CEO PEMANJA ISTRI

CEO PEMANJA ISTRI
TUGAS


__ADS_3

Selesai mengikuti kuliah pagi, Rere dan Lidya makan siang bersama di kafe dekat kampus. Rere mendadak salah tingkah karena melihat Pak Erik baru saja masuk ke dalam kafe itu. Serta merta Rere mendekati Pak Erik dengan langkah lebarnya. Pak Rere yang saat ini masih melihat ke kanan dan ke kiri mencari bangku yang kosong masih berdiri di ambang pintu masuk kafe itu. Segera saja Rere menghampiri laki-laki yang menarik hatinya itu.


"Pak Erik, mau makan siang juga? Semua bangku sudah penuh. Bagaimana kalau bergabung di bangku kami?" tawar Rere tanpa malu.


"Oh, kamu Rere? Mahasiswi psikologi itu kan?" tanya Pak Erik.


"Benar pak Erik! Ayo bergabung di bangku kami!" ajak Rere lagi. Kini seperti anak kecil saja, Pak Erik mengikuti ajakan Rere. Rere menarik tangan Pak Erik menuju bangku yang telah Rere duduki bersama dengan Lidya. Rere mulai duduk di sana bergabung dengan Lidya dan juga Rere. Lidya tersenyum ramah dengan dosen muda itu.


"Pak Erik mau makan apa? Biar saya pesan kan!" Rere menawarkan diri. Pak Erik tersenyum saja menanggapi mahasiswanya yang sungguh berani.


"Kwetiaw goreng dan minumnya es teh," sahut Pak Erik lalu tersenyum ramah. Senyum itu sangat manis seperti gulali. Lidya menahan tawanya lantaran Rere sudah berani selangkah lebih maju mencoba akrab dan dekat dengan dosen muda itu. Rere menuju kasir dan meminta pesanan makanan yang diminta oleh Pak Erik. Kini menyisakan Lidya dengan Pak Erik. Lidya sudah menyantap bihun goreng nya. Pak Erik menelan air liurnya sendiri melihat Lidya makan terlihat begitu nikmat nya. Sampai akhirnya Lidya tersedak.


"Uhuk... uhuk!" Lidya tersedak karena bihun goreng nya yang super pedas. Spontan tawa Pak Erik pecah melihat wajah imut Lidya. Pak Erik mengambilkan minuman untuk Lidya.

__ADS_1


"Kamu kalau makan pelan-pelan saja! Lagi pula kalau makan tawari orang di dekat kamu. Ini kamu asyik makan sendiri dan tidak perduli dengan sekitar kamu. Padahal aku juga tidak meminta makanan yang kamu makan," ucap Pak Erik sambil memberikan botol air mineral dingin kepada Lidya. Lidya meminumnya pelan-pelan sambil menatap pak Erik. Mata Lidya terlihat berair karena kepedesan. Pak Erik masih terkekeh melihat wajah imut Lidya.


"Kamu juga mahasiswa jurusan Psikologi juga yah? Siapa nama kamu?" tanya Pak Erik. Lidya menganggukkan kepalanya cepat. Kembali Lidya dengan cuek memakan bihun goreng nya. Pak Erik menarik tisu di depannya dan mengusap bagian dagu Lidya. Lidya melebar matanya.


"Eh, ada apa pak?" tanya Lidya.


"Ini ada bihun goreng kamu nempel di pipi," jawab Pak Erik. Tidak lama Rere tiba dengan membawa makanan dan minuman yang diminta oleh pak Erik. Rere sempat melihat adegan itu. Adegan saat Pak Erik mengusap sisa bihun di bawah mulut Lidya.


"Ini makanan nya pak Erik! Mari kita makan!" kata Rere lalu ikut duduk kembali serta melanjutkan makan nya.


"Ada apa? Kenapa kamu menatap aku? Apakah kamu bisa kenyang hanya menatap wajah aku ini? Ayo di makan makanan yang ada di depan kamu itu!" ucap Pak Erik. Lidya yang mendengar itu menjadi terkekeh melihat tingkah Rere yang tidak mau lepas untuk menatap laki-laki yang menarik hatinya.


"Eh iya, pak Erik! Ini saya juga mau makan!" sahut Rere.

__ADS_1


"Oh iya, nama kamu siapa tadi? Aku lupa, maklum banyak mahasiswa yang aku ajar," ucap Pak Erik. Rere mendengus kesal. Namanya tidak diingat oleh Pak Erik.


"Rere Wulandari, pak Erik! Lain kali jangan lupa nama itu yah, pak Erik," ucap Rere tanpa takut. Pak Erik tersenyum sambil memasukkan makanan nya ke dalam mulutnya.


"Kalau kalian ingin, aku hapal nama kalian! Rajin bertanya dan aktif ketika mengikuti kuliah aku. Jangan menikmati wajah ganteng aku saja. Oke?" ujar Pak Erik dengan nyengir kuda. Rere seketika melongo mendengar penuturan dari Pak Erik.


"Ya ampun! Ternyata Pak Erik terlalu percaya diri banget," batin Rere.


@@@@@@@


Malam tiba, kini Lidya kembali menjalankan tugasnya. Lidya sudah berada di apartemen Teddy. Teddy masih sibuk dengan kerjaannya. Pekerjaan kantor yang baru saja ia jalani membuatnya pusing dan mengharuskan dirinya membawa dan menyelesaikan nya di apartemen nya.


Sudah satu jam Lidya menunggu di ruangan tengah itu dan melihat laki-laki itu masih terlihat fokus dengan laptopnya. Lidya sudah mengantuk. Sedangkan besok pagi ada mata kuliah jam tujuh pagi.

__ADS_1


"Pak Teddy! Apakah masih lama?" tanya Lidya memberanikan diri. Kini kedua kaki Teddy akhirnya diluruskan sendiri. Teddy mulai mengisyaratkan pada lidya untuk memulai memijit bagian kakinya terlebih dahulu. Lidya segera mengoleskan hand body itu ke kaki Teddy. Pelan-pelan Lidya mulai memijat kedua kaki Teddy dengan lembut. Hampir setengah jam berlalu masih saja memijat kedua kaki Teddy yang bersih tanpa bekas koreng. Teddy menguap dan akhirnya naik ke tempat tidur nya. Namun sebelum itu Teddy melepaskan kaos oblong nya. Teddy tengkurap dan Lidya mulai menjalankan pekerjaan nya memijat Teddy sampai terlelap.


"Sudah tidur! Aku bisa pulang!" pikir Lidya lalu keluar dari apartemen itu.


__ADS_2