
"Kalian kapan rencana mau menikah, nak?" tanya mama Lilis tiba-tiba. Erik dan Rere saling pandang. Keduanya lalu melemparkan senyumnya.
"Minggu depan boleh kan, ma? Kita melamar Rere ke rumah orang tuanya. Bagaimana ma?" jawab Erik.
"Baiklah! Semoga tujuan baik ini selalu dipermudah dan kalian bisa menjadi pasangan suami istri yang saling mengerti dan memahami satu dengan yang lainnya. Menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing," ucap mama Lilis.
"Aamiin!" sahut Rere dan Erik. Keduanya saling melemparkan senyuman nya dan Erik tiba-tiba mengedipkan salah satu matanya kepada Rere dengan nakalnya.
Setelah makan bersama Erik mengajak Rere naik ke atas menuju kamarnya.
Di dalam kamar Erik, ketika sudah di dalam Erik segera menyudutkan Rere ke dinding kamarnya. Gejolaknya tiba-tiba membuncah. Hasrat nya ingin segera tersalurkan.
"Aku kangen kamu, Rere sayang! Kamu sudah membuat candu bagiku. Aroma nafas dan tubuh kamu sangat menggoda aku. Aku ingin Rere. Aku bisa gila kalau tidak segera menikahi kamu," ucap Erik seraya melepas satu persatu kancing milik Rere.
Wajah itu dekat dan sangat dekat satu dengan yang lain. Rere tidak menyangka jika dosen nya yang terkenal idealisme dan taat kini berubah menjadi nakal dan liar. Apalagi setelah satu kali merasakan kenikmatan tubuh nya menerobos gawang perawan mahkotanya Rere. Dibimbingnya sekali lagi hingga Rere bisa saling berbalas dalam segala ciuman hangat dan liar. Dalam setiap sentuhan dan cengkraman yang saling memberikan sensasi yang mengalirkan aliran darah semakin memanas.
__ADS_1
Rere membantu melepaskan kaos oblong milik Erik dan kini dada bidang dan kekar milik Erik terlihat maco dilihat Rere. Rere menyentuh nya seolah-olah kapas yang lembut di bagian sana. Erik sudah tidak sabar hanya sebentar lalu membimbing tangan halus Rere ke arah daerah sensitif yang ia inginkan. Di sana lah Rere meremas dengan gemas. Bagian itu adalah titik vital Erik. Erik mulai menurunkan celananya sendiri supaya Rere bisa lebih leluasa melakukan pergerakan yang indah di area yang diinginkan oleh Erik. Rere melebar matanya lantaran kini terpampang indah sesuatu yang diandalkan Erik terlihat dimatanya. Erik sedikit menekan dan menurunkan kepala Rere untuk bisa menangkap sesuatu yang indah itu dan memainkannya dengan nakal.
"Rere!" ucap Erik dengan irama jantung yang sudah tidak menentu.
Setelah itu Erik mulai membimbing Rere ke peraduan dan membaringkan nya di atas tempat tidur nya.
"Erik, kamu yakin mau melakukan nya kembali? Bunda nanti menunggu kita di bawah?" ucap Rere masih belum tenang. Erik tidak memperdulikan ucapan Rere yang memperingatkan nya. Erik. sudah menurunkan rok yang dikenakan oleh Rere lalu dilemparkan sembarang di lantai kamar itu.
"Aku hanya ingin kamu, sayang! Bunda akan paham kalau kita sudah sama-sama dewasa. Apalagi kita akan segera menikah. Kamu jangan takut, sayang! Aku akan menikahi kamu," kata Erik. Erik segera menghujani ciuman di setiap inci lekuk tubuh Rere. Rere menggeliat dengan kenikmatan yang diberikan oleh Erik.
Sekian lama pasangan kekasih itu telah bergumul di atas peraduan. Setelah keduanya sama-sama menggapai puncak terindahnya mereka terkulai dan kembali saling dekap.
"Kak Erik! Kapan kak Erik akan datang dan bertemu mama papa?" tanya Rere.
"Secepatnya sayang! Bagaimana kalau sekarang?" sahut Erik. Rere dengan gemas mencubit Erik kembali.
"Kak Erik! Aku harus segera pulang! Antar kan pulang di rumah kak Teddy saja. Aku masih malas jika harus menjawab pertanyaan dari mama papa soal kamu jika kamu mengantarkan aku ke rumah mama papa," kata Rere.
__ADS_1
"Baiklah! Terserah kamu mana baiknya saja sayang," sahut Erik akhirnya.
🦋🦋🦋🦋🦋
Di kediaman Teddy tepatnya di dalam kamar pasangan suami istri tersebut, Lidya masih bermalas-malasan tiduran di atas peraduan. Sedangkan Teddy terlihat sibuk di depan laptopnya.
Lidya dengan nakalnya kini mendekati Teddy yang masih fokus dengan laporan dari bawahan nya. Memang saat ini Teddy duduk di atas tempat tidur dengan laptopnya. Kelapa Lidya kini direbahkan nya di atas paha Teddy. Teddy tersenyum melihat sikap istrinya yang mulai manja kepada dirinya.
" Masih belum selesai juga yah Kak, melihat laporan keuangan ataupun kegiatan dari sekretaris kakak di perusahaan?" tanya Lidya dengan suaranya yang manja.
"Sebentar lagi sayang! Sedikit lagi selesai kok. Ada apa sih sayang? Kamu mau apa, hem?" kata Teddy.
"Lapar! Aku mau makan tapi harus sama dengan kamu kak Teddy," sahut Lidya yang tumben kali ini menjadi sangat manja. Teddy tersenyum lebar.
"Oh aku pikir kamu mau mengajak aku naik dan bermain odong-odong lagi,"sahut Teddy dengan bahasa absurd. Lidya tersenyum kecil sambil mengusap bagian dada Teddy yang masih terbuka karena bertelanjang dada.
" Nah, jangan membangunkan singa tidur, sayang!" kata Teddy. Lidya semakin nakal mengganggu Teddy. Teddy menutup laptopnya lalu dengan cepat menindih tubuh Lidya dan kembali meraup bibir nya sebentar.
__ADS_1
"Ayo, kita makan kak! Aku sudah lapar," bisik Lidya pelan.
"Oke, ayo kalau begitu!" ucap Teddy akhirnya.