
Tanpa terasa seminggu berlalu dari semenjak aku tinggal disini. Aku mulai merasa bosan. Hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa. Bagaimanapun aku tidak akan selamanya tinggal disini. Aku sudah harus memikirkan langkah apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
“Kenapa Ra, kok melamun?” tanya Heru.
“Aku mau cari kerja lagi kak,” jawabku.
“Bagus lah kalau kamu mulai semangat lagi. Kamu mau kerja apa?” tanyanya kemudian.
“Aku gak punya keahlian khusus sih. Mungkin melamar ke pabrik lagi.”
“Yaudah kamu siapin aja lamarannya, nanti senin aku anter.”
“Kakak emang gak ke kantor? Kok bisa cuti lama banget.”
“Udah kamu gak usah mikirin itu. Aku baru bisa kerja dengan tenang kalau sudah memastikan kamu baik-baik saja.”
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut diluar pondok. “Ada apa ya kak?”
Aku dan Heru beranjak berdiri dan mengintip dari balik jendela. Sekumpulan orang-orang tengah berjalan mendekati pondok kami. Mereka terlihat sangat marah. Beberapa dari mereka bahkan terlihat membawa senjata tajam. Samar-samar terdengar apa yang sedang mereka teriakkan.
“Usir!”
“Sampah masyarakat!”
“Zina!”
“Pasangan kumpul kebo!”
“Bawa ke kantor polisi!”
Heru segera menoleh ke arahku dengan panik, “Ra, sebaiknya kamu pergi dari sini. Sekarang!”
“Ta-tapi apa yang terjadi kak?” tanyaku takut.
__ADS_1
“Pasti ada yang melaporkan kita ke pengurus setempat. Mungkin mereka marah karena menganggap kita pasangan kumpul kebo.”
“Hah? Apa? Tapi itu kan tidak benar kak. Kita bisa jelaskan keadaan kita baik-baik pada mereka.”
“Kamu tidak lihat wajah-wajah mereka? Yang ada nanti kita akan ditelanjangi lalu diarak keliling desa. Sekarang kamu pergi! Lewat pintu belakang saja. Kamu lari saja ke arah utara, nanti disana ada jalan besar. Dan ingat, apapun yang terjadi kamu jangan pernah menoleh lagi kebelakang. Aku akan mencoba menahan mereka disini.”
Sesuai arahan Heru, aku keluar melalui pintu belakang. Sambil mengendap-ngendap, aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah dirasa aman, aku segera lari menjauh dari pondok. Aku hanya berharap bahwa aku berlari ke arah yang benar.
Entah sudah berapa lama aku berlari, rasanya energiku sudah habis. Keringat mengucur dari segala arah, nafas tersengal-sengal, dan kaki yang terasa terlepas dari persendian. Tetapi aku belum menemukan tanda-tanda jalan besar yang dikatakan Heru. Apa mungkin aku salah arah?
Karena sudah sangat lelah, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan saja. Aku fikir, aku sudah berlari cukup jauh. Tidak mungkin terkejar lagi. Saat ini aku hanya berharap Heru baik-baik saja dan dapat mengatasi segalanya disana.
Entah berapa lama aku berjalan. Kulihat matahari sudah berpindah. Kini bersinar di depanku, yang berarti hari sudah sore. Aku berhenti mengingat sesuatu. Kalau saat ini aku berjalan menuju kearah terbenamnya matahari itu berarti aku berjalan kearah barat kan? Bukannya matahari beredar dari timur ke barat? Jadi aku benar-benar tersesat?
Aku terduduk lemas diatas tanah. Tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Entah sejak kapan aku berubah arah? Atau mungkin memang sejak awal aku sudah berlari ke arah yang salah? Atau aku kembali saja ke pondok? Mungkin saja saat ini keadaannya sudah aman. Ah aku bahkan baru ingat kalau aku tidak membawa apapun saat pergi selain pakaian yang aku kenakan.
Sebersit rasa penyesalan kurasakan. Seharusnya ketika aku diusir dari kostan aku pulang saja kerumah mamah. Setidaknya disana aku aman bersama dengan orang-orang yang menyayangiku. Tidak terlantar seperti sekarang ini.
“Mamaaaaahhhh aku ingin pulaaaaaang ....” Aku berteriak sekencang mungkin berharap mamah mendengar teriakanku dan seperti super hero, datang kesini dengan dramatis.
Aku beranjak bangun dan kembali berjalan. Kini tujuanku bukan lagi untuk mencari arah utara menuju jalan besar. Aku hanya ingin bertemu dengan seseorang yang mungkin bisa aku tanya atau dimintai pertolongan, orang baik.
Aku terus berjalan sambil merapalkan doa-doa yang kuhafal, surat-surat pendek, dan apapun agar hatiku merasa tenang. Jujur, saat ini aku sedang benar-benar takut. Entah itu hantu, binatang buas, ataupun orang jahat, aku tidak ingin bertemu dengan mereka.
Setelah beberapa menit berjalan, samar-samar aku mendengar suara adzan. Itu benar adzan kan? Bukan halusinasiku saja? Kalau disini terdengar adzan artinya ada mesjid disekitar sini. Mungkin itu harapanku, atau mungkin jawaban atas doa-doaku. Dengan semangat aku melanjutkan perjalanan menuju lebih dekat ke arah sumber suara.
Dan benar saja, dari tempat ku berdiri, aku bisa melihat kubah mesjid yang sangat besar. Aku semakin mempercepat langkahku dengan sedikit tertatih-tatih.
“Allohu akbar Allohu akbar ... laa ilaha illalloh ....” Adzan sudah selesai dikumandangkan.
Beberapa jamaah terlihat masuk kedalam mesjid. Sepertinya akan mengikuti shalat berjamaah. Aku memutuskan untuk duduk diatas bangku dekat pintu gerbang mesjid sambil menunggu para jamaah yang menyelesaikan shalat berjamaahnya.
“Assalamualaikum neng.” Seorang ibu menyapaku dari arah belakang.
__ADS_1
Aku menoleh kearahnya dan segera menjawab salamnya, “waalaikum salam.”
“Tidak ikut shalat berjamaah? Sepertinya sebentar lagi iqamah,” ucap si ibu kembali.
“Mmmhh ... tidak bu, nanti saja.” Terpaksa aku menolak karena melihat keadaanku yang sangat berantakan.
Si ibu nampak memahami keadaanku, “baik kalau begitu saya duluan yah.” Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Beberapa menit berlalu, satu persatu orang-orang keluar dari mesjid. Aku menunggu hingga mereka semua pulang, baru aku akan masuk kesana. Aku ingin membersihkan diri sekalian menunaikan kewajiban shalat disana.
Matahari sudah terbenam sepenuhnya. Para jamaah yang tadi melakukan shalat isya berjamaah sudah pulang semua. Tinggal aku yang masih disini dari sekitar empat jam yang lalu. Perut sudah berbunyi, aku sangat lapar. Saat ini aku hanya berharap bahwa semua yang aku alami ini hanyalah mimpi. Dan aku akan segera terbangun dari mimpi ini dengan suara Nita yang membangunkanku untuk berangkat bekerja di pabrik.
Nita, aku sangat merindukannya. Bagaimana kabarnya sekarang. Aku bahkan tidak bisa menghubungi siapapun disini, karena saat aku pergi tadi aku tidak membawa ponsel. Ah bodohnya aku. Ya Allah ... ini mimpi kan?
Saat aku sedang meratapi nasibku, tiba-tiba aku dikejutkan dengan sebuah tepukan halus dipundakku. “Neng, tidak pulang?” Seorang ibu tersenyum dengan ramah ke arahku.
“Be-belum bu, mungkin sebentar lagi.” Tentu saja aku tidak berani jujur padanya.
Bukannya pergi, ibu tersebut malah duduk disampingku. “Neng kenapa ada masalah?” tanyanya ramah.
Aku menoleh ragu ke arahnya. Ternyata orang yang duduk disampingku ini adalah ibu yang tadi mengajakku untuk shalat berjamaah. Melihat mata teduhnya, aku sudah tidak sanggup lagi untuk membendung airmata yang sudah mendesak ingin keluar. Aku terisak dihadapannya. Si ibu mendekapku dalam pelukannya.
“Kalau kamu tidak ada tempat tujuan malam ini kamu bisa bermalam di rumah ibu. Rumah ibu dekat dari sini.”
Melihat ketulusan di matanya, aku memutuskan untuk ikut dengan orang baik ini. karena bagaimanapun, aku memang tidak mempunyai tujuan saat ini. Aku sudah cukup putus asa untuk sekedar mempunyai rasa malu saat ini.
***
__ADS_1