
Pagi itu Teddy menjadi sangat kekenyangan dengan banyak makan makanan hasil masakan Lidya. Karena masakan Lidya ternyata enak, Teddy menjadi mengharapkan Lidya sering-sering memasakkan makanan yang enak untuk Teddy.
"Aku sudah siap! Ayo aku antar kamu ke kampus!" ucap Teddy kepada Lidya yang masih belum selesai dengan sarapannya. Terlihat Lidya makan dengan tergesa-gesa supaya cepat habis makanan yang diambil nya di piring nya. Teddy tersenyum melihat nya.
"Oke, ayo kita berangkat!" sahut Lidya yang di mulutnya masih penuh makanan yang masih di kunyah nya. Sedikit sisa makanan menempel di pipi Lidya. Teddy menarik satu tisu di depannya lalu mendekati Lidya. Dibersihkan nya sisa makanan yang menempel di pipi Lidya. Lidya menatap dalam pada kedua sorot mata Teddy yang serius membersihkan sisa makanan di pipinya itu. Melihat wajah Teddy dari dekat membuat jantung Lidya seperti ber genderang. Nafas Lidya terhenti lantaran menahan nafasnya itulah cara aman bagi dirinya supaya nafas dirinya dengan nafas Teddy tidak beradu.
__ADS_1
"Lain kali makanlah dengan pelan-pelan! Ya sudah ayo kita berangkat! Aku akan mengantarkan kamu ke kampus sebelum aku berangkat menuju ke kantor," kata Teddy lalu menyuruh Lidya mengikutinya dengan melingkarkan tangannya ke tangan Teddy. Beberapa pelayan tersenyum melihat pemandangan itu. Tuan mudanya sebentar lagi akan menikah dengan Cinderella. Lidya akan berubah kehidupannya. Kehidupan yang miskin akan kembali menjadi kaya seperti dulu saat sebelum keluarganya mengalami kebangkrutan.
Di dalam mobil itu sopir pribadi membawa Lidya dan Teddy ke kampus dan ke kantor. Jalan antara kampus dengan kantor Teddy masih satu arah. Sehingga ini memudahkan mereka untuk tidak memutar arah.
Setiba nya di depan kampus Lidya diturunkan di gerbang kampus fakultas nya. Beberapa pasang mata memperhatikan mobil yang ditumpangi oleh Lidya. Mereka sangat penasaran dengan siapa gerangan orang yang kuliah di fakultas dan jurusan itu yang memiliki mobil super mewah dan bisa dihitung di dunia ini hanya beberapa saja yang bisa memiliki mobil tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak mengira kalau Lidya seperti itu," kata mahasiswa laki-laki satu kelas dengan Lidya.
"Benar! Aku pikir kehidupan yang serba kekurangan mendesaknya untuk menjual harga dirinya pada laki-laki hidung belang," sahut seorang mahasiswi yang nimbrung dalam gosip murahan pagi itu.
"Gaya hidup yang serba berlebihan membuat Lidya melakukan tindakan ini, aku menjadi tidak respect terhadap Lidya yang sebelumnya aku sangat kagum dengan kepribadiannya," kata mahasiswa yang duduk di sana.
__ADS_1
Lidya berjalan melewati teman-temannya yang menatap dirinya dengan tatapan aneh dan sulit dimengerti. Lidya mencari keberadaan Rere di kampus itu. Namun belum juga Lidya melihat nya pagi itu. Hingga suara teriakan Rere dari jauh membuat Lidya tersenyum lega.
"Aku pikir, Rere tidak masuk kuliah siang ini," gumam Lidya lalu ikut menghampiri Rere.