CEO PEMANJA ISTRI

CEO PEMANJA ISTRI
MENDATANGI IBU LIDYA


__ADS_3

Sampai lah mereka di rumah Lidya. Syarif dan Tedy sudah duduk di kursi kayu yang sudah usang. Rumah yang bagaikan gudang di rumah mereka. Mungkin kalau dibandingkan dengan gudang di istana Teddy, lebih bagus gudang milik mereka yang masih luas dan bersih. Rumah ini begitu kecil dan perabotan nya sudah tidak layak pakai.


Teddy menarik nafasnya pelan menyaksikan kehidupan Lidya bersama ibunya yang terbaring sakit di tikar yang koyak. Terlihat Sarif duduk mendekati ibu Lidya yang terbaring itu. Di samping nya Lidya sedang menyuapi puding yang tadi dibawa oleh Teddy hasil belanja di supermarket.


Senyum ibu Lidya terlihat mengembang dengan kedatangan Sarif dan juga Tedy. Baginya Lidya yang dari keluarga miskin itu masih memiliki teman yang tulus dan mau singgah di rumah sempit nya.


Setelah memberikan puding itu, kini Lidya memberikan obat kepada ibunya. Sarif masih memperhatikan nya dengan penuh iba dan kasih. Tidak ada rasa jijik atau merendahkan dari tatapan Sarif kepada ibu Lidya. Teddy pun cukup dibuat terpana atas ketulusan adiknya terhadap perhatian ibu Lidya.


Tidak berapa lama, ibu Lidya kembali dengan tidurnya. Mungkin saja pengaruh obat yang diberikan Lidya menyebabkan rasa kantuk itu. Kini Lidya duduk dekat Teddy diikuti oleh Sarif.


" Kini giliran kamu yang harus makan, Lidya! Kamu harus selalu sehat demi ibu kamu." kata Sarif penuh perhatian sambil memberikan makanan yang tadi dia bawakan juga.

__ADS_1


@@@@@@@


Masih di rumah sempit dan kumuh tempat tinggal Lidya bersama dengan ibu nya. Teddy dan Sarif masih menunggu sampai ibu Lidya terbangun. Lidya sudah membawa barang-barangnya untuk dibawa ke rumah Teddy. Teddy memperhatikan Lidya yang sedari tadi mengemasi barangnya ke dalam kardus besar dan juga koper besarnya.


"Tidak perlu bawa barang-barang rongsokan seperti itu, Lidya! Buang saja itu semua! Nanti beli lagi yang baru," ucap Teddy dengan sombongnya. Lidya masih keras kepala ingin membawa barang-barang nya.


Tidak lama kemudian ibu Lidya memanggil nama Lidya. Kini Teddy bergegas mendekati ibu Lidya. Lidya pun ikut duduk di sebelah nya.


"Kenapa harus pindah? Ibu di sini sudah lebih tenang dan nyaman kok, nak?" sahut ibu Lidya.


"Tidak ibu! Saya akan membawa ibu dan Lidya ke rumah tinggal saya. Karena saya akan menikah dengan Lidya. Jadi ijin saya untuk menikahi Lidya," ucap Teddy. Kini Teddy melihat ke arah Lidya supaya Lidya ikut berkata dan mempengaruhi ibu Lidya supaya mau diajak nya pindah ke rumah tinggal Teddy.

__ADS_1


"Ibu! Pak Teddy akan menikahi saya, saya mohon doa dan restu ibu," sahut Lidya. Ibu Lidya tersenyum lebar.


"Benarkah? Kamu akan menikah dengan laki-laki ganteng dan baik ini?" tanya ibu Lidya. Sarif yang mendengar pujian dari ibu Lidya mengenai Teddy hanya tersenyum saja. Teddy semakin besar kepala dibilang ganteng dan baik.


"Benar, ibu! Saya akan menikahi Lidya dan akan membahagiakan Ibu dan Lidya," sahut Teddy penuh semangat.


"Tapi, ibu ingin tetap tinggal di sini saja nak! Ibu akan merestui kalian semoga pernikahan kalian langgeng sampai hayat memisahkan," kata ibu Lidya.


"Tapi ibu! Tolong ikutlah dengan kami ibu! Bagaimana bisa Lidya jauh dengan ibu, jika kondisi ibu masih seperti ini," sahut Teddy berusaha membujuk ibu Lidya.


"Iya, ibu! Aku mohon! Ikutlah dengan kami, ibu!" kata Lidya kini mulai terisak. Kalau sudah seperti ini mana tega ibu Lidya untuk tidak menuruti nya. Daru kecil Lidya hidup enak dan tidak pernah kesusahan. Namun beberapa tahun ini karena bangkrut dan ayah Lidya meninggal, akhirnya kehidupan Lidya beserta ibunya berubah sebatang kara. Namun kini setelah bertemu dengan Teddy, kini kehidupan Lidya akan berubah kembali. Walaupun dengan perjanjian kontrak itu. Namun itu segala kebutuhan Lidya beserta ibu nya akan terjamin. Ibu Lidya akan segera mendapatkan perawatan kesehatan supaya kondisi kesehatan nya semakin membaik dan pulih sedia kala.

__ADS_1


__ADS_2