CEO PEMANJA ISTRI

CEO PEMANJA ISTRI
PAK ERIK


__ADS_3

Pagi ini ada mata kuliah dari Pak Erik. Rere sangat bersemangat berangkat ke kampus lebih awal. Namun sudah hampir siang dan waktu telah mendekati masuk kuliah, Lidya belum juga tiba ke kampus. Rere mulai menghubungi Lidya, di mana dia saat ini. Namun sebelum Rere menghubungi Lidya, orang yang di carinya telah tiba. Rere melihat Lidya turun dari mobil sport milik kakaknya yaitu kak Teddy.


"Lidya!" panggil Rere sambil menghambur menuju Lidya yang kini baru saja turun dari mobil sport milik kakak Rere itu. Rere menundukkan kepala dan ingin menggoda kakaknya yang sudah berani mengantar Lidya ke kampus. Namun Rere salah tebak ternyata yang menyetir mobil sport milik kak Teddy adalah asisten kakaknya yaitu pak Sarif.


"Halo non Rere!" sapa pak Sarif sambil tersenyum ramah.


"Ha.. halo Pak Sarif! Aku pikir, kakak Tedy yang mengantarkan Lidya ke kampus," ucap Rere dengan nada kecewa.


"Tuan muda Teddy masih tidur! Semalam kerjaan kantor dibawa pulang ke apartemen dan hingga larut malam baru dipijat oleh Lidya. Kalau tidak tuan muda Teddy mana bisa tidur," cerita Pak Sarif.


"Jadi Lidya semalam tidur di apartemen kakak?" sahut Rere.

__ADS_1


"Begitulah! Makanya saya yang mengantarkan non Lidya ke kampus," ucap Pak Sarif.


"Oh, begitu yah!" sahut Rere.


"Sudah belum menginterogasi Pak Sarif? Ayo dosen idola kamu sudah masuk ke dalam kelas tuh!" ujar Lidya sambil menarik tangan Rere menuju ke kelas.


"Pak Sarif, salam buat kakak yah!" teriak Rere sambil melambaikan tangannya. Pak Sarif tersenyum melihat dua gadis belia yang saat ini masuk ke ruangan kelas untuk mengikuti mata kuliah.


Sepanjang Pak Erik menyampaikan materi kuliah, Rere menatap ke wajah tampan Pak Erik tanpa berkedip. Rere mulai mengkhayal jika dirinya bisa menjadi istri dari Pak Erik pasti dirinya akan bahagia. Itu pikiran dari Rere. Sampai materi kuliah selesai Rere masih terpaku menatap Pak Erik dengan pandangan terpesona.


"Rere! Sepertinya setelah ini kamu harus periksa ke dokter jiwa. Kamu belajar psikologi namun otak kamu sudah setengah gila lantaran tergila-gila dengan Pak Erik," ucap Lidya.

__ADS_1


"Kenapa ada laki-laki seganteng dan se cool Pak Erik, Selain ramah, pintar dia juga seperti nya sangat penyayang. Lidya, tolong dong mintakan nomor WA nya Pak dosen itu," kata Rere.


"Aduh, sepertinya kamu benar-benar kena pelet dari dosen muda itu deh!" sahut Lidya.


"Tolong aku, Lidya!" rengek Rere.


"Kenapa tidak kamu sendiri sih?" sahut Lidya.


"Lidya, tolong yah! Bagaimana kalau aku kasih hadiah buat kamu jika berhasil mendapatkan nomor WA Pak Erik, kamu akan aku belikan motor, supaya kamu bisa ke kampus naik motor sendiri dan tidak naik taksi atau naik angkutan kota," ucap Rere. Lidya seketika berbinar bola matanya.


"Eh, yang benar kamu? Hanya meminta nomer WA nya Pak Erik saja kan? Kamu tidak minta pijat seperti kakak kamu yang manja itu kan?" ucap Lidya.

__ADS_1


"Iya, bener! Kamu mau kan minta nomer WA nya Pak Erik?" tanya Rere kembali bertanya kembali.


"Oke! Kamu tunggu di sini yah! Aku akan menemui Pak Erik di ruangan nya," kata Lidya. Rere berbinar matanya karena senang akan mendapatkan nomer WA Pak Erik.


__ADS_2