
Aku terbangun ketika merasakan udara dingin merasuki tubuhku, kutarik selimut lebih tinggi sampai menutupi leherku.
‘Dingin sekali ..., lama-lama aku tinggal disini bisa hipotermia.’
‘Ah, aku melupakan sesuatu. Aku lupa belum menanyakan dimana keberadaan ponselku pada Heru.’
Aku beranjak bangun untuk menemui Heru, siapa tahu dia masih terjaga. Tapi rupanya Heru tidak ada di ruang tamu. Ku cari ke bagian belakang rumah juga tidak ada. Lalu aku berjalan menuju pintu utama, bermaksud untuk melihat apakah sepeda motornya masih ada ditempatnya atau tidak. Karena jika sepeda motornya tidak ada, berarti pemiliknya pun pergi.
Sedikit terbuka pintu utama. Kudapati Heru tengah berdiri di tepi danau. Apa yang Heru lakukan tengah malam buta seperti ini?
Baru saja aku bermaksud untuk menghampirinya, namun segera aku urungkan. Heru berlutut di tepi danau, kepalanya tertunduk sangat dalam. Kulihat bahunya sedikit berguncang. Apakah Heru sedang menangis? Lalu dia mulai melemparkan kerikil-kerikil kecil yang dapat dia raih. Apakah dia sedang marah?
Aku menutup pintu dan segera kembali ke kamarku. Menemuinya disaat seperti ini hanya akan membuatnya malu. Lebih baik aku menanyakannya besok pagi saja.
Sampai dikamar tidak serta-merta membuatku langsung tertidur kembali. Pikiranku masih tetap berfokus pada Heru. Benarkah yang kulihat barusan adalah Heru? Aku benar-benar telah melihat sisi rapuh dari pria itu.
Dia yang selalu membuatku jengkel. Dia yang selalu terlihat santai ketika menghadapi masalah. Ternyata dia juga rapuh, sama sepertiku. Hanya saja dia lebih bisa mengendalikan diri sehingga tidak menunjukkan sisi lemahnya di hadapan orang lain.
Selain ayah kandungku dan Habibie, Heru adalah laki-laki berikutnya yang pernah melihatku menangis. Dihadapannya, aku bisa mengekspresikan apapun yang sedang aku rasakan.
Tuhan ... tidak bisakah kami bersama? Sepertinya aku sudah mulai jatuh cinta padanya. Perasaan yang kurasakan saat ini kepada Heru sama rasanya ketika aku sedang bersama Habibie dulu.
Tuhan ... kenapa takdir cintaku begitu rumit? Dulu aku begitu mencintai seorang laki-laki, tapi aku tidak bisa memilikinya karena terhalang restu orang tuanya. Orang tuanya ingin Habibie mendapatkan seorang pendamping yang mempunyai pemahaman agama yang setara dengan keluarganya. Dan sekarang ketika aku sudah mendapat lampu hijau dari ibunya Heru, kenyataan lainnya seolah menghempaskan anganku ke dasar jurang, begitu dalam dan gelap sehingga aku tidak melihat secercah sinar pun disana.
Ah, aku bahkan merasa tidak berhak lagi untuk berfikiran seperti itu. Aku tersadar, sudah sejak lama aku meninggalkan-Nya. Aku sudah melakukan banyak dosa. Bahkan sekarang aku menyalahkan takdirku yang buruk, padahal selama ini aku tidak pernah mendekat pada-Nya.
__ADS_1
Aku bangun dari tempat tidurku, berjalan kearah belakang rumah sambil sesekali mengusap air mataku yang terus-menerus menetes tanpa diperintah. Bukan, kali ini bukan kisah cintaku yang ku tangisi. Aku menangisi kebodohanku, kekhilafanku, dan menangisi semua dosa-dosa yang telah ku perbuat.
Aku kembali ke kamarku setelah berwudhu. Aku bersyukur karena aku tidak lupa tata cara berwudhu, dan sepertinya aku juga masih mengingat tata cara dan bacaan shalat. Ya, aku sudah memutuskan akan memperbaiki diri, mendekat kembali kepada-Nya, dan tentu saja memohon ampun atas segala dosa-dosa yang telah ku perbuat. Baik itu disengaja ataupun tidak.
Tetapi ketika aku membuka ranselku, aku baru menyadari bahwa aku ternyata tidak membawa alat shalat. Aku semakin merasa bersalah. Entah kapan sejak terakhir kali aku mengenakannya.
Kuedarkan pandangan ke sekitar kamar. Lalu kubuka lemari yang ada di dalam kamar, berharap menemukan sesuatu yang bisa kujadikan alatku menghadap-Nya. Perhatianku terpusat pada sebuah kain panjang yang berada dalam lemari. Sepertinya itu seprei, baru dan bersih. Aku mengambilnya dan melilitkannya menutupi kepala dan tubuhku, kemudian mengikatnya di beberapa bagian agar tidak terlepas saat kukenakan.
Aku tersenyum bangga dengan hasil karyaku sendiri. Ku balikkan badan ke kanan dan ke kiri. Melihat barang kali ada beberapa bagian yang terbuka, tapi kulihat semuanya sudah rapi.
Tapi kali ini aku kembali dilanda kebingungan, aku tidak tahu dimana arah kiblatnya. Aku mengingat-ingat dimana matahari terbit dan terbenam, tapi aku bahkan tidak pernah melihat matahari terbit. Karena ketika aku datang kesini hari sudah gelap, dan aku terbangun kembali ketika matahari sudah naik ke puncaknya. Selain itu aku juga tidak melihat matahari terbenam, karena aku sibuk bersembunyi dibawah selimut saat matahari mulai tenggelam.
Ternyata selain banyak dosa, akupun bodoh dan banyak membuang-buang waktu dengan percuma. Aku bahkan melewatkan satu hari tanpa memberi manfaat apapun. Oh Tuhan, maafkanlah diriku yang tidak berguna ini. Engkau pasti menyesal telah menciptakan makhluk yang tidak berguna sepertiku.
Aku terduduk lemas diatas tempat tidur. Merasa hina dan tidak percaya diri untuk menghadap-Nya. Kali ini aku sungguh menyesali kehidupanku selama dua tahun terakhir ini. Aku hanya mengejar sesuatu yang entah apa. Aku menjalani hidupku tanpa tujuan, tanpa rencana. Hidupku seakan berhenti ketika aku berpisah dengan Habibie. Tanpa kusadari, aku hanya menghabiskan waktu hanya untuk menunggu dan meratapinya.
Dengan peralatan seadanya, aku memulai ritual shalatku. Dan diakhiri dengan sujud panjangku, memohon ampunan atas segala dosa yang telah kuperbuat. Tidak lupa, akupun meminta agar diberi keikhlasan untuk menghadapi semua masalah yang tengah menimpaku.
‘Ya Allah ... ampunilah aku dari segala dosa-dosaku, ampunilah aku dari segala kekhilafanku, ampunilah aku dari segala kebodohanku, dan ampunilah aku karena aku telah membuang-buang waktu dengan percuma.
Ya Allah ... ampunilah dosa-dosaku kepada kedua orang tuaku, dan ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku.
Ya Allah ... ampunilah dosa-dosaku kepada saudara-saudaraku, dan ampunilah dosa-dosa saudara-saudaraku.
Ya Allah ... ampunilah dosa-dosaku kepada umat muslimin dan muslimat, dan ampunilah dosa-dosa umat muslimin dan muslimat.
__ADS_1
Ya Allah ... jauhkanlah hambamu ini dari orang-orang yang jauh dari engkau, dan dekatkah lah hambamu ini dari orang-orang yang dekat dengan engkau. Amin’
Ku akhiri sujud panjangku, lalu aku menoleh kebelakang karena merasa ada seseorang yang memperhatikanku. Dan benar saja, Heru tengah berdiri disana seraya tersenyum ke arahku.
“Rupanya kamu sudah memutuskan Ra,” ucapnya.
Aku mengangguk seraya membalas senyumannya, “Iya kak.”
“Baiklah kalau begitu, aku ada disana kalau kamu membutuhkanku,” ucap Heru seraya menunjuk sofa yang ada diruang tamu, “silakan lanjutkan, aku tidak mau mengganggu kamu.”
“Iya kak, terima kasih.”
Aku kembali membalikkan pandanganku. Mengingat semua kesalahan yang telah aku buat, terutama kepada orang-orang disekitarku yang tidak sengaja aku sakiti. Deni, Umar, Nita, dan beberapa pria yang tanpa sengaja aku beri harapan palsu. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang aku kenal di sosial media.
Aku menekadkan hati, besok pagi aku akan memulai misi permintaan maafku. Dan dimulai dengan teman-teman sosial mediaku.
***
__ADS_1