CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 30


__ADS_3

“Sa-saya sudah melakukan dosa besar Umi, saya malu untuk menceritakannya.” Tanpa kusadari, aku mulai terisak.


“Astaghfirullohaladzim.” Umi Salmah langsung beristighfar mendengar pengakuanku.


“Tapi saya sungguh tidak sengaja untuk melakukannya. Saat itu saya tidak sadarkan diri, dan ketika bangun saya ... saya ....” Sesak di dada membuat suaraku tercekat di tenggorokan.


“Umi benar, saya memang kabur. Tapi bukan kabur dari rumah, lebih tepatnya kabur dari amukan warga yang akan mengarak saya karena saya telah ... saya dianggap sudah kumpul kebo dengan teman saya Umi.” Aku sudah tidak sanggup untuk meneruskan ceritaku. Aku hanya bisa menangis mengingat kembali kejadian yang kualami kemarin.


Alih-alih jijik dan langsung mengusirku, Umi Salmah malah meraihku dalam pelukannya yang hangat. Dan perlakuan yang kuterima ini membuatku semakin terisak.


Umi membiarkanku menangis didalam pelukannya hingga beberapa saat. Kemudian ia sedikit merenggangkan pelukannya dan menatapku dengan lekat, “kenapa kamu bisa memutuskan untuk tinggal bersama dengan pria yang bukan muhrim kamu? Kamu tahu, seorang pria dan wanita yang bukan muhrim jika berdua dalam satu ruangan maka yang ketiganya adalah setan.”


“Saya tahu Umi, saya menyesal. Saya tidak bermaksud untuk melakukannya. Itu karena saya sungguh tidak tahu lagi harus pergi kemana.” Aku menghela nafas berat sebelum melanjutkan ceritaku. “Sebelumnya, saya diusir dari kostan karena pacar saya, maksud saya mantan pacar saya membuat keributan di kostan saya, jadi pemilik kostan meminta saya untuk meninggalkan kostan. Lalu teman saya mengajak saya untuk mencari kostan lagi, tapi belum dapat. Karena sudah malam, teman saya ini mengajak saya untuk bermalam di rumahnya. Tapi ternyata rumahnya kosong karena ibunya pergi dan membawa kunci rumah. Akhirnya teman saya ini mengajak saya untuk bermalam di pondok milik ayahnya.”


“Dan di tempat itulah kejadian itu Umi.” Aku berhenti sejenak untuk meyakinkah hati, akankah menceritakan semuanya kepada Umi Salmah atau tidak. Dan akupun  memutuskan untuk jujur saja. “Malam itu sangat dingin, saya meminum minuman yang baru saya ketahui setelahnya kalau itu adalah minuman keras. Padahal teman saya sudah melarang saya untuk meminumnya. Akhirnya saya mabuk dan tidak sadarkan diri. Dan ketika bangun saya sudah tidak mendapati pakaian saya Umi.”


“Astaghfirullohaladzim.” Umi Salmah kembali beristighfar mendengar ceritaku. “Dimana orang tua kamu? Kenapa kamu ngekost?”


“Orang tua saya di kampung Umi, begitu lulus sekolah saya memutuskan untuk ke kota dan mencari pekerjaan.”


“Begitulah anak muda zaman sekarang. Begitu selesai sekolah langsung memilih pergi dari rumah, jauh dari orang tua. Merasa dirinya sudah mandiri dan bisa menjaga diri. Padahal mereka sebenarnya masih perlu bimbingan orang tua agar tidak salah jalan seperti yang terjadi pada kamu sekarang. Kalau masalah mencari pekerjaan sebenarnya tidak harus sampai pergi sendiri ke luar kota. Bekerja bisa dimana saja, tapi mungkin yang membedakannya adalah penghasilannya.”


“Banyak orang memilih merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, padahal sebenarnya bukan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, tapi penghasilan yang lebih baik. Kalau cuma mencari pekerjaan dirumah juga banyak. Mencuci, menyapu, mengepel, memasak, memangnya itu bukan pekerjaan? Malah menurut Umi, menjadi ibu rumah tangga itu pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya.” Umi Salmah jadi curhat.


“Tapi sebenarnya bukan hanya itu alasan saya Umi.” Tanggung curhat, aku akan menceritakan saja semuanya. Mungkin akan membuatku merasa lebih tenang, dan lebih mudah untuk melupakan masa laluku. “Ada alasan lain yang membuat saya bertekad untuk pergi merantau keluar kota.”


“Apa itu?” tanya Umi Salmah.

__ADS_1


“Waktu SMA saya sempat menjalin hubungan dengan seorang pria. Entah dinamakan apa hubungan kami karena jika disebut pacaran, maka harus ada yang namanya nembak atau mengungkapkan perasaan. Tapi tidak demikian dengan kami. Tapi walaupun begitu saya sangat mencintainya, dan saya pun tahu dia sangat mencintai saya.”


“Kami bersama kurang lebih dua tahun lamanya, dan selama itu tidak ada seorang pun yang tahu kalau kami menjalin hubungan. Karena orang tuanya cukup terpandang di daerah saya, kami hanya tidak mau mencoreng nama baik mereka. Yang saya kagumi dari dia adalah selama kami bersama, dia sama sekali tidak pernah menyentuh saya. Dia sangat menjaga kehormatan saya.” Tiba-tiba aku merindukan sosok Habibie.


“Dia berjanji akan menikahi saya begitu saya lulus sekolah. Saya sangat bahagia mendengarnya. Sampai pada suatu hari, karena suatu hal dia menghilang entah kemana. Saya mencarinya, dan dari informasi yang saya dapat ternyata dia pindah ke rumah neneknya. Dan kami baru bisa bertemu lagi ketika hari Idul Fitri.” Aku mengenang kembali wajah Habibie ketika terakhir kali aku melihatnya.


“Dan saya sangat terpukul mengetahui bahwa dia ternyata sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan anak dari temannya. Hancur sudah harapan saya untuk bisa bersama dengannya. Orang-orang bilang kalau mereka sangat cocok. Mereka mempunyai pemahaman agama yang setara. Gadis itu terlihat cantik, santun, terpelajar dan sholehah. Saya jadi cemburu karenanya Umi. Untuk itulah saya memutuskan untuk pergi ke luar kota, untuk menghindarinya.”


“Sebelum saya pergi dia meminta saya untuk menunggunya. Dia bilang akan meyakinkan Uminya tentang pilihannya. Selama dua tahun tanpa sadar saya menunggunya Umi, sampai pada minggu kemarin saya menengar berita pernikahannya.” Aku kembali terisak mengingat Habibie.


“Dia bohong Umi ... dia bohong ....” Aku semakin histeris mengingat undangan pernikahan Habibie. “Dia bilang aku harus menunggunya, tapi dia bohong. Bukan dia yang datang padaku, tapi undangan pernikahannya.”


Sekali lagi, Umi Salmah meraihku dalam pelukannya. Pelukan hangat yang menenangkan. Seperti pelukan seorang ibu kepada anaknya.


“Kamu tahu neng, jodoh itu sudah diatur sama Allah. Kamu mungkin memang tidak ditakdirkan berjodoh dengannya. Tapi pasti Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik buat kamu.”


“Astaghfirullohaladzim.” Umi Salmah beristighfar untuk yang ke tiga kalinya. Aku sadar banyak sekali kesalahanku. Aku malu untuk itu.


“Saya sudah terlalu banyak berdosa. Menurut Umi, akankah Allah memaafkan saya?” tanyaku seraya merenggangkan pelukan kami.


“Allah itu maha memaafkan neng. Asalkan kita bersungguh-sungguh bertaubat dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Nanti Umi ajari shalat taubat yah. Kamu mau kan?”


“Iya Umi, saya mau.” Jawabku.


Umi Salmah menatapku dalam. “Ada beberapa hal yang harus kamu ingat. Yang pertama, jika kamu memiliki masalah, jadikan masalah itu sarana kamu lebih dekat dengan-Nya, bukan malah menjauhi-Nya. Kamu tahu? Sebaik-baik pemberi solusi adalah Allah.”


“Yang kedua, janganlah mencintai makhluk melebihi cintamu pada Allah. Allah tidak suka itu. Dan yang ketiga, jangan pernah kamu menggantungkan harapan kepada manusia, karena manusia adalah tempat salah dan khilaf. Bergantung kepada manusia hanya akan memberikan kekecewaan, berbeda jika kita bergantung kepada sang pemilik kehidupan. Selalu libatkan Allah dalam setiap lini kehidupan kita. Karena Dia lah sebaik-baiknya pembimbing.”

__ADS_1


“Iya Umi, terimakasih atas pencerahannya. Saya sangat beruntung karena saya bertemu dengan Umi,” ucapku pada Umi Salmah.


“Pertemuan kita sudah diatur sama Allah neng. Berterimakasih lah pada-Nya karena kita masih diberi kesempatan untuk hidup hingga hari ini dan masih bisa diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.”


“Iya Umi, alhamdulilah.”


***


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2