
Lidya! Lidya! Eh, malah lari loh! Apa yang salah dari ucapan aku sih?" kata Pak Erik sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lidya berlari secepatnya meninggalkan kampus itu. Air matanya tumpah saat dinilai Pak Erik sebagai wanita tuna susila.
"Mulut nya Pak Erik benar-benar tidak bisa dikondisikan. Mulut nya tidak pernah merasakan panasnya setrika," omel Lidya sambil menyeka air matanya dengan kasar.
Lidya kini segera berlari menuju pangkalan ojek. Lidya harus segera tiba ke apartemen Teddy lebih awal. Pekerjaan nya yang baru sebagai tukang pijat khusus tuan muda tajir itu harus segera ditunaikan. Pak Teddy sudah membantu Lidya dan keluarga nya dari jeratan hutang dan juga membantu pengobatan ibu Lidya. Kini masalah di keluarga Lidya sudah beres. Kini Lidya tinggal membantu memenuhi segala kebutuhan keluarganya dan juga biaya kuliah Lidya sendiri.
"Di apartemen pusat kota pak!" kata Lidya kepada tukang ojek. Tukang ojek itu memberikan satu buah helmnya kepada Lidya. Kini motor buntut milik tukang ojek itu sudah meluncur ke alamat yang diminta oleh Lidya. Lidya berpegangan di kedua bahu milik tukang ojek itu.
Sementara di apartemen, kini Teddy masih Berkutat di depan laptopnya. Datanglah pak Sarif mengetuk pintu apartemen nya.
"Ada apa pak Sarif? Apakah Lidya sudah tiba?" tanya Teddy.
__ADS_1
"Belum pak Teddy! Katanya baru perjalanan menuju ke apartemen," jawab pak Sarif.
"Oh, ya sudah! Nanti kalau Lidya datang suruh masuk saja ke kamarku," pesan Teddy lalu menutup laptopnya dan bergegas melangkah menuju kamarnya.
"Tapi pak Teddy!" sahut Pak Sarif.
"Ada apa, pak Sarif?" tanya Teddy.
"Hem, saya ijin pulang dulu, pak Teddy! Besok pagi, saya akan tiba lebih pagi untuk keberangkatan kita ke luar negeri," kata Pak Sarif meminta ijin. Teddy mengerutkan dahinya. Lalu segera tersenyum dan bisa membaca pikiran Pak Sarif.
"Ya sudah! Ini bonus kamu! Jangan lupa pakai pengaman yah! Di mana kamu mau berkencan dengan Melisa, pak Sarif?" ucap Teddy sambil mengeluarkan isi dompet nya di dalam tas kecilnya. Teddy mengeluarkan lembaran uang kertas merah dan diberikannya kepada pak Sarif.
"Wah terimakasih banyak, pak Teddy! Melisa mengajak kencan di villa pribadi nya," ucap Pak Sarif.
__ADS_1
"Gratisan yah?" sahut Teddy meledek.
"Hahaha, tapi saya harus mengajaknya makan malam romantis dulu bersama Melisa. Ini akan membuat seorang wanita melunak dan akan memberikan kita lebih dari semuanya itu, pak Teddy!" sahut Pak Sarif dengan memainkan matanya.
"Hahaha, begitu yah! Baiklah, selamat bersenang-senang pak Sarif!" ucap Teddy.
"Terimakasih pak Teddy! Saya do'akan pak Teddy juga secepatnya mendapatkan wanita yang bisa membuat pak Teddy ke pulau indah. Ini adalah surga dunia, pak Teddy," ucap pak Sarif. Teddy terkekeh.
Pak Sarif meninggalkan apartemen mewah milik Teddy. Kini tinggal lah Teddy seorang diri di apartemen itu.
"Lebih baik aku berendam terlebih dahulu," gumam Teddy. Teddy segera melucuti semua pakaiannya dan masuk ke bathtub kamar mandinya.
Di depan apartemen kini sudah tiba Lidya yang masih berdiri mematung di depan pintu apartemen. Sementara si pemilik apartemen nya tidak kunjung membukakan pintu apartemen nya. Lidya mencoba membuka handle pintu apartemen itu dan ternyata tidak dikunci oleh tuan muda tajir di Teddy itu.
__ADS_1
"Pak Teddy! Saya datang pak!" teriak Lidya sambil nyolong masuk ke apartemen itu. Sedangkan Teddy masih asik berendam di bathtub kamar mandinya dan tidak mendengar suara Lidya memanggil namanya.