CEO PEMANJA ISTRI

CEO PEMANJA ISTRI
SALAH PAHAM


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Rere tidak Henti-hentinya tersenyum. Betapa hari ini dia begitu bahagia jadian dengan Pak Erik. Dosen muda yang sudah lama dia kagumi nya. Rere kali ini tidak kembali pulang ke rumah nya melainkan ke kediaman kakaknya Teddy.


Mobil itu kini sudah masuk ke halaman rumah Teddy yang bak istana. Di sana Rere segera masuk ke rumah itu dan mencari keberadaan Lidya. Namun saat ini Lidya tidak sedang berada di kamarnya. Rere tentu saja bertanya dengan pelayan di rumah itu.


"Di mana Lidya, bibi?" tanya Rere seraya duduk di ruang makan.


"Hem, tadi sih dipanggil tuan muda Teddy," jawab bibi pelayan itu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal..


"Oh ya sudah! Bibi, minta tolong buatkan aku minuman segar yah!" perintah Rere. Bibi pelayan tersebut segera melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Rere.


Sementara itu Lidya saat ini di dalam kamar Teddy. Dia saat ini sedang menjalani hukuman dari Teddy lantaran Lidya pergi ke kafe itu tanpa memberitahu dan ijin kepada Teddy. Sedangkan sopir pribadi Teddy sempat menjemput Lidya di kampus dan Lidya tidak berada di kampus nya. Apalagi kabar yang sampai ditelinga Teddy, Lidya di kafe itu kencan dan makan bersama dengan seorang dosen muda. Bahkan kabar yang beredar dan sampai ditelinga Teddy adalah, Lidya menarik paksa dosen muda itu dan membawa nya ke parkiran, memasukkan dosen muda itu ke dalam mobil lalu seperti menculiknya.


Teddy masih belum menerima alasan dan penjelasan dari Lidya. Lidya saat ini sedang dihukum Teddy. Hukuman yang diberikan oleh Teddy adalah Lidya tidak boleh keluar dari kamar Teddy. Bahkan tidak di kasih pegang ponsel nya. Lidya hanya bengong seperti sapi ompong di dalam kamar Teddy. Apalagi Teddy saat ini sedang sibuk di depan layar laptopnya. Lebih tepatnya sok sibuk biar dilihat oleh Lidya seperti sibuk dengan pekerjaan kantor.

__ADS_1


"Kak Teddy! Aku lapar, boleh turun ke bawah tidak, mau makan bentar! Nanti setelah makan aku balik lagi ke kamar ini," kata Lidya seperti memohon. Teddy menatap Lidya tidak percaya.


"Tidak boleh! Biar bibi pelayan yang akan mengambilkan makanan untuk kamu dan dibawa kemari," sahut Teddy sambil mengutak-atik laptop nya. Teddy segera menghubungi asisten pribadinya yang saat ini masih di bawah, menyuruhnya untuk menyampaikan pelayan supaya mengantarkan makanan ke dalam kamarnya.


"Pak Sarif, tolong bilang ke pelayan supaya mengantarkan makanan ke atas, ke kamarku," perintah Teddy kepada Sarif, asisten pribadinya.


"Baik tuan muda!" sahut Pak Sarif.


Sedangkan Pak Sarif yang sejak tadi berada di dalam kamar tamu untuk tiduran, kini keluar dari kamar itu menuju ke ruang makan. Di sana Pak Sarif ketemu dengan Rere yang saat ini duduk di ruang makan sambil memainkan ponselnya.


"Ini tuan muda Teddy minta disiapkan makanan dan menyuruhnya mengantarkan makanan ke dalam kamarnya," jawab Pak Sarif. Kini pelayan di rumah itu sudah menyiapkan makanan untuk diantarkan ke kamar tuan muda Teddy. Pak Sarif duduk di sebelah Rere.


"Bibi, nanti biarkan saja aku yang mengantarkan makanan itu ke kamar kak Teddy! Tumben kak Teddy manja seperti itu," kata Rere.

__ADS_1


"Baik nona!" sahut Bibi pelayan itu.


"Non Rere, tumben kemari," ucap Pak Sarif.


"Iya, mau mencari Lidya. Katanya bersama kak Teddy yah?" ucap Rere.


"Benar! Setelah dijemput di kafe tadi, tuan muda Teddy membawa non Lidya masuk di dalam kamarnya. Tuan muda Teddy menghukum non Lidya. Entah hukuman apa yang tuan muda Teddy berikan kepada Non Lidya," terang Pak Sarif. Rere mengerutkan dahinya mendengar apa kata Pak Sarif.


"Kenapa? Lidya memang ada salah apa dengan kak Teddy hingga mendapatkan hukuman," ucap Rere.


"Tadi gara-gara tuan muda mendapatkan kabar kalau non Lidya di kampus membawa kabur dosen muda. Itu saja," terang Pak Sarif.


"Apa? Wah seperti nya aku harus kasih penjelasan pada kak Teddy. Semua ini hanyalah salah paham saja," sahut Rere.

__ADS_1


"Ya sudahlah, mana makanan yang akan diantar ke kamar kak Teddy? Biar aku yang mengantarkan ke kamar nya," ucap Rere.


"Baiklah!" sahut Pak Sarif dan juga pelayan bagian dapur itu.


__ADS_2