CEO PEMANJA ISTRI

CEO PEMANJA ISTRI
PERSIAPAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Saat ini Lidya di ajak oleh Teddy mencoba baju pengantin. Di sana Teddy sangat peduli dengan Lidya. Lidya menjadi sangat kikuk ketika Teddy mulai perhatian dengan dirinya. Apalagi saat Lidya sedang mencoba salah satu baju pengantin pilihan Teddy, bola mata Teddy membulat sempurna dengan perubahan yang terjadi pada Lidya.


"Kenapa? Apakah tidak cocok di badanku?" tanya Lidya saat Teddy menatap Lidya tak berkedip.


"Tidak! Kamu terlihat sangat cantik sekali!" sahut Teddy. Teddy kini mencari pengikat rambut Lidya agar leher jenjang nya terlihat dan tidak tertutup oleh rambut Lidya yang panjang terurai.


Pemandangan itu sangat terlihat romantis sekali ketika Teddy mengikat rambut milik Lidya dan ikatan rambutnya di naikkan ke atas. Leher jenjang milik Lidya terlihat sangat menggoda untuk diciumnya. Namun Teddy belum ada keberanian dalam hal itu.


Ketika tiba-tiba datang seorang wanita cantik yang sangat dikenal oleh Teddy, Teddy dengan serta merta memeluk Lidya dari belakang. Lidya dipeluk oleh Teddy dari belakang. Sontak pemandangan romantis itu dilihat oleh wanita yang baru datang menghampiri keduanya.


Wanita itu tersenyum sinis melihat kemesraan yang ditunjukkan Teddy.


"Sayang! Aku datang ke mari ingin menemui kamu. Aku pikir berita yang mengabarkan bahwa kamu akan menikah dengan seorang wanita miskin, ternyata benar-benar aku lihat. Tapi kenapa Teddy, sayang! Sekarang aku datang menemui kamu. Aku sudah sangat siap kok kalau akan menikah dengan kamu. Jadi, kembalilah dengan aku dan tinggalkan wanita itu. Kita menikah, sayang! Kita akan membangun istana cinta kita dengan memiliki banyak anak-anak," kata wanita itu. Tentu saja wanita itu sangat cantik bak bidadari. Mungkin saja kecantikan nya akan membuat Lidya minder dan jadi tidak percaya diri jika bersanding dengan Teddy.


Teddy semakin mempererat pelukan di pinggang Lidya. Lidya sangat malu dengan posisi itu.

__ADS_1


"Kak, lepas! Aku... aku malu dilihat wanita itu!" ucap Lidya lirih.


"Jangan malu, sayang! Sebentar lagi kita akan menikah," sahut Teddy sambil mengecup leher jenjang Lidya. Lidya benar-benar menjadi menegang. Aliran darahnya tiba-tiba panas. Sedangkan wanita itu hanya mendengus dengan sangat kesal.


"Teddy sayang! Aku ingin bicara dengan kamu!" ucap wanita itu sambil menarik tangan Teddy hingga membuat pelukan Teddy lepas pada Lidya. Lidya sangat terkejut dengan sikap kasarnya terhadap Teddy. Wanita itu sangat cemburu melihat adegan romantis yang sengaja ditunjukkan oleh Teddy.


"Sicilia! Apa-apaan kamu? Kita sudah putus sejak kamu dengan seenaknya menggagalkan pernikahan kita. Sejak saat itu aku sudah sangat sakit hati dengan kamu, Sisilia. Kamu rela pergi dan menggagalkan pernikahan kita hanya demi karir kamu. Dan sekarang kamu datang tiba-tiba ingin meminta kembali dengan aku dan meminta pasangan pengantin ku untuk diganti dengan kamu? Apakah kamu tidak memiliki hati, hem?" kata Teddy panjang lebar. Lidya menganga mulutnya.


"Ternyata dia Sicilia, calon istri kak Teddy dulu. Sebenarnya mereka saling mencintai, sedangkan aku hanya pengganti untuk membalaskan sakit hati kak Teddy terhadap Sicilia itu. Bahkan wanita itu sangat cantik sekali. Kecantikan nya jauh sekali dari aku," pikir Lidya. Di saat bersamaan Lidya harus menyaksikan Teddy dan Sicilia sedang beradu mulut. Dari sorot kedua mata mereka sebenarnya masing-masing sama memiliki rasa suka. Namun entah apa yang membuat Teddy tidak mau menerima kembali Sicilia dalam hidup nya. Apalagi untuk menikah dan menjadi istrinya.


"Siapa wanita cantik yang ribut-ribut dengan kekasih anda itu, nona?" tanya pelayan di butik itu yang super kepo habis. Lidya bingung harus menjawab apa. Akhirnya Lidya menjawab dengan asal.


"Wanita itu? Dia sangat terobsesi dengan calon suami saya, kak! Jadi sebenarnya dia tidak rela jika kekasih saya itu akan menikah dengan saya," jawab Lidya dengan tenang. Namun ikut terbakar cemburu ketika melihat Teddy bertemu dengan mantan kekasihnya.


"Oh, tapi wanita itu terlihat sangat familiar. Apa dia bintang di televisi yah? Atau jangan-jangan artis yah? Wajahnya sangat mirip dengan Sicilia sang model yang terkenal itu dan sekarang ini telah membintangi banyak film dan juga sinetron," kata pelayan itu. Lidya menyipitkan matanya mendengarkan ucapan dari pelayan butik itu.

__ADS_1


"Benar! Sicilia sangat cantik sekali. Dia juga sangat pantas jika harus bersanding dengan Teddy. Bukan aku," pikir Lidya.


Lidya segera keluar dari tempat itu melewati Teddy dan Sicilia yang masih berdua di ruangan itu. Teddy yang melihat Lidya berlari meninggalkan tempat itu segera mengejar Lidya.


"Lidya! Tunggu!" teriak Teddy. Namun lengan Teddy dengan cepat ditahan oleh Sicilia.


"Jangan pergi Teddy! Aku masih ingin berbicara dengan kamu, sayang!" ucap Sicilia dengan manja.


Lidya masih berlari sekuat tenaga. Kini Lidya menengok ke belakang dan tidak didapatkan sosok Teddy mengejar dirinya. Tangis Lidya kini pecah. Lidya sangat sakit hati, dan dalam pikirannya ternyata Teddy masih mencintai Sicilia dan akhirnya memilih Sicilia. Mungkin saja pernikahannya dengan Teddy akan digantikan dengan Sicilia. Walaupun pada awalnya dirinya menikah dengan Teddy adalah lantaran kesepakatan dan perjanjian saja. Bukan berawal karena Teddy dan dirinya saling cinta dan merupakan pasangan kekasih. Tujuannya hanya ingin membuat sakit hati Sicilia saja. Namun ketika Sicilia benar-benar datang dan menemui Teddy serta merta meminta kembali dengan nya, apakah Teddy sanggup menolak Sicilia. Jika dalam kenyataannya Teddy masih mencintai Sicilia. Buktinya saat Teddy mabok, nama yang disebut nya adalah Sicilia.


"Jangan menangis! Hapus air mata kamu!" kata seseorang sambil memberikan sapu tangannya. Lidya saat ini duduk di taman. Dia sudah lelah berlari meninggalkan Teddy di butik itu.


"Pak Erik?" sahut Lidya sangat terkejut. Dosen idola Rere saat ini ada di taman kota. Bahkan kini telah memberikan sapu tangan nya kepada Lidya. Pak Erik tersenyum lebar.


"Iya, aku Erik! Ayo ikutlah dengan aku! Lebih baik kita makan bakso di sana daripada kamu menangis di sini tidak jelas sama sekali," kata pak Erik sambil menarik tangan Lidya dari tempat duduk di taman itu.

__ADS_1


__ADS_2