
Setelah mengikuti mata kuliah di siang hari itu, Lidya berlari mengejar pak Erik, si dosen muda yang dikagumi oleh calon adik iparnya.
"Pak Erik! Teman saya Rere ingin bertemu dengan anda pak Erik," kata Lidya setelah berjalan di sebelah pak Erik. Pak Erik menghentikan langkah nya lalu menatap Lidya di sebelah nya.
"Rere?" sahut Pak Erik.
"Benar pak! Teman saya yang minta nomor WA pak Erik. Bagaimana pak? Ayo pak, sebentar saja kok!" kata Lidya lalu menarik tangan Pak Erik tanpa sungkan lagi. Pak Erik melihat sekelilingnya yang memperhatikan dirinya ditarik paksa oleh Lidya. Lidya tidak perduli dengan tatapan teman-temannya maupun mahasiswa mahasiswi kakak kelasnya.
Lidya mengajak Pak Erik menuju ke parkiran mobil milik Rere. Kini dengan paksa menyuruh Pak Erik masuk ke dalam mobil itu. Lidya pun ikut masuk ke dalamnya.
"Lidya! Ini namanya penculikan terhadap dosen terganteng, ter maco, ter favorit," ucap Pak Erik dengan segala protes nya. Rere tersenyum melihat Pak Erik kini sudah berada di sebelah nya.
"Pak Erik!" sapa Rere dengan gugup. Pak Erik menatap Rere dengan tatapan jengah.
"Kalian mahasiswi benar-benar tidak ada sopan santun nya dengan dosennya," protes Pak Erik.
__ADS_1
"Santai saja Pak Erik! Kita hanya mengajak Pak Erik makan saja kok. Temanku Rere ini lagi bermurah hati ingin mentraktir Pak Erik," ucap Lidya.
Rere menjalankan mobilnya menuju ke sebuah kafe yang ada banyak saung untuk menikmati makanan dan minuman di kafe itu. Kafe yang terkesan santai ketika makan bersama dengan keluarga. Mobil itu akhirnya berhenti di kafe itu dan terparkir rapi di halaman kafe tersebut.
Lidya turun dari mobil itu. Di dalam mobil itu tersisa Pak Erik dengan Rere.
"Mari Pak Erik! Kita turun!" ajak Rere. Pak Erik mengikuti ajakan Rere.
Lidya lebih dahulu berjalan mencari tempat untuk makan bersama dengan Pak Erik dan juga Rere. Pak Erik dan Rere mengikuti Lidya yang sudah duduk di saung kafe itu. Seorang pelayan tiba dengan buku kecil untuk mencatat apa yang akan dipesan oleh Lidya, Rere dan juga Pak Erik.
"Pak Erik pesan apa, pak?" tanya Rere yang berusaha perhatian dengan pak dosen muda itu.
"Hem, jus naga, ayam goreng bawang, udang asam manis, cah kangkung dan sambal pete," ucap Pak Erik. Rere tersebut saja ketika Pak Erik mulai enak di ajak makan di tempat itu. Pelayan kafe itu mencatat pesanan yang disebutkan oleh Pak Erik.
"Kamu ingin makan apa, calon kakak ipar?" tanya Rere kepada Lidya. Pak Erik yang mendengar Rere memanggil Lidya dengan calon kakak ipar menjadi mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Eh?" gumam Lidya.
"Lidya ini sebentar lagi akan menjadi kakak ipar aku, Lidya akan menikah dengan kakak aku, pak Erik," terang Rere. Lidya menjadi menundukkan kepalanya lantaran malu.
"Rere!" sahut Lidya. Kini Lidya menatap pak Erik.
"Oh, ternyata sebentar lagi kamu akan menikah yah, Lidya?" sahut Pak Erik. Lidya tersenyum malu.
"Benar Pak Erik! Dan saya harap sebentar lagi Pak Erik juga akan menyusul saya untuk menikah," ucap Lidya.
"Aku masih belum ketemu calon pengganti saya, Lidya!" sahut Pak Erik.
"Itu yang di depan Pak Erik, siap untuk menjadi calon pengantin Pak Erik," ujar Lidya akhirnya. Akhirnya membalas semua yang dilakukan Rere terhadap nya. Rere spontan saja merah wajahnya lantaran malu.
"Sekarang satu sama!" batin Lidya sambil melihat Rere yang menundukkan kepalanya lantaran malu.
__ADS_1