CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 14


__ADS_3

Sesuai janjinya, sore hari setelah Heru pulang dari bekerja dia mengantarkanku pulang ke kostan. Ibu melepasku dengan berat hati. Dia masih menginginkanku untuk tinggal bersamanya disana, tapi tentu saja aku menolaknya.


“Kak, anterin aku sampe depan gang aja,” pintaku ketika kami tengah berada diperjalanan menaiki sepeda motor Heru.


“Kenapa?” tanyanya, “aku sengaja bawa motor supaya bisa nganterin kamu sampe kostan sayang.” Imbuhnya. Sejak aku menginap dirumahnya, Heru mulai memanggilku dengan panggilan ‘sayang’ dan aku sama sekali tidak merasa keberatan akan hal itu.


“Aku kan kemaren gak pulang, kalo sekarang tiba-tiba aku pulang ke kostan dengan seorang laki-laki, entah apa yang mereka pikirkan nanti.” Sebenarnya bukan itu yang aku khawatirkan, tapi lebih kepada tanggapan Nita nanti. Walaupun aku memang berencana akan jujur kepadanya, aku harus pastikan kami tidak salah paham diawal.


“Baiklah.” Akhirnya Heru setuju dengan permintaanku.


Aku segera turun dari motor Heru dan memberikan kembali helm kepadanya setelah kami sampai di depan gang yang menuju ke kostanku.


“Hati-hati sayang, nanti segera kabari aku begitu kamu sampe,” pesan Heru sebelum aku masuk ke dalam gang. Aku mengangguk seraya tersenyum menanggapinya.


Aku berjalan dengan sedikit terburu-buru. Aku begitu tidak sabar ingin segera sampai di kostanku, dan ingin segera menemui Nita. Entah mengapa aku begitu merindukan sahabatku itu.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai di kostanku. Pintu kamar kostanku tertutup rapat, pun dengan kamar Nita. Sepertinya dia tidak ada di kamarnya maupun di kamarku. Aku sedikit berjinjit untuk mengambil kunci kamar kostku yang selalu ku simpan di ventilasi udara. Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku membuka kunci pintu dan masuk kedalamnya.


Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari keberadaan ponselku. Rencanaku adalah akan mengabari Heru bahwa aku sudah sampai kostan dengan selamat. Tapi aku sedikit kecewa karena ternyata ponselku mati daya. Lalu aku segera mencolokkan charger padanya.


Beberapa detik kemudian terlihat mulai ada tanda-tanda kehidupan. Aku menekan tombol power untuk menyalakan ponselku tersebut. Ada beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab disana. Nama Nita dan Umar mendominasinya. Dan kulihat ada satu nomor tidak dikenal yang mengirimiku pesan membuatku penasaran. Begitu aku akan membuka pesannya, seseorang masuk kedalam kamar kostku tanpa permisi. Dialah orang yang paling aku rindukan, Nita.


Dengan setengah berlari, Nita menghambur kearahku dan memelukku sangat erat. Nampak kekhawatiran di wajahnya. Dan aku pun membalas pelukannya. Rencanaku untuk membuka isi pesan diponselku aku tunda dulu. Aku kembali menyimpan ponselku yang masih proses mengisi daya. Saat ini lebih penting kangen-kangenan sama Nita, begitu pikirku.


“Meeraaaa ..., kamu kemana aja? Aku khawatir sama kamu tau! Aku dengar dari teman kerja kamu, katanya kemarin kamu pingsan di pabrik, trus dibawa ke klinik.” Nita melepaskan pelukan kami dan mulai menginterogasiku. Begitulah Nita, sepintas terlihat seperti orang yang cerewet. Tapi bagiku, sikapnya yang seperti inilah yang membuatku selalu merindukannya.


“Sini duduk dulu, aku akan ceritain semuanya. Tapi please, kamu dengarkan dulu sampai selesai, jangan memotongnya.” Kuajak Nita duduk diatas tempat tidurku. Aku menghela nafas panjang sebelum memulai ceritaku.

__ADS_1


Aku mulai menceritakan apa yang terjadi kepadaku kemarin. Dimulai saat aku tiba-tiba merasa pusing dan tak sadarkan diri, lalu tiba-tiba terbangun di klinik, lalu dokter menyuruhku untuk pulang dan akhirnya bertemu dengan Heru. Begitu mendengar nama Heru, Nita refleks hendak berkomentar, tapi aku segera mengingatkannya untuk tidak memotong ceritaku. Akhirnya Nita pun menurutinya. Aku melanjutkan ceritaku saat berada dirumah Heru, kecuali tentang kecupan Heru dan panggilan sayangnya. Rasanya menceritakan hal itu membuatku malu.


Mendengar ceritaku Nita nampak khawatir, “kamu jatuh cinta sama Heru, Ra?” tanyanya.


“Entahlah Nit, tapi aku merasa nyaman bersamanya dan keluarganya.”


“Itulah kamu Ra, sudah ku bilang kan sebelumnya—“


Aku sudah paham akan maksud ucapan Nita tanpa harus menunggu kelanjutan kalimatnya, “iya aku tahu Nit.”


“Kalau kamu suka sama Heru, kamu harus mengakhiri dulu hubungan kamu sama Umar, Ra. Kamu mau mengulang lagi cerita kamu dan Deni dulu?” Aku refleks menggelengkan kepala ketika Nita mengingatkanku kembali akan malam itu. Malam dimana menjadi penyebab kandasnya hubunganku dengan Deni.


“Apalagi Heru sudah memperkenalkan kamu sebagai calon istrinya kepada ibunya. Kamu harus segera mengambil keputusan Ra, kamu harus mulai bisa menghargai arti sebuah hubungan, atau kamu akan kehilangan keduanya.” Berulang kali Nita mengingatkanku akan hal ini, tapi tetap saja aku merasa bimbang.


“Aku akan memikirkannya terlebih dahulu Nit. Aku juga tidak yakin dengan hatiku sendiri,” jawabku pada akhirnya.


Tetapi tetap saja, bagaimana perasaan Heru sebenarnya padaku masih menjadi sebuah misteri. Bagiku, ungkapan perasaan cinta sangatlah penting akan kelanjutan hubungan kami setelahnya. Aku tidak bisa jika harus memilih salah satu diantara mereka.


“Oh iya Nit, bagaimana kelanjutan rencana kuliahmu? Sudah menemukan perguruan tinggi yang cocok?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


“Sepertinya aku batal kuliah Ra,” jawabnya.


“Kok gitu? Kenapa?” tanyaku penasaran.


“Kalau hubungan kamu dan Umar berakhir, aku rasa hubunganku dengan Agung pun tidak akan mungkin bisa lanjut kearah yang lebih serius. Kamu tahu kan mereka berteman baik? Jika itu sampai terjadi, maka tidak ada alasan lagi bagiku untuk melanjutkan pendidikan Ra,” paparnya.


“Kamu itu mikirnya kejauhan Nit, hubunganku dan Umar seperti apa tak ada hubungannya denganmu dan Agung. Bagaimanapun hubungan kami pada akhirnya, aku yakin tidak akan berpengaruh apa-apa pada kalian.” Kurangkul bahu Nita untuk memberikannya sedikit semangat, walaupun dalam hati akupun tidak meyakini kata-kataku sendiri.

__ADS_1


“Semoga saja seperti itu yah Ra. Aku sudah menceritakan tentang Agung kepada orang tuaku. Dan sepertinya mereka menilai Agung sebagai calon menantu berkulitas.” Aku terkekeh mendengar kalimat terakhir Nita, dan Nita pun ikut menertawakan ucapannya sendiri.


“Yaudah sana belajar lagi, aku temani kamu biar gak ngantuk.” Nita nampak bersemangat kembali. Dia segera keluar menuju kamarnya sendiri untuk mengambil beberapa buku.


Sepeninggalnya Nita, aku beranjak dari tempat dudukku untuk mengambil ponselku. Bermaksud akan melanjutkan aktivitasku yang tadi sempat tertunda karena kehadiran Nita.


Baru saja aku memegangnya, tiba-tiba ponselku berdering. Ada satu panggilan masuk dari Heru.


“Halo,” sapaku.


“Halo sayang, kamu nyampe kostan kok gak ngabarin aku sih?” tanyanya.


“Maaf kak, tadi ponsel aku mati daya, ini baru dinyalain,” jawabku.


“Oh gitu ... oh iya sayang, ini—“ belum sempat Heru menyelesaikan kalimatnya, kulihat Nita sudah masuk ke dalam kamar kostku sambil menenteng banyak buku didadanya.


“Maaf kak aku mau menemani Nita belajar dulu, aku tutup dulu teleponnya ya, bye.” Tanpa menunggu jawaban Heru, aku segera memencet icon berwarna merah di layar ponselku.


Aku menghampiri Nita yang sudah duduk di lantai beralaskan karpet dengan beberapa buku didepannya. Dan acara belajar pun kami mulai. Ku akui, ada beberapa materi yang sudah hampir tidak aku ingat. Padahal rasanya baru kemarin aku mengenakan seragam putih abu-abu.


Tanpa terasa hari sudah mulai larut, aku sudah menguap beberapa kali. Nita pun demikian. Kulihat dia sudah tidak fokus dalam mengerjakan soal. Akhirnya kami memutuskan mengakhiri pelajaran kami malam ini, dan sepakat untuk pergi tidur.


Nita pamit untuk kembali ke kamar kostnya. Dia bilang akan tidur disana malam ini, dan akupun mengangguk setuju.


Kuraih kembali ponselku dan menjatuhkan diri di tempat tidur. Ku buka satu pesan dari sebuah nomor yang tadi sempat membuatku penasaran. Kubaca perlahan isi pesan yang cukup panjang tersebut. Dadaku terasa sesak ketika aku selesai membaca pesan tersebut. Tanpa sadar aku menjatuhkan ponsel yang sedang aku pegang tepat


mengenai dadaku. Air mataku mengalir tanpa aku minta. Aku terisak dalam diam. Ku pegang kembali dadaku yang terasa sakit. Sedikit kuberi tekanan disana berharap rasa sesaknya sedikit berkurang. Tapi ternyata tidak berhasil. Rasa sesak tetap memenuhi rongga dada hingga tanpa sadar akupun tertidur dengan berlinang air mata.

__ADS_1


__ADS_2