CEO PEMANJA ISTRI

CEO PEMANJA ISTRI
RERE MENJELASKAN


__ADS_3

Rere menaiki anak tangga menuju ke kamar kakaknya. Dengan membawa troli yang di atasnya makanan beserta minuman, Rere mendorong troli makanan itu menuju kamar Teddy. Rere mengetuk pintu kamar Teddy dengan keras namun tanpa memanggil nama kakaknya.


Tok.


Tok.


Tok.


Teddy membukakan pintu kamarnya, dilihat nya adik kesayangan nya tersenyum lebar ke arahnya. Lidya segera menghambur mendekati Rere lalu memeluknya.


"Rere! Kamu datang kemari yah? Bagaimana kabar pak dosen muda itu?" ucap Lidya. Rere tersenyum lebar. Sedangkan Teddy melebar matanya mendengar Lidya menanyakan dosen muda itu. Bahkan di depannya, Lidya berani bertanya soal dosen muda itu kepada adiknya, Rere.


Rere masuk ke dalam kamar Teddy sambil mendorong troli makanan dan minuman itu. Lidya kini duduk di pinggiran tempat tidur. Sedangkan Rere tersenyum melihat kakaknya yang saat ini mulai cemburu dengan kesalahpahaman yang terjadi.


"Kak Teddy, aku boleh makan kan?" ucap Lidya yang tidak memperdulikan wajah Teddy yang masih mode cemburu dan marah dengan Lidya.

__ADS_1


"Ya sudah, kami makan dulu, Lidya! Eh kakak ipar!" sahut Rere. Lidya dengan cuek mulai menikmati hidangan yang sudah disiapkan untuk dirinya.


Teddy duduk di balkon kamar itu, setelah Rere duduk di sana.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Pasti kamu juga mengetahui bahwa Lidya tadi sudah berkencan dengan dosen muda itu kan?" tuduh Teddy. Rere tersenyum cekikikan.


"Kakak Teddy! Apakah kak Teddy sudah mulai cemburu dengan Lidya yah? Wah, aku tidak menyangka kalau kakak Teddy benar-benar mencintai Lidya," sahut Rere. Teddy memalingkan mukanya.


Sedangkan di dalam kamar, Lidya masih asik menyantap makanan nya. Lidya tidak perduli kalau saat ini Teddy masih marah dan cemburu dengan dosen muda itu.


"Hem, dasar wanita genit!" umpat Teddy. Rere tersenyum saja mendengar kakaknya mengumpat.


"Lidya hanya ingin mendekatkan aku dengan dosen muda itu. Dan kamu tahu kak Teddy? Gara-gara Lidya, akhirnya aku dengan dosen muda itu jadian dan kami sekarang sudah berpacaran," terang Rere. Teddy kini bernafas lega mendengar cerita dari Rere, adiknya.


"Jadi, kamu lah biang kerok semua ini? Lidya seperti wanita murahan menarik-narik dosen muda itu ke parkiran dan dibawa masuk ke dalam mobil. Kalian seperti sudah menculik dosen muda itu," kata Teddy.

__ADS_1


"Maaf, kak Teddy! Tapi sekarang semua nya sudah jelas kan? Dosen muda itu namanya kak Erik. Dia sekarang sudah menjadi pacar aku, kak," terang Rere.


Teddy segera melangkah masuk ke dalam kamar lalu mendekat Lidya. Teddy duduk di dekat Lidya yang masih menikmati makanan nya.


"Mau tambah lagi makannya?" ucap Teddy kini sudah mulai adem bahasa nya. Lidya melongo saja melihat perubahan wajah Teddy yang kini adem mendekati dirinya.


"Tidak, kak Teddy! Ini sudah bikin aku kenyang!" sahut Lidya. Namun Teddy mengambil puding rasa mangga lalu mulai menyuapi ke dalam mulut Lidya.


"Kakak Teddy! Aku sudah sangat kenyang! Nanti saja makan puding nya," ucap Lidya. Teddy mulai memaksa.


"Ayo kamu harus mencoba ini, ini sangat enak loh sayang!" ucap Teddy yang kini mulai mengucapkan kata sayang. Lidya melongo tidak percaya. Lidya mulai membuka mulutnya menerima suapan puding dari Teddy.


"Enak kan?" tanya Teddy dengan senyuman nya yang manis. Lidya menganggukkan kepalanya.


"Hem, ayo kamu bersiap lah! Setelah ini kita keluar! Aku akan mengajak kamu ke tempat yang indah dan romantis," ucap Teddy kepada Lidya. Lidya bingung dengan perubahan sikap Teddy yang kembali penuh perhatian dan lembut.

__ADS_1


__ADS_2