CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 17


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu dari semenjak aku mendapat kabar perihal kepergian Habibie yang tanpa kabar. Ujian Nasional sudah didepan mata. Bagaimanapun aku harus tetap semangat untuk menyelesaikan pendidikanku. Ini demi kedua orang tuaku. Mereka sudah bersusah payah mengantarkanku hingga sejauh ini.


Dan lagi aku kembali mengingat janji Habibie yang akan melamarku begitu aku lulus SMA. Sejauh ini, Habibie tidak pernah ingkar akan janjinya. Aku masih berharap dia akan tiba-tiba datang kerumah bersama keluarganya untuk melamarku. Mengingat itu semua semangatku perlahan kembali. Aku yakin Habibieku akan kembali, Segera.


Hari ujian pun tiba. Aku bersyukur karena soal-soal yang diujiankan ternyata bisa kuselesaikan. Walaupun ada beberapa yang tidak bisa ku kerjakan, tapi itu hanya sebagian kecil saja. Aku yakin bisa lulus, Semoga.


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari kelulusan. Kami semua berkumpul di lapangan untuk menerima surat kelulusan kami. Dan sesuai harapan, aku lulus. Aku bergegas pulang untuk memberi tahukan kepada kedua orang tuaku perihal kabar membahagiakan ini.


Kedua orang tuaku sangat bahagia mendengar kabar kelulusanku. Kemudian mamah bertanya perihal rencanaku selanjutnya. Aku bimbang, bingung harus menjawab apa. Aku tidak mungkin mengatakan kepada kedua orang tuaku bahwa seseorang akan melamarku. Saat ini semua masih belum jelas. Aku harus secepatnya bertemu dengan Habibie, bagaimanapun caranya.


Hampir setiap hari aku berjalan-jalan melewati gerbang pesantren. Berharap aku menemukan Habibieku disana. Mungkin dia sudah pulang. Aku hanya ingin bertemu dengannya, memastikan hubungan kami. Tapi nihil, aku tidak menemukan apa yang aku cari.


Hingga tanpa terasa penantianku sampai di bulan Ramadhan.  Aku berdoa setiap hari agar aku bisa bertemu dengan Habibie. Mamah bilang berdoa pada bulan Ramadhan akan terkabul. Keinginanku hanya satu, bertemu dengan Habibieku untuk mendapatkan kejelasan tentang hubungan kami.


Tiba dipenghujung Ramadhan, doaku masih belum terkabul. Aku putus asa, kecewa, dan aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bahkan aku tidak menyiapkan plan B. Selama ini aku hanya memiliki satu rencana, menikah dengan Habibie dan hidup bahagia.


Takbir menggema, menandakan Ramadhan telah usai dan tiba saatnya perayaan hari idul fitri. Kupandangi gamis ditangan, gamis pemberian Habibie. Tanpa aba-aba air mata meleleh dipipi. Aku begitu rindu, rindu akan sosok kekasihku yang telah menghilang. Aku rindu senyumannya, suaranya, aroma tubuhnya, aku merindukan semua hal yang ada pada dirinya.


Aku berangkat bersama orang tuaku untuk menunaikan shalat idul fitri berjamaah. Setelah itu dilanjut dengan silaturahmi antar warga. Kami bersama beberapa warga lainnya masuk ke area pesantren. Tiba-tiba jantungku berdetak lebih kencang. Aku melihatnya, ya dia adalah Habibie, Habibieku ....


Habibie nampak sedang bercengkrama dengan beberapa orang disana. Aku terpaku melihatnya. Dunia seakan berhenti berputar. Tiba-tiba Habibie menoleh. Mata kami bertemu untuk beberapa saat. Nampak kerinduan yang sama terpancar disana.


Deg


Inginku lari kearahnya dan memeluknya dengan erat seraya mengatakan, ‘jangan pergi ... jangan pergi lagi sayang, aku mencintaimu ... aku mencintaimu ... aku mencintaimu.”


Kuusap air mata yang menetes di pipi. Pun ku lihat Habibie melakukan hal yang sama. Yang bisa kami lakukan saat ini adalah tersenyum dalam haru, dikejauhan.

__ADS_1


Ditengah hiruk pikuk suasana pesantren tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil yang terparkir di depan pintu gerbang pesantren. Satu orang laki-laki dan dua orang perempuan turun dari mobil tersebut. Sambutan hangat dari keluarga pak kyai. Rupanya beliau adalah sahabat pak kyai. Dan kedua perempuan yang menyertainya adalah istri dan anak beliau.


Kudengar ibu-ibu disekitarku mulai berbisik-bisik.


“Oh itu calon mantu pak kyai.”


“Cantik yah.”


“Kayaknya alim, jilbabnya lebar gitu.”


“Cocok lah sama pak ustadz.”


“Tapi kabarnya pak ustadz sudah punya calon sendiri.”


“Iya, tapi uminya gak setuju. Uminya pengen sama yang setara ilmu agamanya.”


Hatiku sakit mendengar semua yang dikatakan ibu-ibu itu. Kulirik Habibie. Dia nampak tersenyum seraya menyalami sahabat dari abinya tersebut. Kulihat gadis berjilbab lebar itu tengah memperhatikan Habibieku. Dia tersenyum malu-malu. Tak ingin menyaksikannya lebih lanjut, akupun memutuskan untuk pergi.


“Ameera tunggu!” Aku menghentikan langkah begitu menyadari seseorang tengah memanggilku. Aku berbalik ke belakang. Nampak seorang pria yang kehadirannya sangat aku rindukan tengah berlari kecil kearahku.


Oh Tuhan ... terimakasih, terimakasih karena telah mengabulkan doaku.


Canggung, itulah yang kami rasakan saat kami saling berhadapan. Aku menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang sangat ingin aku lakukan.


“Seseorang memfitnahku Ra,” Habibie mulai bercerita, “dan karena fitnah itu, umi sangat marah. Umi mengirimku untuk tinggal di rumah nenek. Maaf aku tidak mengabarimu. Sulit bagiku untuk menemuimu, aku sudah berusaha, percayalah.”


“Umi percaya begitu saja?” tanyaku penasaran.

__ADS_1


Habibie nampak menghela nafas panjang, “sebelumnya umi bertanya padaku perihal kebenaran kabar tersebut. Dan aku menjelaskan yang sebenarnya. Dimata umi aku tetap salah.”


“Maaf.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Bagaimanapun aku turut andil dalam kesalahan itu.


“Dan gadis itu? Siapa gadis itu? Aku dengar, dia akan dijodohkan dengan Aa?” Hatiku bergetar, tidak ingin mendengar jawabannya.


“Alifa, namanya Alifa. Dia adalah putri dari sahabat abi. Dan ya, kamu benar kami memang dijodohkan.” Nampak kekecewaan di raut wajah Habibie.


Aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi. Kubiarkan mengalir begitu saja. Aku tidak berniat untuk mengusapnya atau menghentikannya. Aku ingin melepas kesedihan ini segera. Ingin meluapkan rasa sesak di dada. Bukan pertemuan seperti ini yang kuharapkan bersama Habibie.


Habibie nampak kebingungan melihatku yang semakin terisak, “hei, jangan menangis. Tolong, tolong beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini. Beri aku waktu untuk meyakinkan umi tentang pilihanku. Kalau perlu aku akan menentang umi demi kamu Ra. Aku mohon, berhentilah menangis.”


Aku menggelengkan kepala mendengar pernyataan Habibie, “tidak A, aku tidak mau menjadikanmu anak durhaka. Mungkin kita memang tidak berjodoh.”


“Maksud kamu, kamu menyerah Ra?” tanyanya gusar.


Aku mengangukkan kepala sebagai jawaban, “ini yang terbaik A.” Lalu membalikkan badan untuk meneruskan perjalananku menuju rumah.


“Ameera tunggu!” seru Habibie. “Aku mencintamu.” Katanya kemudian.


Ku hentikan langkah kakiku sejenak. Hatiku berdesir. Sungguh, inilah kata-kata yang sangat ingin aku dengar darinya selama ini. Tapi aku sudah mencapai pada satu keputusan. Aku tidak akan berbalik lagi, atau hatiku akan luluh.


Beberapa langkah ku menjauh, aku masih bisa mendengar suara Habibie, “tunggu aku Ameera, begitu aku sudah bisa meyakinkan umi, aku akan datang padamu.”


Aku terus berjalan menjauh dari Habibie. Tak sekalipun aku menoleh lagi kearahnya. Aku takut, takut hati yang rapuh ini akan kembali berharap padanya. Dan itu tidak boleh terjadi. Habibie terlalu jauh untuk aku gapai. Walaupun didalam hati kecilku aku masih berharap suatu hari Habibieku akan datang.


‘Aku juga mencintaimu sayang, Habibieku ....’ Satu kalimat yang selalu ada dihatiku, yang tidak pernah kukatakan padanya.

__ADS_1


Flashback off ...


***


__ADS_2