
“Kalau kamu mau, kamu boleh pegangan Ra. Siapa tahu bisa membuatmu merasa nyaman,” ucap Heru ketika kami tengah dalam perjalanan.
Aku mengikuti saran Heru. Kulingkarkan tanganku diperut Heru. Ternyata benar kata Heru, nyaman.
“Sebaiknya kita makan dulu Ra,” ajak Heru.
Tanpa menunggu jawabanku, Heru menghentikan sepeda motornya didepan sebuah rumah makan khas sunda. Kami berdua masuk kedalam. Heru menyuruhku untuk duduk dikursi dipojok ruangan, sementara dia akan mengambilkan makanan untukku.
Rumah makan ini memakai sistem prasmanan, sehingga kita bisa mengambil sendiri menu yang kita inginkan. Setelah itu makanan yang kita bawa langsung dibayar di kasir dan barulah kita bisa menikmatinya.
“Hei kok melamun?” tanya Heru seraya mendudukkan tubuhnya diatas kursi di depanku.
Aku tersenyum kearahnya, “gak papa kok, makasih yah kak.”
“Makan gih, biar kamu berenergi. Perjalanan kita masih panjang,” titah Heru.
Aku meraih makanan yang sudah dibawakan Heru untukku. Menyendoknya kedalam mulutku dengan malas.
“Kak, apa aku pulang saja ya? Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi untuk kembali ke tempat kerja.” Aku sudah membayangkan bagaimana mereka akan menatapku, berbisik-bisik dibelakangku tapi dengan suara keras agar aku bisa mendengarnya.
“Maksud kamu pulang kemana? Ke rumah orang tua kamu?” tanya Heru.
Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban. “Jujur aku lelah kak, aku ingin tidur sejenak dipangkuan mamah.”
“Lalu apa yang akan kamu katakan kepada orang tuamu jika mereka bertanya tentang kepulanganmu yang mendadak ini?” tanya Heru lagi.
__ADS_1
“Aku ... aku ... aku tidak tahu.” Benar. Apa yang nanti aku katakan pada mereka? Dan apa yang akan aku lakukan disana? Aku hanya akan membebani kedua orang tuaku yang sudah tidak muda lagi.
“Jadi menurut kakak, aku harus bagaimana?” tanyaku pada Heru.
“Menurut aku, hal pertama yang harus kamu lakukan saat ini adalah menata hati dan fikiran kamu Ra. Sekarang ini kamu hanya perlu menenangkan diri, melupakan semua kejadian yang terjadi hari ini, dan memulai babak baru kehidupan kamu. Setelah itu, jika kamu tidak mau kembali ke tempat kerja kamu, kamu bisa mencari pekerjaan di tempat lain. Perusahaan di kota ini banyak Ra, bukan cuma satu.”
Aku mencerna setiap kata yang Heru tuturkan. Ya benar, aku harus bangkit. Tidak seharusnya aku terpuruk karena satu masalah seperti ini.
“Untuk masalah tempat tinggal kamu tidak perlu khawatir. Untuk sementara ataupun selamanya kamu bisa tinggal di rumah aku. Ibu pasti sangat senang, dan juga aku.” Heru menatap usil kearahku.
Aku mengerlingkan mata kearahnya, “lagi serius juga, masih aja becanda.”
“Loh, siapa yang becanda. Gini yah Ra, sebenarnya solusinya mudah. Kita nikah, kamu tinggal sama aku, dan hidup bahagia deh. Kamu gak usah mikirin nyari kostan, nyari kerjaan, gimana menurut kamu?” Heru nampak antusias menyampaikan ide konyolnya.
Apa benar bisa sesimpel itu? Apa aku ikuti saja solusi dari Heru? Toh orang yang aku tunggu selama ini sekarang sudah menjadi milik gadis lain.
Dan satu hal lagi, saking shocknya ketika mendapat kabar tentang pernikahan Habibie, aku jadi lupa menanyakan siapa gadis itu? Gadis yang akan dinikahinya? Apakah Alifa?
“Hei, melamun lagi!” Suara Heru berhasil membuyarkan semua lamunanku tentang Habibie. “Sudah selesai makannya?” tanya Heru.
“Sudah kak, ayo kita berangkat.” Aku bergegas berjalan menuju parkiran. Tak ingin Heru membahas tentang pernikahan lagi.
“Hei, tunggu dong Ra. Kalau kamu tidak mau membahas tentang pernikahan kita tak apa, tapi kamu jangan menghindar gini dong.” Heru seakan selalu tahu apa yang ada didalam pikiranku. Atau jangan-jangan Heru bisa membaca pikiran orang lagi. Membayangkannya aku jadi takut sendiri.
Aku mengunjungi satu kostan ke kostan yang lain. Belum ku temukan kostan yang kosong. Jika pun ada yang kosong, tempatnya sangat tidak nyaman.
__ADS_1
Putus asa ..., mungkin itu yang aku rasakan saat ini. Hari ini adalah hari terburuk dalam sejarah hidupku. Hari yang tak akan aku lupakan seumur hidupku. Ditinggal nikah oleh kekasih yang selalu ku tunggu, dipukuli iblis berkedok manusia, dan sekarang diusir dari kostan. Oh Tuhan ... akankah hari ini lebih buruk lagi? Aku sungguh sudah tidak tahan.
“Ra, lebih baik hari ini kamu menginap saja dirumah aku. Hari sudah mau gelap, sepertinya kamu juga sudah lelah.” Heru terlihat sangat khawatir. Tapi tidak bisa ku pungkiri, aku memang sangat lelah. Ingin segera berbaring.
Tapi, bukankah masalah ini bermula ketika aku memutuskan menginap di rumah Heru? Dan sekarang, jika aku kembali melakukan hal yang sama, akankah ada hal buruk lainnya yang akan terjadi? Semoga tidak, karena saat ini aku sudah tidak memiliki tujuan lagi. Akhirnya ku putuskan untuk menerima tawaran Heru.
Motor sudah sampai di parkiran rumah Heru. Suasana sangat sepi. Lampu rumah pun belum dinyalakan.
”Kok sepi kak, sepertinya tidak ada orang,” tanyaku pada Heru.
“Harusnya sih ibu ada di rumah Ra.” Heru bergegas menuju pintu, dan ternyata benar. Pintu dikunci.
Heru merogoh saku celananya, dan mengeluarkan ponsel didalamnya. Kulihat dia sedang mencari sebuah nama didalam kontaknya.
“Halo bu, ibu dimana? Kok rumah dikunci?”
“Oh ... iya, yaudah, bye ....”
Heru berjalan mendekatiku, “Maaf Ra, ibu sedang ada urusan diluar. Sepertinya tidak akan pulang malam ini. Sedangkan kunci rumah dibawa sama ibu.”
Aku lemas mendengar penuturan Heru. Harus kemana lagi aku pergi? Aku jadi terlantar seperti gelandangan.
Heru menatapku dengan ekspresi penuh penyesalan. Dia berjalan mondar-mandir didepanku seperti tengah memikirkan sesuatu.
Setelah beberapa saat aku melihatnya melakukan hal yang sama, Heru menoleh ke arahku seraya tersenyum, “aku tahu, ayo ikut aku Ra.”
__ADS_1
***