
Lidya nekat mendatangi pak Erik ke ruangan nya setelah mata kuliah hari ini selesai. Keberuntungan masih di pihak Lidya karena Pak Erik masih duduk di ruangan nya. Pak Erik terlihat fokus di depan layar laptopnya. Mungkin Pak Erik saat ini sedang mengerjakan tugas tesisnya. Pak Erik memang masih berkuliah mengambil S2 nya.
Lidya langsung mengetuk ruangan Pak Erik. Dan Pak Erik mendongakkan kepalanya menatap Lidya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Selamat siang menjelang sore, pak Erik!" ucap Lidya sopan sambil menundukkan badannya penuh hormat.
"Kamu? Kamu Lidya yah?" tanya Pak Erik memastikan.
__ADS_1
"Benar, pak! Boleh saya masuk pak? Maaf mengganggu kesibukan pak Erik. Tapi saya janji, ini tidak lama kok pak. Mungkin hanya lima menit saja. Eh, empat menit. Hem, bukan! Satu menit saja waktu yang akan saya minta untuk pak Erik," ucap Lidya. Pak Erik menahan tawanya namun kembali mengerutkan dahinya.
"Oke, satu menit saja! Jika lebih dari satu menit kamu harus duduk di sini menemani aku sampai aku selesai dengan tugasku hari ini," ucap Pak Erik. Kini giliran Lidya menyipitkan matanya menatap Pak Erik. Kini Pak Erik akan menyulitkan dirinya.
"Ini seperti halnya, aku ditahan oleh Pak Erik. Aku seperti diminta untuk menemani Pak Erik di ruangan ini? Oh astaga! Jika ini Rere, dia akan rela berlama-lama di sini bersama dengan Pak Erik. Di ruangan ini," pikir Lidya.
"Hai, cepatlah! Aku harus menyelesaikan tugasku secepatnya! Ayo, aku hitung mulai dari sekarang," kata Pak Erik.
"Begini Pak Erik! Saya minta nomor WA Pak Erik. Boleh kan?" ucap Lidya. Pak Erik melebar matanya.
"Sabar Lidya! Ini demi sebuah motor. Rere akan memberikan imbalan kepada kamu satu unit motor. Bukankah ini sesuatu yang menjanjikan?" pikir Lidya.
Sudah lewat satu jam, Lidya menunggu dan duduk di depan Pak Erik. Lidya sudah merasakan kantuk dan jenuh. Apalagi, tidak ada cemilan yang bisa dimakan oleh Lidya. Lidya melihat jam tangannya. Jam sudah menunjukkan jam empat sore.
__ADS_1
"Apa? Kenapa belum ada tanda-tanda kalau Pak Erik menyelesaikan tugasnya yah? Jam lima aku harus bersiap-siap dengan pekerjaan aku yang memijit Pak Teddy. Pak Sarif tadi memberikan pesan, kalau aku disuruh datang lebih awal karena Pak Teddy ingin dipijit lebih awal dari jam biasanya. Karena Pak Teddy besok pagi harus bangun pagi dan akan tidur lebih awal dari hari-hari biasanya. Pak Teddy akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri," pikir Lidya.
"Pak Erik! Apakah masih lama, pak? Saya harus pulang! Dan Saya harus bersiap-siap karena saya harus bekerja," ucap Lidya akhirnya jujur. Pak Erik mengerutkan dahinya.
"Kamu selain kuliah juga sambil bekerja juga? Kamu kerja apa malam-malam?" tanya Pak Erik. Kini sorot matanya seperti mencurigai Lidya.
"Eh?" Lidya bingung mau menjawab apa.
"Kamu jual diri, Lidya? Bukannya kamu tahu kalau menjadi wanita penghibur itu tidak halal. Apakah tidak ada pekerjaan lain selain itu?" ujar Pak Erik Semena-mena menuduh Lidya sebagai seorang tuna susila.
"Astaga Pak Erik? Apakah saya terlihat seperti wanita seperti itu?" sahut Lidya. Lidya kini bangkit dari tempat duduknya dan segera keluar meninggalkan Pak Erik. Lidya sudah tidak perduli akan hadiah yang dijanjiin oleh Rere. Lidya tidak perduli Pak Erik yang memanggil namanya.
"Lidya! Lidya! Eh, malah lari loh! Apa yang salah dari ucapan aku sih?" kata Pak Erik sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Lidya berlari secepatnya meninggalkan kampus itu. Air matanya tumpah saat dinilai Pak Erik sebagai wanita tuna susila.
"Mulut nya Pak Erik benar-benar tidak bisa dikondisikan. Mulut nya tidak pernah merasakan panasnya setrika," omel Lidya sambil menyeka air matanya dengan kasar.