
“Ra...Meera!” suara Nita menyadarku dari lamunan.
“Eh iya, kenapa Nit?” kataku seraya bangun dari tempat tidur.
“Ada telpon.”
Kuraih ponselku yang tergeletak diatas meja. Sejak kemarin aku tidak membuka ponsel. Kubaca tulisan yang ada dilayar depan ‘Umar calling’.
“Halo”
“Halo Meera, kamu kemana aja? Sejak kemarin aku es em es gak dibales, aku telpon gak
diangkat. Kamu baik-baik aja kan?” cecarnya.
“Aku baik kok Umar,” jawabku, “kemarin pulang kerja aku main ke kostan Ani, pas mau pulang ternyata ujan gede, jadi aku nginep. Ini baru nyampe kostan” lanjutku.
“Sukur deh kalo kamu baik-baik aja. Ngomong-ngomong kamu hari ini ada acara gak? Main yuk” ajaknya
“Kemana?”
“Agung ngajakin kita makan-makan di rumahnya,” jawabnya “sekalian ajak Nita” lanjutnya.
“Oke, jam sepuluhan aja yah aku mau beres-beres kostan dulu”
“Oke” tut...tut...tut... panggilan telpon pun terputus.
“Nit, Umar ngajakin kita makan-makan di rumah Agung”
“Kamu yakin mau pergi?”
“Iya, bete juga hari libur di kostan terus. Kamu gak ada acara keluar kan?”
“Gak ada kok”
“Oke, jam sepuluh yah”
“Sip”
Tepat pukul sepuluh aku dan Nita pergi menuju rumah Agung dengan menggunakan sepeda motor matic milik Nita. Tidak sepertiku yang berasal dari keluarga kurang mampu, Nita mempunyai latar belakang keluarga sedikit lebih kaya daripada aku. Nita merupakan anak satu-satunya di keluarganya. Kami bersahabat karena mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempunyai kemandirian secara finansial.
Sekitar dua puluh menit perjalanan dengan bimbingan Umar via telpon, akhirnya kami pun sampai di depan rumah Agung. Nampak Umar dan Agung tengah berada di teras rumah Agung sambil ngobrol.
__ADS_1
“Susah gak cari alamatnya?” tanya Umar ketika kami sudah turun dari sepeda motor dan berjalan kearah mereka berdua.
“Hemm... lumayan, kami belum pernah ke daerah sini soalnya” jawabku jujur.
“Masuk yuk” ajak Agung
Kami melangkahkan kaki masuk kedalam rumah yang cukup sederhana itu. Suasana didalam rumah cukup sepi. Disana hanya ada kami berempat saja.
“Kok sepi, orang tua kamu kemana Agung?” tanyaku jujur
“Agung disini Cuma tinggal sendiri, orang tuanya tinggal di luar kota” rupanya Umar yang menjawab pertanyaanku
Agung mempersilakan kami untuk duduk di karpet yang tergelar ruang tamu rumahnya. Rumah Agung hanya terdiri dari beberapa ruangan saja. Nampak sebuah kamar yang kuyakini itu adalah kamar Agung yang bersebelahan dengan dapur mini dan disebelah dapur mini tersebut ada sebuah ruangan tertutup yang ku yakini itu adalah kamar mandi.
Kami berempat berbincang sambil mempersiapkan menu makan siang untuk kami berempat. Kami berencana akan membuat nasi liwet ikan asin, goreng tahu dan tempe, serta sambal dan lalapannya. Menu sederhana tapi sangat menggugah selera. Nampak Agung sebagai tuan rumah dengan cekatan memasak nasi liwet serta lauk pauknya. Aku jadi malu sendiri karena sebagai perempuan justru aku tidak bisa memasak.
Dari perbincangan kami akhirnya aku tahu kalau Agung berasal dari kota yang sama dengan Umar. Agung dan Umar sama-sama datang ke kota ini namun dengan tujuan yang berbeda. Sama halnya denganku, Umar datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan. Berbeda dengan Agung yang saat ini sedang menempuh pendidikan semester empat untuk mendapatkan gelar sarjana di salah satu universitas cukup ternama di kota ini. Dari caranya bertutur kata sangat nampak jelas dia orang yang berpendidikan. Tiba-tiba terbersit suatu kekaguman dihati kecilku kepada Agung. Dengan wajah yang tampan, tutur kata sopan, berpendidikan, serta pandai memasak, membuat Agung mempunyai nilai plus dimataku.
Sekitar pukul dua belas siang makanan sudah siap tersaji. Kami menikmati suapan demi suapan sambil bercerita sambung menyambung topik. Nita sudah tidak malu-malu lagi seperti pertemuan pertamanya dengan Agung. Dia tampak menimpali setiap bahasan yang Agung lontarkan. Nampak ketertarikan diantara mereka berdua, dan entah mengapa aku menjadi cemburu karenanya.
Sekitar pukul empat sore aku dan Nita pamit pulang. Kulihat sebuah senyum tersungging dari bibir Agung ditujukan kepada Nita setelah sebelumnya mereka saling bertukar nomor ponsel. Dan entah mengapa aku tidak suka melihatnya.
“Hati-hati dijalan yah” ucap Umar padaku.
Entah mengapa keberadaan Umar disana sempat terlupakan olehku yang lebih tertarik dengan orang yang sedang mengobrol dengan Nita.
Diperjalanan pulang aku lebih banyak terdiam. Aku hampir melupakan tujuan utamaku bersama Umar untuk mengajak Nita adalah untuk mendekatkannya dengan Agung, teman Umar tersebut.
“Hemm.. Nit, bagaimana dia menurutmu?” tanyaku memecah kebisuan.
“Siapa?” tanya balik Nita.
“Agung” jawabku singkat.
Nita nampak diam sejenak. Kulihat sepintas dari kaca spion dia sedang tersenyum. Senyuman yang sama seperti orang yang sedang jatuh cinta. Dengan melihat senyumannya saja aku sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sebelumnya. Aku yakin Nita menyukai Agung. Entah mengapa terbersit rasa penyesalan dihatiku. Entah mengapa aku menginginkan Agung untuk diriku sendiri, bukan untuk Nita.
***
Seminggu berlalu semenjak kami makan bersama di rumah Agung. Nita dan Agung nampak semakin akrab. Mereka intens saling bertukar kabar dan cerita via ponsel. Nita beberapa kali menunjukkan isi pesan singkat dari Agung yang isinya mengenai obrolan-obrolan seputar berita yang tengah viral di televisi. Bukan tentang berita perceraian artis, tetapi lebih kepada berita politik dan hukum yang sama sekali tidak membuatku tertarik. Terkadang Nita harus mencari referensi tentang apa yang dibahas Agung di gugel agar dia terlihat memiliki wawasan yang luas. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Tring” bunyi notifikasi yang menandakan bahwa ada satu pesan masuk ke ponselku.
__ADS_1
[hai Ra... lagi apa?] kubaca pesan masuk yang ternyata dari Umar.
[baru beres nyuci baju, sekarang lagi rebahan aja sambil nonton tv] jawabku jujur.
[keluar yuk] balasnya kemudian.
Sejenak aku menimbang ajakan Umar, belum ku balas sampai beberapa menit
[kamu lagi sibuk ya?] karena tidak kunjung ku jawab, dia kembali mengirimkan pesan
[engga kok, ayo aja sih mau kemana?] jawabku kemudian
[kamu siap-siap aja, bentar lagi aku jemput] balasnya kemudian.
Aku bangun beranjak ke kamar mandi. Sebenarnya aku ingin sekali memanfaatkan hari libur bekerja ini hanya untuk rebahan saja di kostan. Aktifitas di pabrik yang sangat padat membuatku merasa penat dan lelah. Suara mesin yang memekakkan telinga, aroma bahan kimia yang memenuhi seluruh ruangan pabrik, cacian dan makian para senior kepada juniornya yang melakukan kesalahan, dan suhu yang sangat panas didalam pabrik yang diatapi dengan asbes. Semua itu sudah jadi pemandangansehari-hari bagiku.
Aku mulai menimba air kedalam ember dengan malas. Setelah penuh aku dorong masuk kedalam kamar mandi dan memulai aktifitas mandi di dalam sana. Guyuran air dari gayung membasahi seluruh tubuhku. Rasa malasku mulai pergi seiring dengan mengalirnya air yang jatuh kebawah tubuhku.
‘Tok...tok...tok...’ suara ketukan pintu terdengar dari luar
“Siapa?” kataku setengah berteriak karena merasa ada yang mengganggu aktifitas mandiku.
“Neni... kamu lagi mandi apa semedi sih Ra lama banget, buruan aku juga mau mandi” kata orang diluar pintu dengan nada suara tak kalah tinggi.
Rupanya yang mengetuk pintu tadi adalah tetangga kostanku yang akan mandi juga. Aku segera mempercepat ritual mandiku karena tidak ingin membuat dia menjadi murka. Bagaimanapun ini adalah kamar mandi umum, dimana penggunanya diwajibkan untuk melakukan aktifitas apapun didalam dengan kecepatan tinggi.
‘Huh, padahal baru juga masuk’ gerutuku dalam hati seraya keluar dari kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian terdengar suara sepeda motor berhenti di depan kostanku. Rupanya Umar sudah datang.
“Nit, aku pergi dulu ya” pamitku pada Nita yang masih noton tv di kamar kostku
“Oke” jawabnya seraya mengacungkan ibu jari dan telunjuknya membentuk hurof O.
Aku segera keluar kamar untuk menemui Umar karena tidak ingin dia menunggu terlalu lama.
“Kita mau kemana?” tanyaku pada Umar ketika aku sampai dihadapannya.
“Udah naik aja dulu nanti juga kamu tahu” jawabnya seraya menyerahkan sebuah helm kepadaku.
Aku segera naik keatas motor Umar setelah sebelumnya memakai helm yang tadi Umar berikan.
__ADS_1
Lebih dari satu jam perjalanan kami, tapi belum ada tanda-tanda Umar akan menghentikan motornya. Aku melihat ke sekeliling karena merasa familiar dengan pemandangan yang aku lalui. Bersama dengan Deni selama dua tahun membuatku tahu banyak daerah kota ini walaupun aku tidak berasal dari sini. Udara sejuk khas pegunungan mulai terasa. Perlahan Umar menghentikan kendaraannya ke tepi. Ku lihat hamparan kebun teh yang sangat luas. Pemandangan disini sangat menyejukkan mata. Tempat ini adalah tempat yang sering aku kunjungi dulubersama Deni. Tiba-tiba ada sedikit kerinduan pada lelaki itu.