
“Umar?” ucapku lirih.
Umar disini? Dia tidak melihat semuanya kan? Tidak, dia pasti melihatnya. Kalau tidak, kenapa ekspresinya menakutkan begitu.
Umar berjalan mendekat kearahku, dan PLAAAKKK ... satu tamparan keras mendarat dipipiku.
Kuraba pipiku yang terasa memanas, sakit sekali. Seumur hidup, baru kali ini aku diperlakukan seperti ini oleh seorang pria. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Ku tatap wajahnya lekat-lekat. Masih tidak percaya seseorang yang katanya mencintaiku bisa setega ini padaku.
Kulayangkan tanganku kearahnya, bermaksud untuk membalas perlakuannya terhadapku. Namun naas, Umar dengan sigap menangkap tanganku dan menghempaskannya kesamping tubuhku dengan kasar.
PLAAAKKK ... tangan Umar kembali mendarat di pipiku yang satunya. Aku yang tidak bisa menjaga keseimbangan akhirnya jatuh tersungkur di bawah kakinya. Cairan merah kental menetes dari sudut bibirku.
Aku segera terbangun menyadari bahwa aku sedang dalam posisi hina saat ini. Mataku nyalang menatap Umar. Sungguh saat ini hanya kebencian yang ada didalam hatiku kepada pria yang sedang berdiri didepanku saat ini.
“Pukul lagi! Ayo pukul lagi!” tantangku kepadanya.
Umar hendak melayangkan satu tamparan lagi. Aku menatapnya tanpa gentar sedikitpun. Aku hanya ingin tahu, sejauh mana dia bisa berbuat.
“Cukup! Ameeraaa ....” Nita setengah berlari kearah kami. Dia mendorong kuat tubuh Umar hingga menjauh beberapa langkah. Lalu menghampiriku.
Nita mengusap darah yang menetes disudut bibirku. Matanya berlinang. Dia nampak sedih melihat keadaanku saat ini.
“Ada apa ini Ra? Kenapa bisa begini?” Nita terlihat sangat khawatir.
Nita berbalik kepada Umar, “ada apa sebenarnya ini? Kenapa kamu menyakiti Ameera?”
Umar maju mendekati Nita. Dia menatap Nita lekat, lalu mengarahkan telunjuknya kearahku, “temanmu ini seorang pela*ur!”
Aku tersentak kaget mendengar tuduhan Umar. Bisa-bisanya dia menuduhku sedemikian buruknya. Nita yang menoleh kearahku pun menunjukkan keterkejutan yang sama.
Nita kembali menoleh kepada Umar dengan marah, “maksud kamu apa?”
“Kamu tidak usah sok polos,” kali ini ucapan Umar ditujukan untuk Nita, “kamu tidak mungkin tidak tahu kalau sahabat kamu ini sudah menjajakan tubuhnya untuk om-om!”
Keributan yang kami timbulkan mengundang semua penghuni kostan untuk berkumpul menonton pertunjukkan dadakan ini. Aku sungguh malu mendapat tatapan yang seolah-olah mencemooh dari mereka semua.
“Kamu jangan bicara sembarangan!” sergah Nita, “aku kenal Ameera, dia tidak seperti apa yang kamu tuduhkan. Dia gadis baik-baik!” Nita bersikeras membelaku.
__ADS_1
Umar tersenyum meledek, “gadis baik-baik mana yang menginap dirumah seorang pria? Bahkan tak segan-segan mengumbar kemesraan ditempat umum.”
“Maksud kamu apa?” Nita kembali bertanya.
Aku melihat sekeliling. Nampak wajah-wajah penasaran itu menatapku dengan tatapan menghinakan. Seolah aku adalah seonggok kotoran yang menjijikkan.
“Cukup ... cukup ..., aku sudah tidak mau mendengar apa-apa lagi.” Aku menutup kedua telingaku. Berharap semua akan berhenti. Tapi tidak, sepertinya Umar masih akan melancarkan aksinya.
Umar mendekat kearahku seraya tersenyum meledek, “kenapa? Kamu malu? Biarkan semua orang tahu siapa sebenarnya dirimu! Kamu perempuan sok suci yang bahkan tidak mau tangannya kupegang. Tapi kamu mau tidur bersama dengan pria itu? Kenapa? Apa karena dia tampan dan kaya? Berapa dia membayarmu? Apa dengan satu rantang makanan ini?” Umar menunjukkan makanan yang tadi dibawa oleh Heru, “ternyata harga tubuhmu begitu murah!”
“Cukup!” Aku sudah muak mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Umar, “silakan kamu pergi dari sini!”
“Rupanya beberapa hari terakhir ini kamu tidak menghubungiku karena terlalu sibuk melayani pria itu kan? Aku menyesal sudah mengkhawatirkanmu!” Aku sudah tidak tahan lagi mendengar ucapan Umar. Aku mendekat kearahnya dan mendaratkan satu tamparan yang cukup keras di pipinya.
Umar melotot kearahku, “berani-beraninya tangan kotormu menyentuhku!”
“Kamu yang kotor!” ucapku dengan nada tinggi, “mulutmu dan otakmu lah yang kotor! Kamu bahkan tidak menanyakan kejadian sebenarrnya sebelum menuduhku macam-macam. Dan lagi, laki-laki mana yang berani menyakiti seorang perempuan? Ingat Umar, kamu bahkan dilahirkan dari rahim seorang perempuan!”
“Jangan samakan kamu dengan ibuku!” Umar nampak marah mendengar aku menyinggung soal ibu, “ibuku adalah wanita suci yang tidak menjual dirinya hanya untuk serantang makanan!”
Umar tersenyum sinis kearah Heru, “ini dia pahlawan kesiangan kita sudah tiba, ha ... ha ... ha ....”
Heru nampak geram melihat kelakuan Umar. Dia kembali mendekat ke arah Umar dan melayangkan tinju lagi di beberapa bagian tubuh Umar. Umar yang mendapatkan serangan bertubi-tubi seperti itu nampak kewalahan. Tidak ada perlawanan berarti dari Umar.
Heru nampak berhenti setelah beberapa orang datang untuk menghentikannya. Beberapa warga sekitar, termasuk pemilik kostan dan pak RT datang secara bersama-sama. Mungkin salah satu dari penonton pertunjukkan sudah melapor.
Sebagian menghentikan Heru, dan sebagian lagi menolong Umar yang penuh dengan luka lebam. Pak RT meminta kami yang bersangkutan untuk duduk bersama untuk menyelesaikan permasalahan kami. Sedangkan yang lainnya diminta untuk membubarkan diri.
Kami semua berkumpul di rumah pemilik kostan. Aku duduk disamping Nita, sedangkan Heru duduk dikursi terpisah yang berada di sampingku, berhadapan dengan Umar yang duduk di seberangnya terhalang oleh meja tamu. Pak RT dan pemilik kostan duduk dihadapanku dan Nita. Kami berenam mengelilingi satu meja tamu yang berada ditengah-tengah kami.
“Baik, pertama-tama bapak akan bertanya kepada kamu dulu,” pandangan pak RT tertuju pada Heru, “kenapa kamu membuat keributan disini? Saya tidak mengenal siapa kamu, sudah pasti kamu bukan warga sini kan? Kamu tahu, karena perbuatanmu ini kamu bisa masuk penjara!”
“Saya tahu pak, mohon maaf atas ketidaknyamanan yang saya buat. Saya hanya ingin melindungi Ameera dari laki-laki ini,” telunjuk Heru mengarah kepada Umar yang sudah mulai pulih dari kepayahan, “dia berani memukul seorang gadis, dan saya tidak bisa menerima itu.”
“Cih,” Umar tersenyum sinis kearah Heru, “kalian berdua sungguh menjijikkan!” kali ini ucapan Umar ditujukan untukku dan Heru.
“Kamu diam dulu!” Pak RT membentak Umar yang berbicara sebelum ditanya.
__ADS_1
Kali ini tatapan Pak RT mengarah kearahku, “benar begitu nak? Apa benar semua yang dikatakannya?”
Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Itu benar pak RT, saya saksinya,” Nita nampak menjelaskan apa yang tadi dia lihat, “dan ini buktinya.” Kali ini Nita menunjuk kedua pipiku yang memerah dan bekas tetesan darah yang tadi sempat dia seka.
Pak RT dan pemilik kostan menggelengkan kepala mereka. Dan mereka menatap tajam kearah Umar. Seolah menghakiminya lewat mata.
“Kenapa kamu memukul seorang gadis? Kamu mau jadi petinju?” tanya pak RT pada Umar.
“Dia sudah mengkhianati saya pak. Mereka berdua selingkuh dibelakang saya!” jawab Umar berapi-api.
Pak RT nampak lebih tenang, sepertinya dia sudah tahu letak permasalahannya, “oh jadi ini gara-gara cinta toh.”
“Bukan cuma itu pak,” Umar nampak akan melanjutkan ucapannya, “Ameera bahkan sudah menginap di rumah laki-laki ini. Siapa yang bisa menjamin tidak terjadi sesuatu diantara mereka. Seorang pria dan seorang gadis tinggal satu atap, cih. Dan gadis baik-baik mana yang tidur dirumah seorang pria kalau bukan seorang pela*ur?”
“Tutup mulutmu!” Heru nampak geram. Dia berdiri sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Umar.
Pak RT segera menenangkan Heru, “jaga sikapmu, silakan duduk kembali.”
Heru mendudukkan kembali tubuhnya dan menatap wajah pak RT, “tuduhan dia tidak berdasar pak, Ameera memang pernah menginap dirumah saya, tapi itu ada alasannya.”
“Dan apa itu alasannya?” tanya pak RT pada Heru.
Heru menoleh kearahku seolah meminta aku saja yang menjelaskan kepada pak RT.
Melihat aku dan Heru hanya diam, Nita berinisiatif bersuara, “Ameera sakit pak. Hari itu Ameera sakit, dia pingsan di tempat kerja. Lalu dokter klinik menyuruhnya untuk pulang. Ditengah perjalanan dia bertemu dengan kak Heru, dan kak Heru membawa Ameera kerumahnya.
Pandangan pak RT beralih kepada Heru, “dan kenapa kamu malah membawanya kerumahmu, bukan pulang ke kostannya sendiri?”
“Karena saya tahu pak, disini dia sendiri, tidak ada keluarga yang mendampingi. Untuk itu saya berinisiatif untuk membawa Ameera pulang kerumah karena dirumah ada ibu saya yang bisa membantu merawat Ameera. Ibu saya sangat menyayangi Ameera seperti putri kandungnya sendiri.”
Pak RT nampak mengangguk-anggukan kepala pertanda mengerti kejadian sebenarnya. Pemilik kostan menundukkan kepala seperti tengah berfikir. Heru menoleh sambil tersenyum kearahku, kemudian membelai kepalaku lembut. Nita yang duduk disampingku merangkul bahuku sambil sesekali mengusap-usapnya. Dan Umar?
Kulihat dia menundukkan dalam kepalanya. Mungkin dia sudah menyesali perbuatannya.
***
__ADS_1