CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 18


__ADS_3

Hari ini aku kembali ke tempat kerja. Tapi ragaku saja yang berada disini, tidak dengan hati dan pikiranku. Sebuah pesan singkat benar-benar telah mengubah hidupku. Aku berjalan kesana kemari seperti zombie. Tidak satupun pekerjaan yang bisa ku selesaikan dengan baik. Teman-temanku mengira aku masih sakit. Mereka akhirnya mengambil alih pekerjaanku dan memberikanku pekerjaan lain yang lebih ringan.


Setiap kali ada yang bertanya mengenai keadaanku, aku hanya bisa menangis. Aku sama sekali tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku hidup bagai tanpa tujuan, tanpa harapan. Jam istrirahat yang biasanya aku pakai untuk makan siang, tidak kali ini. Aku menghabiskan waktu di pojokan pabrik yang tidak banyak dilalui orang-orang.


Hari liburpun tiba. Nita menemaniku di kamar. Nampak kekhawatiran terpancar di raut wajahnya. Namun dia sama sekali tidak banyak bertanya. Nita hanya menawariku beberapa makanan, tapi semuanya ku tolak. Bahkan Nita membawakanku seblak kesukaanku pun aku menolaknya. Entah kenapa aku tidak berselera untuk makan.


Aku memang tidak pernah menceritakan kepada siapapun mengenai masa laluku. Masa lalu yang aku fikir sudah berhasil aku lupakan, namun ternyata kenyataannya tidak demikian. Aku dan Habibie sudah berjanji akan merahasiakan hubungan kami. Bukankah rahasia memang seharusnya tetap menjadi rahasia?


“Ra, mumpung libur kita jalan-jalan yuk? Masa hari minggu dirumah aja.” Pada akhirnya Nita membuka suara.


Minggu? Hari ini hari minggu? Aku tersadar akan satu hal. Dan akupun kembali meneteskan air mata. Ini hari itu kan? Aku yang bodoh malah menangisi hari bahagia orang lain. Pasti mereka saat ini tengah berbahagia. Berdua bersanding di pelaminan.


Melihatku kembali menangis, Nita nampak salah tingkah. Dia menepuk-nepuk punggungku untuk sekedar menghiburku. Walaupun aku tidak terhibur dengan caranya, aku sungguh berterimaksih karena dia berada disampingku disaat aku dalam keadaan buruk.


Suara motor sayup-sayup terdengar diluar kostan dan nampak berhenti. Beberapa detik kemudian disusul suara ketukan pintu. Nita beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu. Nampak wajah Umar berada di balik pintu.


Melihat Umar aku kembali tersadar akan masa kini. Dan ya, aku berhutang permintaan maaf padanya perihal hari ulang tahunku. Umar tersenyum kearahku dan akupun tersenyum kearahnya. Aku sedikit bangga pada diriku yang masih bisa mengontrol emosi agar tidak berbuat sesuatu yang akan kusesali nantinya.


Kami berdua duduk di kursi didepan kamar kostanku. Tempat khusus untuk menerima tamu. Sedangkan Nita berinisiatif untuk membelikan kami minuman dan cemilan.


“Kamu baik-baik saja Bu? Wajah kamu pucat, dan mata kamu juga sembab.” Umar nampak memperhatikan keadaanku.


“Aku memang kurang enak badan,” jawabku, “oh iya, aku mau minta maaf sama kamu. Nita bilang dihari ulang tahunku kamu datang kesini ya?”


Umar sedikit menundukkan kepala. Sepertinya dia memang kecewa saat itu. Atau saat ini? Entahlah.


“Kamu pasti kecewa sama aku ya?” tanyaku pada akhirnya.


Umar menatapku dengan serius, “sebenarnya bukan ketidak beradaanmu saat itu yang membuatku kecewa bu, aku bisa memahami itu karena kamu tidak tahu aku akan datang. Tapi ... aku sungguh kecewa bahkan saat kamu tahu aku datang, kamu tidak berusaha menghubungiku untuk sekedar minta maaf atau setidaknya basa-basi menanyakan kabarku. Aku yakin kamu tahu kabar kedatanganku bukan hari ini. Tapi bahkan kamu tidak berusaha mencariku ketika aku tidak menghubungimu sama sekali.”

__ADS_1


Aku terhenyak mendengar kejujuran Umar. Ya, aku baru menyadari kalau semenjak hari itu Umar tidak pernah menghubungiku. Aku terlalu terfokus pada masa laluku hingga aku melupakan seseorang yang saat ini ada di sampingku.


“Maaf,” ucapku lirih.


“Kamu tidak perlu meminta maaf bu. Aku saja yang tidak tahu diri, berharap kamu akan merindukanku dan kemudian mencariku. Seharusnya aku cukup bersyukur kamu menerima cintaku, jangan berharap sesuatu yang berlebihan.” Nampak kekecewaan menggelayut di raut wajah Umar. Dia menatap lekat-lekat ujung kakinya. Entah apa yang membuat sepasang kaki terlihat menarik baginya.


Aku semakin merasa bersalah karenanya. Umar pria yang baik. Tidak seharusnya aku menyakitinya. Dia hanya ingin aku merindukannya. Bukankah seharusnya begitu perasaan seorang gadis terhadap lelakinya?


“Umar, jangan membuatku merasa bersalah seperti ini. Maafkan aku,” pintaku.


Umar menoleh kearahku, “sebenarnya bagaimana perasaanmu kepadaku bu? Apa kamu juga mencintaiku seperti aku mencintaimu?” tanya Umar, namun dia nampak meralat pertanyaannya, “tidak. Apa setidaknya ada cinta sedikit saja dihatimu untukku bu?”


“Ke-kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanyaku gugup.


Umar nampak akan menjawab pertanyaanku ketika tiba-tiba Nita muncul dengan satu kresek belanjaan.


“Hei ... hei ... hei ... kalian lagi ngobrolin apa sih, serius banget,” ucap Nita seraya mengeluarkan isi di dalam kresek diatas meja.


tidak meresponnya, lebih tepatnya pura-pura tidak mengerti arti tatapannya. Pun dengan Nita yang nampak betah berlama-lama di dekat kami seraya memakan camilan yang dia bawa.


“Boleh numpang ke toilet?” tanya Umar.


Aku mengangguk dan bermaksud bangun dari duduk untuk menunjukkan arah toilet kepada Umar. Namun Umar mencegahnya, “aku sudah tau letak toiletnya. Kamu tunggu saja disini.”


Aku mengangguk setuju dan mendudukkan tubuhku kembali diatas kursi.


“Bentar yah kayaknya hape aku bunyi Ra, barangkali mamah aku yang nelpon,” ucap Nita seraya berdiri menuju kamarnya.


Tinggallah aku sendiri disana. Tanpa melakukan apa-apa. Rasanya malas sekali untuk sekedar bergerak. Aku hanya ingin diam dan memikirkan hal-hal yang membuatku bahagia. Tapi ternyata aku tidak menemukannya. Begitu besar kah pengaruh Habibie dalam hidupku?

__ADS_1


Ditengah lamunanku, seseorang nampak menghampiriku dan kemudian duduk disampingku.


“Sayang kamu kenapa kok melamun sendirian disini?” ucapnya seraya membelai lembut rambutku yang masih acak-acakan.


Aku tersentak kaget, “kak Heru? Kenapa kakak ada disini?”


“Aku nanya kok gak dijawab? Kamu gak suka aku kesini?” tanyanya dengan memasang wajah pura-pura kecewa.


“Bu-bukan begitu tapi—“


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Heru memotong, “sudahlah aku becanda, aku kesini karena mau nganterin baju kamu. Sepertinya kamu lupa membawanya pas pulang nginep dari rumah aku. Oiya, tadi ibu juga nitipin ini buat kamu. Kata ibu, kapan kamu mau main kerumah lagi? Sepertinya ibu sudah kangen sama kamu tuh.”


Kulirik barang yang diletakkan Heru diatas meja. Sebuah paperbag dan satu set rantang yang terdiri dari empat susun. Ah ibu, aku sungguh sangat beruntung mendapatkan perhatian darinya. Disaat aku merantau jauh dari keluarga, aku menemukan keluarga lain disini. Dengan kasih sayang dan perhatian yang sama.


“Terimakasih,” ucapku lirih.


“Sama-sama sayang,” jawab Heru seraya mengacak-acak rambutku yang sudah acak-acakan.


“Oiya, aku gak bisa lama. Biasa ada kerjaan. Kamu gak papa aku tinggal?” tanyanya.


Aku mengangguk, “iya gak papa kok.”


Heru nampak tersenyum mendengar jawabanku, “yaudah aku pergi dulu ya sayang, jangan lupa makanannya dimakan.”


Heru beranjak dari tempat duduknya. Aku mengikuti langkahnya dibelakang. Heru mengecup pucuk kepalaku, memberikan belaian disana untuk kemudian beranjak pergi. Aku masih mematung di tempat yang sama sampai Heru benar-benar tidak nampak dari pandangan mata.


Aku membalikkan badan, bermaksud untuk kembali ke tempat dudukku semula. Betapa terkejutnya aku melihat seseorang berdiri dalam diam dengan raut wajah merah padam tengah menatapku tajam.


“Umar?” ucapku lirih.

__ADS_1


***


__ADS_2