan Teddy untuk mengurut kaki, tangan dan juga bagian punggung nya.
Teddy memposisikan dirinya telentang. Lidya memilih untuk memijat kedua kaki Teddy terlebih dahulu. Ini lebih aman untuk mengkondisikan jantung Lidya saat sudah berada di dalam satu ruangan atau kamar yang sama. Apakah Teddy belum juga beranjak memejamkan matanya. Kedua bola matanya masih terlihat sempurna menatap Lidya dengan tatapan sulit diartikan.
Dengan menundukkan kepalanya Lidya mulai menyentuh salah satu telapak kaki milik Teddy. Teddy sudah bertelanjang dada. Posisi telentang dengan kedua tangan disanggah kan sebagai bantal semakin terlihat mempesona di mata Lidya. Betapa air liur nya selalu keluar dan ditelannya. Perut Teddy yang datar dengan six pack nya membuat wanita manapun yang melihat nya akan tergoda. Apalagi saat ini Lidya sudah berada di satu kamar yang sama. Dada bidang dan lebar menambah kekarnya tubuh Teddy. Teddy melihat Lidya yang sudah memulai memijat kakinya.
"Lidya! Kemari lah!" perintah Teddy. Lidya menyipitkan matanya saat Teddy menyuruhnya mendekat kepadanya. Lidya turun dari tempat tidur itu dan berjalan mendekati Teddy di arah samping. Saat ini Lidya benar-benar melihat dengan jelas bagian dada bidang Teddy yang putih namun sangat kekar. Lidya kembali menelan saliva nya.
__ADS_1
"Pak Teddy! A.. a.. ada apa pak?" tanya Lidya.
"Kepala ku tiba-tiba merasa pening dan dadaku di sini sesak. Tolong ini sedikit mengganggu dan membuat aku menjadi susah tidur," ucap Teddy dengan rencana untuk menjahili Lidya. Tangan Lidya sedikit gemetaran ketika mulai menyentuh bagian kepala Teddy. Daerah kedua pelipis Teddy mulai disentuh dengan kedua tangan Lidya. Aroma tubuh Lidya pun kini lebih dekat tercium dan dinikmati oleh Teddy. Demikian hal Lidya. Lidya begitu dekat dengan Teddy dan bau maskulin Teddy mulai menggangu pikiran Lidya untuk tidak mengkhayal sesuatu yang tidak boleh.
"Sedikit lembut, Lidya! Sakit di daerah itu!" kata Teddy. Lidya mulai memelankan pijitannya.Teddy diam-diam menahan tawanya lantaran tangan Lidya seketika menjadi dingin.
"Lidya, kepalaku sudah lebih baik. Sekarang tinggal bagian dadaku ini. Di sini rasanya sesak," ucap Teddy lalu mengarah kan tangan Lidya ke bagian dada bidangnya.
"Eh, ma ma maaf kak Teddy!" ucap Lidya pelan. Tangannya kini semakin gemetaran menyentuh bagian dada bidang dan kekar milik Teddy. Teddy pura-pura memejamkan matanya dan sedikit meringis kesakitan.
Lidya kini menatap sekilas wajah Teddy yang begitu dekat dia pandang. Lidya seperti merasa dipermainkan oleh Teddy. Kini tangan Lidya mulai menekan dan memijat daerah dada itu dengan lebih keras. Teddy benar-benar meringis menahan kuatnya pijatan Lidya.
Teddy menangkap tangan Lidya dan berujar.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah bilang kepada kamu, Lidya! Pelan-pelan saja! Bila perlu hanya diusap saja. Ini kamu malah menekan dengan keras. Apakah kamu sengaja ingin menyakiti aku, hem," ucap Teddy dengan suara pelan.
Kedua netra mereka saling tatap. Lidya menundukkan kepalanya tidak mampu beradu dengan kedua mata milik Teddy yang menyambar bagai burung elang. Jari telunjuk Teddy mengangkat dagu Lidya hingga kembali kedua netra mereka beradu.
"Kamu cantik juga! Tapi masih kalah jauh dengan Sicilia," ucap Teddy pelan. Lidya melebar matanya mendengar ucapan dari Teddy. Bahkan kini Teddy membandingkan dirinya dengan Sicilia.
"Tapi dibanding Sicilia aku lebih memilih kamu untuk menjadi istriku," ucap Teddy lagi.
"Ke.. kenapa kak? Kenapa memilih aku menjadi istrimu?" tanya Lidya ingin tahu jawabannya.
"Karena kamu masih murni. Sedangkan Sicilia bukan lagi wanita yang aku kenal sebelumnya. Sicilia sudah bukan lagi Sicilia yang dulu," sahut Teddy. Lidya mulai memahami apa maksud dari kata-kata Teddy.
"Sudahlah! Kamu boleh istirahat! Aku juga mau tidur!" kata Teddy lagi. Lidya segera berlalu dari kamar itu dengan cepat. Namun sebelum Lidya membuka pintu kamar itu untuk keluar Teddy berkata.
__ADS_1
"Lidya! Selamat malam! Mimpi yang indah yah!" ucap Teddy sambil melebarkan senyumnya. Lidya membalas senyuman itu.
"Duh, senyuman nya sangat manis sekali," batin Lidya.