CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 38


__ADS_3

“Alifa cukup!” Suara Umi Salmah menggema disela tangis Ameera. “Umi tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap seperti ini. Perbuatanmu kali ini benar-benar diluar batas!”


“Umi tahu? Perempuan ini pembohong, licik, dan juga pezina. Dia hamil tanpa suami Umi! Dia perempuan kotor yang pura-pura baik agar mendapatkan kasih sayang Umi!”


PLAAAKKK ... Umi menampar pipi Alifa dengan keras.


“Umi tidak mengajari kamu untuk menghina orang lain Alifa! Apa yang kamu pelajari di sekolah hingga perguruan tinggi? Tidakkah mereka mengajarkan tentang saling menyayangi dan saling menghargai antar sesama manusia? Tidakkah mereka mengajari pelajaran budi pekerti? Istighfar Alifa ....”


Alifa meraba bagian pipinya yang terkena tamparan Umi Salmah. “Umi menampar saya?” tanyanya berkaca-kaca. “Umi menampar saya demi membela perempuan ini? sebenarnya yang anak Umi itu saya atau perempuan ini?”


Umi Salmah mendekat ke arah Alifa, “Kamu memang lahir dari rahim saya, tapi saya sungguh malu mengakui kamu sebagai anak saya, Alifa!”


Deg ... Nada bicara Umi Salmah yang merendah sangat menusuk di hati Alifa. Ini pertama kalinya Umi Salmah menyebut dirinya ‘Saya’ didepan Alifa. Nampak sekali bahwa Umi Salmah saat ini sangat marah kepada Alifa. Bahkan secara terang-terangan Umi Salmah mengatakan malu mempunyai anak seperti Alifa.


“Umi ....” Air mata Alifa menetes seiring dengan rasa sakit hatinya.


“Saya tidak tahu kamu mendengar darimana berita bohong tentang Ameera. Tapi seharusnya, sebagai seorang yang berpendidikan kamu lebih bisa memilah dan memilih berita. Jangan mudah terprovokasi dengan berita yang tidak benar. Dan kalaupun itu benar, itu sama sekali bukan urusan kamu! Kamu mengerti?”


“Umi ... saya ....” Alifa nampak tidak bisa berkata-kata lagi.


“Umi tolong ... sakit ....” Umi Salmah dan Alifa menoleh kearah sumber suara. Nampak Ameera yang sedari tadi bersimpuh di lantai mengerang kesakitan. Cairan merah kental nampak menggenangi bagian bawah gamis yang dia kenakan.


“Astaghfirullohaladzim ....” Umi Salmah terlihat panik dan langsung menghampiri Ameera. “Kamu kenapa neng?”


Seorang pria nampak tergopoh mendekati Ameera dan Umi Salmah, “Ameera kamu tidak apa-apa?” Habibie refleks meraih tangan Ameera kedalam genggamannya. “Kita harus membawanya ke rumah sakit Umi.” Dan Umi pun mengangguk setuju.


Habibie segera menggendong Ameera ala bridal style. Dia sama sekali tidak menghiraukan tangannya yang sudah berlumuran darah. Baginya saat ini, keselamatan Ameera jauh lebih penting.


Habibie segera mendudukkan Ameera yang sudah tidak sadarkan diri di kursi belakang mobil, ditemani oleh Umi Salmah. Dia segera melajukan mobil dengan cepat menuju ke rumah sakit.


Sementara itu Alifa menatap kepergian suami dan Uminya dengan pandangan Hampa. Saat ini dia menyadari kalau Ameera adalah orang yang sangat penting bagi Uminya dan juga bagi suaminya. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk menyusul mereka ke rumah sakit dengan mengendarai mobilnya sendiri.


“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya Habibie kepada seorang pria setengah baya dengan kemeja putih yang baru saja keluar dari ruangan UGD.


“Pasien masih dalam keadaan kritis, kita harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan bayinya. Untuk itu kami perlu persetujuan keluarga pasien. Anda suaminya?”


“Bu-bukan dokter, saya ....” Habibie nampak bingung sendiri akan memperkenalkan dirinya sebagai siapa.


“Baiklah tolong panggilkan keluarganya untuk menghubungi saya di ruangan saya.” Dokter itu pun berlalu pergi, meninggalkan dua orang beda generasi yang sedang kebingungan.

__ADS_1


“Dimana suami Ameera Umi?” Akhirnya pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati Habibie terucap juga.


“Ameera tidak memiliki suami Nak,” jawab Umi Salmah lirih.


“Jadi semua yang dikatakan Alifa adalah benar Umi, bahwa Ameera—“


“Tidak. Ameera adalah gadis baik yang membuat keputusan yang salah. Kehamilannya bukan sepenuhnya kesalahannya. Bahkan Umi bangga padanya karena memilih untuk membesarkan anaknya sendiri. Kalau hal itu terjadi pada gadis lain, mungkin mereka akan berfikir untuk menggugurkannya saja.”


“Lalu dimana ayah si bayi? Tidakkah dia harusnya bertanggung jawab terhadap Ameera?”


“Ceritanya panjang Nak, dan Umi merasa tidak berhak untuk menceritakannya.”


“Ibu Salmah.” Seorang perawat memanggil nama Umi Salmah tepat ketika dia keluar dari ruangan tempat Ameera di rawat.


“Iya saya suster,” jawab Umi Salmah cepat.


“Pasien ingin berbicara dengan Ibu. Silakan ibu masuk, tapi tolong jangan berbuat sesuatu yang bisa menekan emosi pasien. Tolong jaga emosinya tetap stabil, ini demi keselamatan pasien dan bayinya.”


“Baik suster.” Umi Salmah masuk ke ruangan Ameera. Bersamaan dengan itu nampak seorang perempuan dengan jilbab lebar dan merwajah pucat menghampiri Habibie yang tengah melihat Umi Salmah dan Ameera di balik pintu kaca. Pintu yang tidak tertutup rapat memungkinkan orang yang berada di luar bisa mendengar apa yang dibicarakan Ameera dan Umi Salmah.


“Bagaimana keadaan kamu neng?”


“Jangan berbicara seperti itu neng, pertemuan kita suda diatur sama Allah.” Ameera tersenyum mendengar penuturan Umi Salmah.


“Umi masih ingat cerita saya tentang cinta pertama saya?”


“Tentu saja neng.”


“Alhamdulillah saya sudah bertemu lagi dengannya Umi, juga istrinya. Ternyata istrinya begitu baik dan lemah lembut, juga sangat mencintai dia.”


“Benarkah?”


“Iya Umi, saya senang dia bersanding dengan gadis yang tepat dan mendapatkan keluarga yang tepat. Ibu mertuanya sangat baik, suka menolong sesama, dan tidak segan untuk menolong seorang gadis tidak dikenal yang sedang dalam keadaan putus asa.” Umi  Salmah nampak mengerutkan keningnya mendengar penuturan Ameera.


“Iya Umi, lelaki itu adalah Habibie.” Ameera kembali tersenyum kepada Umi Salmah.


“Astaghfirullohaladzim.” Umi Salmah menghambur memeluk Ameera. Air matanya mulai menetes membasahi jilbab panjangnya. “Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang Neng? Tidakkah kamu merasa terluka melihat lelaki yang kamu cintai bersama dengan perempuan lain?”


“Tidak Umi, saya tidak apa-apa. Saya bahagia melihatnya bahagia. Kak Alifa begitu mencintai Habibie. Saya bisa melihatnya.”

__ADS_1


“Maafkan Umi neng, penderitaan yang kamu alami sekarang sedikit banyak karena kesalahan Umi juga. Kalau saja waktu itu Umi tidak menjodohkan Alifa dan Habibie, pasti kalian sudah—“


“Umi jangan berbicara seperti itu, jika kak Alifa mendengarnya dia pasti sangat sedih.”


“Setelah semua yang dikatakan Alifa kepada kamu, kamu masih peduli sama perasaannya?”


“Tentu saja Umi, saya menyayangi kak Alifa seperti saya menyayangi Umi.” Tangan Ameera bergerak meraih tangan Umi Salmah, “Umi boleh saya merepotkan Umi sekali lagi?”


“Katakan neng, katakan saja.”


“Jika saya tidak selamat, tolong mintakan pada kak Alifa dan Habibie untuk merawat bayi saya. Ajarkan agama kepadanya sedini mungkin, agar dia tidak tumbuh seperti saya. Agar tidak ada Ameera-ameera lain yang mendapat penolakan dari keluarga calon pasangan hanya karena kurangnya ilmu agama.” Ameera mulai meneteskan air mata ketika mengatakannya. “Dan tolong antarkan jenazah saya ke rumah keluarga saya Umi.”


“Tidak neng ... kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Kamu pasti selamat. Dokter akan mengusahakan yang terbaik.”


“Tidak Umi, saya merasa waktu saya hanya sebentar lagi.” Nafas Ameera sudah nampak tidak beraturan. “Satu hal lagi Umi, saya ingin mendonorkan hati saya untuk kak Alifa. Setidaknya masih ada bagian dari diri saya yang berguna untuk orang lain.”


Tiiiiiittttt ....


Brug ....


Alifa terduduk lemas di lantai, sementara Habibie berdiri mematung masih menatap pintu kaca di depannya. Apa yang baru saja mereka dengar sungguh memilukan. Ya, mereka berdua mendengar dengan jelas semua yang diucapkan oleh Ameera. Tentang perasaannya terhadap Habibie dan tentang keinginannya untuk mendonorkan hatinya untuk Alifa.


Dan Alifa, kini perasaan bersalah menghantui dirinya. Baru saja beberapa saat lalu dia dengan pongahnya menghina Ameera serendah-rendahnya. Dan kini  dia baru mengetahui bahwa orang yang dia hina sangat menyayanginya dan bahkan akan mendonorkan hatinya untuk orang yang menghinanya. Perasaan malu, sedih, dan menyesal bercampur aduk dalam dirinya.


“Ameera ... maafkan saya Ameera ....” Alifa mulai menangis histeris. Dan karenanya, Habibie pun meyadari bahwa ada Alifa disana. Dia sedang bersimpuh dilantai dengan sangat menyedihkan. Habibie berjalan menghampiri Alifa dan mendudukkannya di kursi. Dan kini dia menangis di pelukan Habibie.


***


“Anak kamu laki-laki Ra, sehat dan tampan. Sesuai keinginan kamu, aku akan mengajarkan ilmu agama kepadanya. Aku akan merawatnya dengan baik, aku akan mencintainya seperti anak kandungku sendiri. Maaf aku tidak membawanya menemuimu saat ini. Umi bilang Fauzan masih terlalu kecil untuk dibawa perjalanan jauh. Aku berjanji insyaallah jika dia sudah cukup besar aku akan membawanya kepadamu. Oh iya, nama nya Muhammad Fauzan Alghifari. Dan terimakasih sudah mendonorkan hati kamu kepada Alifa Ra, setidaknya aku tahu, aku masih bisa mencintai bagian dari dirimu.” Habibie lekas meninggalkan area pemakaman tersebut usai menaburkan bunga dan air diatas pusara bertuliskan AMEERA PUSPITA.


 


 


TAMAT


 


 

__ADS_1


__ADS_2