
Teddy membawa Lidya keluar rumah. Lidya kini terlihat cantik dengan dandanan nya. Rere lah yang menyulap penampilan Lidya semakin terlihat berkelas dan sangat elegan. Sepanjang perjalanan itu, Teddy selalu mencuri pandang dengan Lidya. Entah kenapa semakin hari Teddy mulai melupakan Sicilia dan hatinya mulai berdetak aneh ketika berdekatan dengan Lidya. Teddy seperti sudah sangat tergantung dan terbiasa dengan Lidya.
Setiap hari bertemu dengan Lidya semakin menumbuhkan benih-benih rasa aneh dalam diri Teddy. Berawal dari setiap malam memberikan pijatan rileks supaya Teddy bisa tertidur, membuat Teddy semakin terbiasa dengan sentuhan tangan Lidya yang mengantarkan dirinya bisa beristirahat di alam mimpi nya. Padahal kini Sicilia sudah tiba kembali ke negara ini dan mulai mendekati Teddy kembali. Namun ketika bertemu dengan Sicilia di butik waktu lalu, saat fighting baju pengantin bersama dengan Lidya, Teddy seperti sudah merasakan perbedaan dengan Sicilia. Teddy mulai merasakan dan mengakui kalau Lidya adalah wanita spesial yang sudah mulai mengganggu pikiran dan nangkring di hatinya.
"Kak Teddy, kita mau kemana?" tanya Lidya sambil menatap Teddy yang saat ini menyetir mobilnya sendiri. Kali ini Teddy tidak mengajak sopir pribadi maupun asisten pribadinya. Dia ingin berdua saja dengan Lidya ke tempat indah dan romantis.
"Sebentar lagi, kamu akan mengetahuinya, Lidya! Semoga saja kamu menyukai tempat ini. Aku telah menyiapkan semua ini untuk kita nikmati bersama," ucap Teddy.
"Hem, apakah kamu juga akan mengungkapkan perasaan cinta kamu kepada ku? Seperti Rere yang mengungkapkan perasaan nya kepada Pak Erik? Hem, mereka akhirnya jadian juga. Aku ikut senang mendengar cerita Rere. Tapi pasti ini berbeda dengan kita kan kak? Aku dengan kak Teddy hanya main-main saja kan? Kita tidak benar-benar pasangan kekasih. Kita hanya berpura-pura seperti pasangan kekasih karena kak Teddy ingin menunjukkan kepada non Sicilia bahwa kak Teddy bisa bahagia dan menikah bukan dengan non Sicilia," ucap Lidya. Teddy terkejut dengan ucapan Lidya.
"Seharusnya kak Teddy jujur dan tidak perlu gengsi. Jika kak Teddy masih menyukai non Sicilia, seharusnya kak Teddy menikah dengan non Sicilia. Bukan dengan aku, kak! Jangan sampai kak Teddy menyesal ketika menikah dengan aku. Pada akhirnya Sicilia akan menjauh dan kabur lagi meninggalkan kak Teddy," ucap Lidya panjang lebar.
"Kamu mau dan siap jika perjanjian kontrak itu kita batalkan? Dan aku akan mengganti pengantin wanita nya dengan Sicilia, bukan dengan kamu?" sahut Teddy. Lidya melihat ke arah Teddy.
__ADS_1
"Iya, ini lebih baik bukan? Pernikahan itu bukan lah permainan. Dan seharusnya cinta itu memang diperjuangkan. Bukan mengikuti ego saja," ucap Lidya. Teddy segera menepikan mobilnya dan menghendaki mobilnya dipinggir jalan.
"Apakah kamu siap untuk digantikan oleh Sicilia? Apakah kamu benar-benar tidak akan sakit hati dan bersedih jika aku akan kembali kepada Sicilia dan menikah dengan nya?" ucap Teddy seraya menggeser duduknya lebih dekat dengan Lidya. Kali ini Teddy mencondongkan badan nya mendekati wajah Lidya. Matanya beradu dengan mata Lidya. Lidya sesaat menahan nafasnya.
"Kak Teddy! Aku... aku akan bahagia kalau kak Teddy bahagia bersama dengan non Sicilia. Sungguh!" ucap Lidya kini seketika menjadi sangat gugup. Teddy mengangkat dagu Lidya dengan jarinya. Wajah Lidya mendongak menatap wajah Teddy.
"Kak Teddy!" ucap Lidya pelan. Jantung Lidya seperti hendak lepas karena detak jantungnya berirama semakin kuat.
"Kebahagiaan aku saat ini jika melihat kamu bisa ceria dan tersenyum, Lidya! Aku tidak akan merubah keputusan ku untuk menikah dengan kamu. Aku sudah berjanji dengan ibu kamu untuk membahagiakan kamu bersama dengan ibu kamu. Dan soal perjanjian kontrak itu, anggap saja sudah tidak berlaku lagi. Karena aku tidak akan bermain-main dengan pernikahan ini. Aku serius ingin menikahi kamu. Karena aku sudah terbiasa dengan kamu," kata Teddy. Lidya melongo mendengar pengakuan Teddy.
"Apakah harus aku ungkapkan semua itu, Lidya?" tanya Teddy.
"Iya, aku ingin mendengar nya," ucap Lidya pelan. Namun serta merta Teddy hanya mengecup bibir Lidya yang merah delima. Lidya semakin terkejut dibuatnya. Bibir itu sangat dingin dan basah.
__ADS_1
"Kak Teddy!" ucap Lidya sambil mendorong dada Teddy supaya menjauh darinya.
Teddy membenarkan duduknya dan kembali menjalankan mobilnya. Sedangkan Lidya mengalihkan pandangannya ke samping jalanan. Mobil itu kembali membelah jalanan menuju tempat yang hendak dituju oleh Teddy.
🍀🍀🍀🍀🍀
Mobil Teddy kini masuk di suatu parkiran khusus halaman di villa yang indah. Teddy membawa Lidya ke atas puncak villa dengan pemandangan yang sangat indah. Kelap-kelip lampu jalanan terlihat indah dari atas puncak villa itu.
"Wow, ini sangat bagus sekali kak Teddy! Pemandangan dari atas sini sungguh luar biasa. Dan ini, apakah semua ini kak Teddy yang menyiapkan?" ucap Lidya yang terlihat senang melihat pemandangan dari atas puncak bukit villa.
"Apakah kamu menyukai nya?" tanya Teddy kini mulai mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Kotak merah itu berisi kalung berlian. Teddy segera memasangkan ke leher Lidya.
__ADS_1
"Kamu terlihat sangat manis dan bersinar dengan mengenakan kalung ini, Lidya!" kata Teddy. Teddy kini dengan berani memeluk pinggang Lidya dari arah belakang. Lidya benar-benar terkejut dengan sikap Teddy yang seperti menganggap dirinya sebagai kekasihnya.
"Aku menyukai kamu, Lidya! Dan aku akan tetap menikah dengan kamu. Jangan lagi berpikir kalau pernikahan kita hanyalah mainan saja," bisik Teddy di samping telinga Lidya. Lidya terkesima dan benar-benar bahagia mendengar nya.