
Aku terbangun ketika hari masih pagi buta. Kudengar alunan seseorang yang tengah membacakan ayat suci dengan indahnya. Perlu beberapa detik hingga aku sepenuhnya sadar tentang keberadaanku saat ini. Ya, saat ini aku sedang berada di kamar tamu rumah Umi Salmah.
Semalam beliau menawariku untuk bermalam di rumahnya. Karena aku juga tidak mempunyai tujuan, akhirnya kau memutuskan untuk ikut ke rumahnya. Di rumah yang sebesar ini, beliau hanya tinggal sendiri, ditemani oleh seorang asisten rumah tangga. Suaminya meninggal satu tahun yang lalu karena kanker, sedangkan putri satu-satunya sudah menikah dan sekarang tinggal bersama suaminya di luar kota.
Perlahan aku bangun dari tidurku. Tujuanku mengambil air wudlu untuk menunaikan shalat subuh. Beruntung karena kamar tamu ini memiliki kamar mandi di dalamnya, sehingga aku tidak harus keluar dari kamar.
Saat keluar dari kamar mandi ternyata Umi Salmah sedang berada di kamarku.”Maaf Umi masuk tanpa izin neng, tadi Umi ketuk pintu tidak dibuka-buka, karena khawatir, Umi memutuskan untuk masuk saja.”
“Umi tidak perlu izin, ini kan rumah Umi. Maaf saya tadi dari kamar mandi, jadi tidak mendengar Umi mengetuk pintu.” Aku sedikit heran, kenapa Umi Salmah harus meminta izin untuk masuk ke rumahnya sendiri. Ya memang ini kamar tamu, tapi kan ini bagian dari rumahnya juga.
“Neng mau shalat subuh yah?” tanya Umi.
“Iya Umi, boleh pinjam mukena?”
“Mau shalat disini atau di mushola? Kalau mau shalat disini Umi bawakan mukenanya kesini.”
Eh kok jadi merasa aku seperti nyonya rumah yang harus dilayani. “Tidak usah Umi, saya shalat di mushola saja.” Rasanya tidak enak juga membuat tuan rumah yang sudah berbaik hati memberiku tumpangan ini malah melayani kebutuhanku.
“Baiklah, musholanya sebelah sana.” Ku ikut arah telunjuk Umi salmah. “Umi tinggal dulu yah. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Usai menunaikan kewajiban aku masih duduk di tempat yang sama. Tidak tahu harus melakukan apa. Samar-samar terdengar suara di dapur. Kulepas mukena yang membalut tubuhku dan menghampiri sumber suara.
Kulihat seseorang disana. Seorang wanita dengan gamis dan jilbab lebar sedang mempersiapkan beberapa bahan makanan, sepertinya dia akan memasak. “Assalamualaikum.” Aku langsung menyapanya saja, takut dia terkejut karena kedatanganku.
“Waalaikum salam.” Wanita tersebut menoleh kearahku. Seorang ibu yang masih cukup muda. Mungkin usianya sekitar 30 atau 35 tahun kurasa.
“Maaf mengganggu, saya Ameera. Ada yang bisa saya bantu mbak? Saya bingung harus melakukan apa disini.” Aku menghampirinya lebih dekat.
“Tidak usah neng, saya tidak repot kok. Hanya memisah-misahkan bahan makanan untuk pesanan catering hari ini,” jawab si mbaknya.
“Mmmhhh jadi Umi punya catering yah?” tanyaku memulai percakapan.
__ADS_1
“Iya neng. Umi itu termasuk perempuan mandiri dan produktif. Padahal almarhum suaminya Umi punya perkebunan yang luas. Istilahnya mah hartanya tidak akan habis tujuh turunan. Tapi tetap saja Umi memilih memiliki usaha sendiri. Umi bilang itung-itung membantu warga sekitar yang membutuhkan penghasilan. Karena kan kalau ada pesanan banyak biasanya Umi mempekerjakan ibu-ibu sekitar sini neng,” paparnya.
Rupanya mba yang didepanku ini termasuk fans berat Umi Salmah. “Mba sudah lama kerja sama Umi?”
“Saya ikut Umi sejak Umi menikah dengan almarhum pak Haji. Sudah lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu. Sudah mau tiga puluh tahun malah. Saat itu orang tuanya mbak meninggal dalam kecelakaan. Mbak yang masih kelas enam SD dibawa sama Umi, dirawat, disekolahkan sampai SMA. Saya sudah menganggap Umi dan almarhum seperti orang tua saya sendiri neng.” Mba yang didepanku ini nampak berkaca-kaca mengenang masa lalunya.
“Oh iya, nama mba siapa?” tanyaku.
“Nama saya Lusi neng,” jawabnya.
“Jadi mba Lusi tinggal disini sama Umi?” tanyaku lagi.
“Cuma sampai saya lulus SMA neng, setelah itu mba menikah dan tinggal sama suami. Masih disekitar sini juga rumahnya. Rumah yang mba tempati juga pemberian dari almarhum pak Haji, hehehe ....” mba Lusi nampak cengengesan. “soalnya mba nikahnya sama karyawannya almarhum.”
“Oh ....” Aku mengangguk-ngangguk menanggapi ucapan mba Lusi. Ternyata keluarga Umi Salmah sangat baik. “Oiya mba, katanya Umi punya seorang putri yah?”
“Iya neng, sangat cantik kayak Uminya. Usianya juga kayaknya gak jauh-jauh beda sama neng Ameera. Neng Ameera usianya berapa tahun?”
“Owh ... kalau begitu masih mudaan neng Ameera sama putrinya Umi. Putrinya Umi sudah lulus S2 kemarin, terus langsung nikah minggu kemarin, dan sekarang tinggal sama suaminya.”
“Aduh-aduh pagi-pagi sudah ghibah aja ya.” Umi Salmah masuk ke dapur ketika kami sedang asyik mengobrol.
“Astaghfirulloh, maaf Umi.” Mba Lusi nampak salah tingkah.
Umi Salmah hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban mba Lusi. “Sudah selesai membereskan belanjaannya Lus? Kalau sudah nanti tolong panggilkan bu Erna dan mba Dwi buat bantuin kita masak hari ini yah.” Umi Salmah lalu menoleh ke arahku, “neng Ameera ayo ikut Umi ke depan, ibu mau ngobrol.”
“Baik Umi,” jawabku dan mba Lusi bersamaan.
Ku ikuti langkah kaki Umi Salmah, seorang wanita tangguh dengan jilbab lebar yang sedang berjalan anggun di depanku. Umi Salmah duduk diatas sofa, lalu menepuk-nepuk sofa disebelahnya seakan menyuruhku untuk duduk disebelahnya. Aku pun segera duduk di tempat yang ditunjukkan.
“Neng ini sebenarnya darimana mau kemana? Semalam Umi lihatnya seperti neng sedang tersesat. Apa benar seperti itu?” tanya Umi Salmah.
Aku tahu Umi Salmah pasti menanyakan ini. Namun aku bingung, haruskah aku jujur kepadanya bahwa aku bisa ada di mesjid itu setelah kabur dari amukan warga yang akan mengarakku karena aku dianggap telah kumpul kebo dengan Heru. Atau bisa saja aku berbohong sedang tersesat ketika sedang mencari alamat. Ah, rasanya aku tidak sanggup untuk berbohong kepada wanita baik di depanku ini.
__ADS_1
Melihat aku hanya terdiam, Umi Salmah kembali bertanya, “neng punya keluarga?” yang hanya bisa kujawab dengan anggukan.
“Sekarang keluarga neng dimana?” tanya Umi Salmah lagi.
“Di kampung Umi,” jawabku.
“Neng Ameera kabur dari rumah?” tanya Umi Salmah khawatir.
“Tidak Umi,” jawabku cepat, “saya ... saya ....”
“Tidak masalah kalau kamu belum siap untuk cerita sama Umi, Umi mengerti. Tapi tetap saja Umi harus meminta tanda pengenal kamu, untuk lapor sama pak RT.”
“Saya tidak membawanya Umi, semua barang saya tertinggal.”
Umi Salmah menatap bingung ke arahku, “kok bisa?”
“Saya pergi terburu-buru Umi, sampai tidak sempat membawa apapun.” Kuharap jawabanku kali ini akan menghentikan pertanyaan lainnya. Jujur saja, aku belum siap untuk menceritakan semuanya pada Umi Salmah.
Kulihat sekilas raut wajah Umi Salmah yang nampak meragukan kata-kataku. Benar memang, rasanya tidak mungkin orang lain tidak akan curiga. Aku sudah seperti orang yang kabur setelah melakukan tindakan kriminal. Sangatlah wajar jika Umi Salmah akan menanyakan hal-hal seperti ini.
***
__ADS_1