CEO PEMANJA ISTRI

CEO PEMANJA ISTRI
COMBLANG


__ADS_3

"Saya pesan bihun goreng dengan iga bakar saja, minumannya jus jeruk. Oh iya, ayam penyet lalapan dengan sambal terasinya. Dan adik ipar ku ini juga saja. Jadi masing-masing dia porsi," ucap Lidya. Pelayan kafe itu segera mencatat pesanan dari Lidya. Segera pelayan kafe itu melangkah menuju ke depan mengantarkan catatan itu kepada pelayan yang lain di bagian dapur,


Sampai beberapa lama mereka menunggu di saung itu. Pak Erik tidak habis bahan pembicaraan lantaran di sana masih ada Lidya yang super aktif jika diajak ngobrol mengenai aspek-aspek. Dari pembicaraan mengenai materi kuliah maupun soal gosip artis maupun kabar terkini soal politik, kehidupan sosial masyarakat. Berbeda dengan Rere yang seperti mati kutu kalau sudah ada Pak Erik. Rere hanya tersenyum dan banyak menyimak dari obralan antara Pak Erik dengan Lidya. Lidya menjadi berniat untuk pergi meninggalkan mereka berdua supaya bisa mengobrol lebih dekat.


Diam-diam Lidya memberitahukan posisi dirinya saat ini di kafe itu kepada Teddy. Kata Teddy sopir pribadinya akan menjemput Lidya di kafe itu. Lidya punya rencana jika dirinya pulang sendiri bersama dengan sopir Teddy, menyisakan Rere bersama dengan Pak Erik di tempat itu. Jadi dengan tidak adanya Lidya di sana akan mendekatkan Rere dengan Pak Erik. Itu yang diharapkan oleh Lidya, hubungan Rere dengan Pak Erik semakin lebih akrab dan tidak lagi canggung lagi.


Tidak berselang lama, beberapa menu yang dipesan oleh mereka sudah diantar oleh pelayan kafe tersebut. Kini meja mereka sudah penuh oleh makanan dan minuman pesanan mereka.


"Ayo kita makan!" ajak Lidya. Rere masih malu- malu dan seperti menjaga kesan baik di depan Pak Erik.


"Ayo makan! Ayo makan dik Rere!" ucap Pak Erik. Seketika wajah Rere bersemu merah saat Pak Erik mengatakan adik untuk Rere. Lidya nyengir kuda melihat ekspresi dari Rere yang malu-malu meong itu.

__ADS_1


"Rere, ayo dimakan makanan kamu. Kita berlomba siapa yang duluan habis maknanya, dialah pemenangnya dan tidak membayar semua tagihan makanan dan minuman ini," tantang Lidya. Lidya dengan cepat menyantap makanan nya. Namun berbeda dengan Rere dan juga Pak Erik yang tidak terpengaruh dengan ucapan Lidya yang mengajak untuk berlomba-lomba menghabisi makanan. Lidya jadi tersenyum saja.


"Jangan khawatir! Biar hari ini aku yang akan mentraktir kalian," sahut Pak Erik.


"Eh, jangan Pak Erik! Biar saya yang membayar semuanya. Sayalah yang tadi menculik Pak Erik ke kafe ini untuk mengajak Pak Erik makan bersama dengan kami. Jadi kamilah yang akan membayar semua tagihan makanan dan minuman ini," sahut Rere.


"Benar Pak Erik! Rere ini anak orang kaya loh, ups!" kata Lidya. Rere seketika menutup mulut Lidya dengan tangannya. Pak Erik tersenyum saja melihat ekspresi Rere yang tidak suka diketahui kalau dirinya anak orang kaya dan terpandang di kota itu.


"Makanya dari itu, aku menjadi minder jika ada wanita dari keluarga terpandang menyukai aku,"tambah Pak Erik sambil melirik ke arah Rere.


" Duh, ternyata Pak Erik percaya dirinya tinggi. Dia sudah tahu kalau Rere menyukai dirinya,"batin Lidya.

__ADS_1


Lidya Cepat-cepat menghabiskan makanannya karena Lidya sudah mendapatkan balasan pesan chat dari Teddy kalau sopir pribadinya sudah menjemputnya di kafe itu.


Pesan chat sudah masuk ke ponselnya. Kini Lidya pamit ke parkiran untuk pulang.


"Maaf, Rere! Aku harus duluan yah! Kak Teddy sudah menjemput aku di depan. Kamu tidak apa-apa kan jika pulang bersama dengan Pak Erik? Pak Erik, titip Rere yah!" kata Lidya. Pak Erik dan Rere kini saling pandang. Lidya sudah tidak perduli dengan keduanya. Lidya segera kabur supaya tujuannya mendekatkan Pak Erik dengan Rere akan tercapai.


🦋🦋🦋


Lidya menuju parkiran. Dia segera mencari mobil Teddy berada. Ketika sudah mendapati mobil Teddy sudah terparkir di sana, Lidya segera masuk ke dalam mobil itu. Ternyata di dalam ada Teddy di belakang.


"Eh, kak Teddy! Saya kira tidak ikut dan masih di kantor," ucap Lidya tanpa dosa. Tanpa ekspresi Teddy segera menyuruh sopirnya melaju meninggalkan kafe itu.

__ADS_1


"Setelah sampai di rumah, kau harus menjelaskan soal ini. Dengan siapa kamu makan dan berkencan di tempat ini," bisik Teddy seraya mendekati ke tempat duduk Lidya. Lidya seketika panas dingin dengan nafas Teddy yang sangat dekat di telinga nya bahkan aroma tembakau itu sangat menusuk hidungnya.


__ADS_2