
Lidya menuju parkiran. Dia segera mencari mobil Teddy berada. Ketika sudah mendapati mobil Teddy sudah terparkir di sana, Lidya segera masuk ke dalam mobil itu. Ternyata di dalam ada Teddy di belakang.
"Eh, kak Teddy! Saya kira tidak ikut dan masih di kantor," ucap Lidya tanpa dosa. Tanpa ekspresi Teddy segera menyuruh sopirnya melaju meninggalkan kafe itu.
"Setelah sampai di rumah, kau harus menjelaskan soal ini. Dengan siapa kamu makan dan berkencan di tempat ini," bisik Teddy seraya mendekati ke tempat duduk Lidya. Lidya seketika panas dingin dengan nafas Teddy yang sangat dekat di telinga nya bahkan aroma tembakau itu sangat menusuk hidungnya.
Sementara di kafe, Pak Erik dengan Rere tiba-tiba merasa kikuk dengan keadaan saat ini. Di saung itu mereka duduk berhadapan dan tinggal mereka berdua yang berada di tempat itu. Hanya sesekali menunduk, lalu mencuri pandang, lalu pura-pura makan menghabiskan makanan atau mengaduk minuman di gelasnya masing-masing. Sampai akhirnya kedua mata mereka saling pandang dan seolah-olah terkena sengatan listrik keduanya. Cukup lama beradu seperti lomba lama-lamaan tidak berkedip matanya. Sampai akhirnya mereka tersenyum dan Pak Erik pun menggeser tempat duduknya mendekati Rere. Rere semakin berdebar-debar jantung nya. Pak Erik begitu dekat dengan dirinya. Parfum baju nya pun tercium jelas di hidung Rere. Demikian juga parfum yang dipakai Rere cukup membuat Pak Erik terpaku di dekat Rere. Seutas senyuman itu kembali tersungging diantara keduanya. Lalu Pak Erik merapikan rambut Rere dan menyelipkan nya di belakang telinga Rere. Itu sudah langkah modus pertama memberikan perhatian pada Rere.
"Em, kamu menyukai aku, yah?" tuduh Pak Erik spontan membuat Rere tidak mampu berbohong. Kenapa laki-laki ini sangat menjaga harga dirinya di depan Rere. Jika sama-sama menyukai Rere kenapa harus menyudutkan Rere seperti itu. Rere masih menunduk malu.
__ADS_1
"Kata Lidya kamu lah yang meminta nomer WA ku? Kamu ingin mengenal aku lebih jauh yah? Memperhatikan aku, mengingatkan aku sudah makan atau belum, sudah mandi atau belum, lalu mengajak jalan bersama. Benar begitu?" desak Pak Erik. Rere benar-benar seperti diintimidasi.
"Eh? Em, maaf kalau Pak Erik merasa itu sangat mengganggu kehidupan Pak Erik," sahut Rere kini segera bangkit berdiri menjauh dari Pak Erik. Namun Pak Erik menahannya. Tangan Lidya diraihnya dengan cepat.
"Kemana Rere! Kamu belum menjawab pertanyaan aku? Hem, jawablah! Aku ingin mendengar semuanya dari mulut kamu sendiri," ucap Pak Erik. Rere sudah mulai berkaca-kaca ketika Pak Erik mulai mendesak kalau Rere menyukai Pak Erik.
"Aku, aku.. eh em apakah itu masih penting buat Pak Erik? Bukannya Pak Erik tidak menyukai aku? Untuk apa Pak Erik ingin mendengar pernyataan suka semuanya dari aku?" sahut Rere dengan suara bergetar. Pak Erik melihat wajah Rere dari dekat, sangat dekat hingga kedua nafas mereka yang hangat saling beradu. Mata Rere kembali menatap bola mata Pak Erik yang masih mengintimidasi dirinya.
Pak Erik mengusap kepada Rere dengan lembut. Lalu mulai mengusap air mata yang jatuh di kedua sudut mata Rere.
__ADS_1
"Oke, terimakasih kamu sudah menyukai aku, Rere! Aku juga masih jomblo kok, dan belum memiliki pacar atau bahkan calon istri. Kalau begitu aku akan menerima kamu sebagai pacarku. Bagaimana? Berusahalah membuat aku jatuh cinta dengan kamu," ujar Pak Erik. Rere menatap lekat wajah Pak Erik. Pak Erik tersenyum lebar saat bola mata belok milik Rere menatap dirinya.
"Maaf, Rere jika aku belum merasakan jatuh cinta dengan kamu. Tapi aku Terima kamu sebagai pacar aku kok. Sekarang buktikan kalau kamu menyukai aku dan bikin aku jatuh cinta dengan kamu. Bagaimana? Apakah kamu mau?" tantang Pak Erik. Rere dengan berani menghambur memeluk Pak Erik. Pak Erik tiba-tiba merasakan jantung nya berdebar hebat. Apalagi bagian dada milik Rere menempel hangat ke tubuh nya.
"Terimakasih pak Erik. Jadi kita mulai hari ini sudah sah berpacaran dan jadian?" tanya Rere. Pak Erik mengangguk cepat.
"Iya, hem kamu bisa lepaskan pelukan kamu, Rere! Aku tiba-tiba merasakan aneh di bagian bawah sana jika kamu memeluk aku erat seperti ini," kata Pak Erik. Rere menjaga jaraknya dan melepaskan pelukan nya. Benar sesuatu dibawah sana memberontak, milik Pak Erik.
"Sekarang, bolehkah aku memanggil Pak Erik dengan panggilan kak Erik?" tawar Rere. Pak Erik tersenyum mendengar semuanya.
__ADS_1
"Boleh! Tapi saat di kampus kamu jangan menyebutkan ku seperti itu yah! Dan satu lagi, soal hubungan berpacaran ini, usahakan saat berada di dalam kampus, Anak-anak mahasiswa yang lain jangan sampai mengetahui nya. Untuk sementara waktu, kita jangan mempublikasikan hal ini. Oke?" kata Pak Erik. Rere kembali menghambur memeluk Pak Erik. Kembali Pak Erik merasakan sesuatu yang aneh kembali ia rasakan.
"Aduh, lama-lama aku tidak bisa menahan iman aku kalau berdekatan dengan Rere," batin Pak Erik.