
[sayang aku sakit, jalan-jalannya kita batalin aja ya...] ku kirim sebuah pesan melalui ponselku.
[iya sayang gpp, lekas sembuh yaa... Mau aku bawain sesuatu gak?] sebuah jawaban pesan masuk.
[engga sayang makasih, aku mau istirahat aja. Lagian ini udah malem] jawabku.
Setelah membalas pesan ku masukkan ponsel kedalam tas kecil yang berada disampingku. Lalu aku beranjak dari tempat tidurku sambil menenteng tas kecil tersebut.
Namaku Ameera Puspita. Aku adalah anak ke empat dari enam bersaudara. Aku berasal dari sebuah desa di luar kota sana dengan jarak empat jam perjalanan menggunakan bis ke kota ini. Aku datang ke kota ini sekitar dua tahun lalu setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas.
"Gimana Ra?" tanya sahabatku, Nita yang tengah menunggu diluar kamar kostku.
"Beres" jawabku, "Aku udah mastiin Deni gak bakalan dateng kesini malem ini. Aku bilang aku lagi sakit, dan pengen istirahat" sambungku sambil mengambil sepatu diatas rak sepatu yang kemudian kukenakan.
"Oke sip" jawabnya seraya mengacungkan jempol kanannya kearahku.
Kami duduk-duduk diteras kostan kami sambil membenahi penampilan kami malam ini. Kami tinggal di kostan yang sama dengan kamar berdampingan. Walaupun lebih sering kami tidur berdua dikamar kostku daripada tidur di kamar sendiri-sendiri. Sampai sebuah motor berhenti dihadapan kami dan disusul motor lain dibelakangnya.
"Hai Meera... Sudah siap?" tanya seorang pria yang duduk diatas motor seraya membuka kaca helmnya.
"Udah dooong..." jawabku manja.
"Hai Nita... Gimana kabar kamu?" tanyanya pada sahabatku yang tengah duduk disampingku.
"Baik Umar," jawabnya.
"Kok itu temen kamu diem aja, lagi sariawankah?" tanyanya seraya melihat kearah teman Umar yang sedari tadi diam tak bersuara dibelakang.
Umar hanya mengangkat bahu tanpa menjawab pertanyaan Nita.
"Eh Gung, lo sini kek diem aja!" perintah Umar seraya mengarahkan pandangannya pada temannya, Agung.
Dengan sedikit canggung Agung turun dari motornya dan menyalami Nita.
__ADS_1
"Hai..kamu Nita yah?" tanyanya seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Eh..iya.." Nita menjabat tangan Agung. Tampak sekali mereka masih malu-malu. Maklum saja ini kali pertama mereka bertemu.
Aku mengenal Umar sekitar dua tahun yang lalu. Kami berdua ikut pelatihan kerja di sebuah lembaga penyedia jasa pelatihan kerja selama dua minggu. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi sampai ketika dua minggu yang lalu kami terhubung kembali kedalam satu grup di sosial media yang berlogo biru. Grup tersebut dibuat oleh teman kami sesama alumni yang mengikuti pelatihan kerja dua tahun yang lalu. Dan sejak saat itu Umar intens mengirimiku pesan singkat untuk sekedar bertanya kabar atau sudah makan apa belum, dan pesan-pesan ala orang yang sedang PDKT. Ada rasa istimewa dalam hati kala membaca pesan-pesan perhatian dari Umar. Apalagi ketika hubunganku dengan kekasihku yang saat ini sudah terasa hambar. Perhatian dari Umar seakan menjadi oase ditengah gersangnya padang pasir.
"Kita berangkat sekarang yuk" ajak Umar kepadaku.
"Yuk" jawabku seraya beranjak dari tempat dudukku. Sementara Nita dan Agung hanya menjawab dengan anggukan.
Malam ini kami berempat berencana akan pergi jalan-jalan menyusuri keramaian kota. Aku akan berboncengan dengan Umar sedangkan Nita akan dibonceng oleh Agung.
Ketika aku bersiap akan naik ke motornya Umar tiba-tiba dari belakang terlihat lampu motor sedang melaju ke arah kami. Karena jalanan agak gelap aku tidak dapat melihat orang yang sedang berada dibalik kemudi. Saat motor semakin mendekat aku mengenali motor yang dikenakannya. Motor berhenti tepat didepan motor Umar. Sang pengendara turun dari motor dan membuka helmnya seraya melihat kearahku dengan ekspresi yang tidak dapat aku gambarkan. Kulihat dalam matanya ada rasa sedih, marah dan kecewa bercampur aduk.
"Deni..." kataku pelan. Melihatnya serasa melihat hantu. Tanpa berkata apa-apa aku lari kedalam kamar kostku tanpa sempat membuka sepatuku. Aku begitu ketakutan dan tak tahu harus bagaimana.
"Braaakkk" suara benda jatuh terdengar dari luar. Aku begitu ketakutan bagaimana jika sampai Deni ngamuk kepada Umar. Pikiranku sangat kacau. Suara-suara mereka diluar terdengar ramai tapi tak begitu jelas terdengar apa yang mereka bicarakan.
"Ra... Deni ngamuk sampai banting helm" katanya
Ku yakin suara keras tadi adalah suara helm Deni yang tengah menyentuh aspal jalan atau mungkin teras rumah kost. Ah bagaimana kalau dia merusak teras kostan dan ibu kost marah padaku dan mengusirku? Pikirku. Aku dan Nita berpelukan dalam kamar sambil mencoba mendengar apa yang sedang terjadi diluar.
Ku dengar suara gaduh diluar perlahan menghening diikuti dengan suara motor yang semakin lama semakin menjauh. Kurasa Umar dan Agung sudah pulang. Kini tinggal bagaimana caranya aku menghadapi Deni.
Aku mengenal Deni sekitar dua tahun lalu, beberapa minggu setelah aku menyelesaikan pelatihan kerjaku. Lebih tepatnya dikenalkan seorang teman kepadaku. Deni anggota klub motor di kota ini. Dia adalah tipe orang yang tidak serius, tidak romantis, dan tidak perhatian. Bahkan selama kami kenal dia tidak pernah ingat hari ulang tahunku. Jangankan tanggal lahirku, bahkan tahun kelahiranku saja dia tidak penah ingat. Berbanding terbalik dengan Umar. Jika bertemu dengan Deni kami hanya akan membahas tentang motor dan embel-embelnya yang sama sekali tidak kupahami. Aku bisa bertahan dengannya hanya karena kami mempunyai hobi yang sama, yaitu jalan-jalan. Deni seringkali mengajakku pergi bersama teman-temannya. Aku merasa senang walaupun terkadang aku yang membayar bensin motornya atau mentraktir dia makan karena dia tidak mempunyai cukup uang untuk itu. Deni tidak mempunyai gaji bulanan seperti halnya aku yang bekerja menjadi buruh pabrik. Deni membuka usaha bengkel modifikasi motor yang tidak dikelola dengan baik karena Ia lebih sering berkumpul dengan teman-temannya sesama klub motor daripada mengelola usahanya sendiri. Itulah salah satu alasan mengapa aku merasa tidak mempunyai masa depan bersamanya.
“Klik” terdengar suara pintu kamar kostanku terbuka. Aku melihat Deni berdiri diambang pintu. Aku menata hati sedemikian rupa dan meyusun berbagai kata yang akan kusampaikan kepadanya seraya beranjak dari tempat dudukku.
“Jadi begini kelakuan kamu dibelakangku” kalimat pertama yang Deni ucapkan begitu mengagetkanku. Aku hanya bisa diam seribu bahasa. Tak ada niatku untuk meminta maaf padanya karena aku merasa tidak melakukan kesalahan padanya.
“Aku begini juga karena kamu!” tak kusangka kata-kata itu yang akan keluar dari mulutku.
“Kamu orangnya terlalu cuek, kalau bertemu selalu yang dibahas tentang kamu, tak pernah sekalipun kamu peduli akan keadaanku” aku menaikkan nadaku lebih tinggi daripada kalimat sebelumnya.
__ADS_1
“Kalau aku gak peduli ngapain aku malem-malem kesini bawain kamu makanan. Aku khawatirin kamu yang katanya lagi sakit. Aku takut kamu belum makan. Tapi yang dikhawatirinnya malah selingkuh!” papar Deni.
Kulihat Deni menenteng sebuah kresek hitam yang kukira isinya beberapa tusuk sate karena kulihat ada beberapa lidi menonjol dari dalam kresek.
‘Makanan kesukaanku’ pikirku. Tapi jangan-jangan dia ngutang tuh sate, trus nanti setelah aku makan dia nagih uang satenya.
“Dia itu cuma temen” aku merendahkan nada suaraku.
“Kalau dia cuma temen kenapa kamu bohong padaku untuk bisa pergi bersamanya?” tanyanya. “Kamu selingkuh sama dia kan?” tanyanya lagi.
“Oke dia emang baik sama aku, perhatian sama aku, beda banget sama kamu. Tapi tetep aja kami itu cuma temen” terangku. “Sebaiknya kamu pulang, aku pengen sendiri dulu” lanjutku.
Ada rasa sedih dan kecewa terlihat jelas dimatanya. Mungkin dia berharap aku akan meminta maaf atas kejadian malam ini, lalu dia akan memaafkanku dan malam ini akan diakhiri dengan makan sate bersama dan kemudian saat dia akan pulang dia akan meminta tagihan sate kepadaku.
‘Kok jadi mikirin sate’ pikirku yang kemudian segera ku tepis.
“Yaudah aku pulang dulu,” katanya kemudian. “Ini ada sate kesukaan kamu, makanlah” lanjutnya. Lalu dia meninggalkanku yang masih berdiri diambang pintu. Aku lantas menutup pintu dan menghampiri Nita yang sedari tadi nguping pembicaraan kami dibalik tirai pembatas antara kamar tidur dan ruangan serbaguna ini.
“Nit, makan yuk.. laper” kataku pada Nita. “Nih ada sate pemberian Deni” lanjutku. Kami berdua duduk berhadapan sambil membuka bungkus sate. Hening seketika. Kami terhanyut dalam pikiran kami masing-masing.
“Eh Ra... kamu udah bentak-bentak Deni, udah ngecewain Deni tapi sate dari dia kamu makan juga” kata Nita memecah keheningan.
“Lah apa salah si sate? Marah sama orangnya boleh, tapi jangan melampiaskan kemarahan kita pada makanan dong” jawabku seraya mengambil satu tusuk sate dan kemudian memasukkannya kedalam mulut.
Nita tidak menjawab. Dia hanya mengerlingkan matanya kearahku. Akhirnya kami habiskan satu bungkus sate berdua tanpa perbincangan apapun. Aku sangat tidak ingin membahas lebih lanjut apa yang sudah terjadi malam ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.05 tengah malam, tapi mata ini masih juga belum bisa terpejam. Masih terbayang bagaimana kejadian beberapa jam yang lalu diluar kamar kostku. Kulihat Nita sudah terlelap disampingku. Nita memutuskan menginap di kostanku malam ini. Ah Umar... aku tiba-tiba teringat akan dirinya. Bagaimana keadaannya saat ini. Aku belum meminta maaf padanya karena acara malam ini gagal total gara-gara kedatangan Deni. Kuputuskan untuk mengiriminya pesan singkat. Kuraih tas kecil yang ada disampingku dan mengeluarkan ponselku didalamnya. Saat kutekan tombol power ternyata ada satu pesan masuk dari Umar.
[Meera kamu baik-baik aja kan?] satu pesan dari Umar membuatku sedikit tersenyum. Ah bagaimana bisa dia masih begitu perhatian setelah perlakuan buruk Deni padanya. Bukannya seharusnya aku yang bertanya demikian padanya? Pikirku.
[Maafin aku ya Umar] jawabku. Satu kalimat singkat karena sesungguhnya aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
[Gpp kok, gausah dipikirin. Bobo gih udah malem] balasnya. Ah perhatian seperti ini yang membuatku menyukainya. Perhatian yang tidak kudapatkan dari Deni, kekasihku. Akhirnya malam ini aku tertidur dengan sedikit senyuman dibibirku.
__ADS_1