
Pak Erik membawa Rere ke tempat tinggalnya. Pak Erik langsung mengenalkan Rere pada mama nya yang sudah tidak lagi muda. Mama nya Pak Erik adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Benar! Pak Erik adalah anak yatim yang papa nya meninggal saat dirinya berusia dua belas tahun. Saat itu Pak Erik duduk di bangku sekolah dasar kelas enam. Kehidupan keluarga Pak Erik terbilang sederhana. Setelah papa Erik meninggal dunia, mama Erik tidak pernah menikah dan tetap setia dengan papa nya Erik yang sudah meninggal.
Dengan gaji pensiun janda dari papanya Erik itulah, mama nya Erik bisa menghidupi Erik dengan satu adiknya. Adiknya Erik seorang wanita. Ini sama persis dengan Teddy dengan Rere yang mama papa nya hanya memiliki dua anak yaitu laki-laki dan perempuan.
Mama Pak Erik berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Janda yang terbilang masih segar jika mau menikah kembali. Namun mama Erik ini enggan untuk menikah lagi setelah suaminya meninggal.
Erik memperkenalkan Rere kepada mama nya yang bernama, Lilis. Mama Lilis menyambut hangat perkenalan dengan Rere. Di ruangan makan itu mama Lilis menyiapkan puding coklat dengan vla nya untuk putra nya dan Rere.
"Ayo dicicipi puding buatan mama! Walaupun tidak seenak puding di toko kue itu, tapi ini pakai gula asli loh," ucap mama Lilis yang menyodorkan dua piring kecil itu masing-masing buat Erik dan Rere. Rere mulai mencicipi puding buatan mama Lilis, mama nya Erik, pacar barunya.
__ADS_1
"Ini sangat enak sekali, tante!" ucap Rere. Erik melebar matanya mendengar Rere memanggil mama nya dengan tante.
"Rere, kamu bisa memanggil mama ku dengan sebutan mama, seperti aku. Sebagai calon menantu biasakan memanggil mama saja. Jangan memanggil tante. Memangnya mama ku tante girang?" protes Erik.
"Eh, maaf tante! Eh mama!" sahut Rere kini ada malu dan juga takut. Takut jika dirinya selalu salah jika bersikap. Dan itu mungkin akan diprotes langsung oleh Erik.
"Rere, Erik benar! Panggil aku mama saja yah! Kamu akan mama anggap sebagai anak mama juga," sahut mama Lilis. Rere semakin bahagia mendengarnya. Keberadaan nya di keluarga Pak Erik seperti disambut tangan terbuka dan mama Erik sangat menyukai Rere.
"Erik, kamu jangan terlalu banyak menuntut Rere dong! Pelan-pelan saja, nak! Rere adalah putri dari keluarga konglomerat dan sudah pasti jarang masak atau bahkan hampir tidak pernah memegang peralatan memasak. Kamu harus memahami dan ngerti soal ini dong, Erik," ucap mama Lilis.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, mama! Mulai sekarang aku akan belajar memasak," sahut Rere.
"Nah begitu dong! Kalau kamu ingin aku menyukai dan menyayangi kamu, bikin aku jatuh cinta dengan kamu dong!" kata Erik akhirnya. Mama Lilis menyipitkan matanya.
"Hem, Erik!" sahut Mama Lilis kurang suka.
"Tidak apa-apa, mama! Aku menyukai Kak Erik dan kak Erik belum menyukai aku, ma!" ujar Rere akhirnya. Mama Lilis kini melihat Erik dan Rere secara bergantian.
"Ayo kita ke kamarku!" ajak Erik sambil menarik tangan Rere menuju kamar Erik.
__ADS_1
"Eh, mau ngapain kak?" tanya Rere.
"Memangnya mau ngapain? Aku hanya ingin mengajari kamu bagaimana nanti menjadi istri yang baik itu seperti apa secara teorinya. Dan aku juga gak mau lama-lama berpacaran. Kita harus segera menikah secepatnya, minimal satu tahun lagi," terang Pak Erik. Mama Lilis yang mendengar Erik seperti itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Bagi mama Lilis, selagi Rere tidak merasa terpaksa untuk dirubah lebih baik dari Erik, tidak menjadi masalah. Namun jika Rere terpaksa mengikuti kehendak Erik, itu yang nantinya akan menimbulkan masalah dan pada akhirnya hubungan diantara Erik dengan Rere akan putus ditengah jalan. Dan tidak lagi ke jenjang pernikahan.