
Pak Erik segera melepaskan Rere dan mulai menjaga jarak diantara badannya. Sesuatu yang aneh mulai bergerak-gerak di bawah sana. Sehingga Pak Erik merasakan kegelisahan atas perubahan yang terjadi.
"Rere, kita pulang yuk! Mobil aku masih nangkring di parkiran kampus," ajak Pak Erik. Rere tersipu malu.
"Maaf, kak Erik! Tadi kami menculik kak Erik hingga membawa kak Erik ke tempat ini," sahut Rere sambil menundukkan kepalanya malu. Namun saat ini Rere benar-benar sangat bahagia bisa jadian dengan Pak Erik, dosen muda yang tampan dengan segudang prestasi.
"Tidak masalah! Jika kamu dan juga Lidya tidak memaksaku dan menculik ku, aku tidak akan melepas masa jomblo ku dan jadian dengan kamu, Rere," sahut Pak Erik.
"Ayo kalau begitu! Biar aku yang membayar tagihan makan dan minum kali ini," tambah Pak Erik seraya menggandeng tangan Rere menuju kasir lalu mengajak Rere ke tempat parkiran. Rere segera membuka pintu mobilnya dan bergegas duduk di kursi kemudi. Namun dengan cepat Pak Erik menahan tangannya.
__ADS_1
"Biar aku yang menyetir mobilnya, Re!" ucap Pak Erik. Rere tersipu malu dengan sikap Pak Erik yang mulai memasang badan sebagai seorang pacar bagi Rere. Rere segera memutar balik menuju pintu samping mobilnya dan duduk di sebelah kursi pengemudi.
"Pasang sabuk pengaman kamu, Re! Atau aku yang harus memasangkan sabuk pengaman itu di badan kamu?" kata Pak Erik.
"Eh, iya kak!" sahut Rere kembali dia bersemu merah. Sepanjang perjalanan menuju kampus, Rere dan juga Pak Erik sibuk dengan pikirannya masing-masing. Keduanya menatap jalanan di depannya. Sesekali Rere tersenyum mencuri pandang ke arah Pak Erik. Pak Erik yang merasa kalau pacar barunya itu selalu memperhatikan nya ikut melemparkan senyuman nya dan sesekali melirik ke arah Rere.
Setengah jam perjalanan menuju kampus lebih tepatnya di parkiran kampus fakultas, Pak Erik segera masuk ke area parkiran khusus dosen. Mobil itu berhenti tidak jauh dari mobil Pak Erik yang masih nangkring di tempat nya. Sedangkan di tempat parkiran tersebut sudah tidak ada lagi mobil yang terparkir di sana. Sore menjelang malam, dan senja sudah mulai menampakkan warna hingga nya.
"Kamu bisa pulang dan jangan mampir kemana-mana yah, Re! Aku juga akan kembali ke rumah dan beristirahat. Besok kita bisa berjumpa lagi di kampus ini. Ingat! Jangan menampakkan ke mahasiswa yang lain kalau kita ada hubungan lebih dari hubungan dosen dan mahasiswa. Aku tidak ingin semua itu bisa menimbulkan masalah baru bagi aku sebagai pengajar maupun kamu sebagai mahasiswa di kampus ini," ucap Pak Erik panjang lebar. Rere mengangguk menyanggupi apa yang diminta oleh Pak Erik.
__ADS_1
Pak Erik segera turun dari mobil Rere. Namun sebelum Pak Erik turun dari mobil Rere, Rere memanggilnya pelan.
"Kak Erik!" panggil Rere pelan dengan raut wajah yang bersemu merah. Pak Erik kini menatap Rere sambil melemparkan senyuman nya.
"Iya, Rere! Ada apa?" tanya Pak Erik.
"Terimakasih kak Erik!" sahut Rere sambil melemparkan senyuman nya.
"Iya, Rere!" ucap Pak Erik seraya mendekat ke wajah Rere lalu mencium pipi kanan Rere. Rere melongo dan sangat terkejut dengan ciuman itu. Pak Erik segera turun dan meninggal Rere yang masih terpaku mengusap pipi bekas ciuman Pak Erik.
__ADS_1