CEO PEMANJA ISTRI

CEO PEMANJA ISTRI
SURUHAN TEDDY


__ADS_3

Pak Erik mengajak Lidya ke warung bakso di pinggir jalan dekat di taman kota. Dengan sangat lahapnya Lidya memakan bakso itu sampai habis. Pak Erik yang melihat mangkok bakso Lidya kini telah habis tak bersisa, segera memesankan bakso kembali satu mangkok untuk Lidya. Bakso kali ini dengan porsi yang super jumbo.


Kembali Lidya menyantap bakso itu di mangkok yang baru disodorkan oleh Pak Erik. Pak Erik menatap heran kepada Lidya yang makan bakso dengan sangat rakus.


"Lapar? Atau kamu sangat doyan bakso?" tanya Pak Erik menatap Lidya dengan sorot keheranan dan senang. Senang karena melihat Lidya tidak lagi sedih.


"Saya lagi stres dan frustasi Pak Erik! Jadi saya butuh tenaga ekstra karena stress bisa mengakibatkan turun nya berat badanku secara drastis," ucap Lidya asal. Pak Erik terkekeh saja mendengar jawaban dari Lidya. Tiba-tiba Lidya tersedak karena kepedesan. Segera Pak Erik mengambilkan botol minuman dingin di dalam lemari pendingin di warung bakso tersebut. Pak Erik membuka tutup botolnya dan memberikan nya kepada Lidya.


"Pelan-pelan saja! Ini diminum dulu," kata Pak Erik. Lidya meminumnya dengan pelan teh dingin itu.


Kembali mangkok kedua itu telah habis dimakan Lidya. Kini Lidya benar-benar sudah kenyang. Minuman dingin di botol nya habis tiga. Pak Erik geleng-geleng kepalanya.


"Mau tambah lagi?" tanya Pak Erik.

__ADS_1


"Cukup pak Erik! Terimakasih bakso nya!" sahut Lidya.


"Sekarang ceritakan, apa yang menyebabkan kamu tadi menangis di taman?" tanya Pak Erik.


"Saya... saya... eh anu anu Pak!" sahut Lidya bingung. Dia harus bercerita dengan jujur dengan Pak Erik atau tidak.


"Em, lupakan saja Pak! Saya pikir saya hanya terlalu bawa perasaan saja," ucap Lidya akhirnya. Dirinya tidak mau bercerita jujur kalau dirinya sebenarnya mau menikah. Namun kali ini terancam gagal menikah karena calon suaminya bertemu mantannya.


"Sekarang kamu mau kemana?" tanya Pak Erik. Lidya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah! Biarkan aku yang akan mengantarkan kamu pulang. Dimana tempat tinggal kamu, biar aku mengantarkan sampai di rumah," kata Pak Erik.


"Eh, em tidak usah Pak Erik! Nanti merepotkan Pak Erik. Bagaimana kalau saya pinjam duit Pak Erik saja untuk naik taksi ke rumah. Tas dan ponsel saya tertinggal di.... eh," ucap Lidya. Benar! Tas dan ponsel serta duitnya tertinggal di butik. Pasti Teddy yang akan menyimpan nya.

__ADS_1


"Baiklah!" ucap Pak Erik lalu mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkan nya pada Lidya.


"Ini kamu ambil saja berapa pun yang kamu mau," kata Pak Erik seraya menyerahkan dompetnya. Lidya menerima dompet Pak Erik lalu menarik satu lembar uang seratus ribuan di dalam dompet itu. Dompet itu dikembalikan kepada Pak Erik.


"Terimakasih, pak Erik! Hem, besok saya akan kembalikan saat di kampus," ucap Lidya.


"Tidak perlu dikembalikan! Tapi apakah itu cukup untuk membayar taksi ke tempat tinggal kamu?" tanya Pak Erik.


"Saya rasa ini sudah lebih dari cukup, Pak Erik," sahut Lidya.


"Ya sudah! Ayo aku antar kan kamu mencari taksi di depan," ajak Pak Erik. Pak Erik segera membayar beberapa bakso dan minuman yang dia makan dan minum bersama dengan Lidya. Keduanya keluar dari warung bakso itu. Namun ketika mereka sudah berjalan cukup jauh meninggalkan warung bakso itu, Lidah serta merta ditangkap oleh dua laki-laki yang berperawakan tinggi dan kekar. Sedangkan Pak Erik tidak bisa berbuat banyak lantaran juga ditodong dengan senjata api untuk mengancam dirinya jika berusaha menggagalkan usaha menangkap Lidya.


Lidya kini sudah berada di dalam mobil orang yang baru dikenalnya itu. Di dalam mobil itu dirinya bersama tiga orang laki-laki yang baru ia kenalnya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, nona! Kami adalah anak buah Pak Teddy! Kami hanya menjalankan perintah supaya membawa nona kembali ke rumah," ucap salah satu laki-laki yang berbadan kekar itu. Mereka ternyata orang-orang suruhan Teddy. Lidya menghela nafasnya lega.


"Aku pikir, kalian akan menjual ku dan mengambil organ-organ ku," sahut Lidya. Spontan semua kaki yang berada di dalam mobil itu tertawa menertawakan keluguan Lidya.


__ADS_2