CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 5


__ADS_3

Pagi hari di hari libur seperti biasa aku melakukan rutinitas liburanku. Dimulai dengan membersihkan kamar, menyapu, mengepel, mencuci baju, mencuci piring, mengelap kaca jendela, dan terakhir sarapan. Setelah itu aku bergegas melaksanakan rencana liburanku yang sangat aku dambakan, rebahan sambil nonton kartun. Setelah cukup lama rebahan berguling ke kiri dan ke kanan akhirnya aku merasakan bosan juga. Kuraih jaket yang tergantung dibalik pintu dan segera ku kenakan. Aku berjalan keluar kostan dengan maksud untuk membeli seblak di warung langgananku.


Setelah cukup jauh berjalan sampailah aku dipinggir jalan utama. Kulihat ada beberapa orang marketing sepeda motor tengah membagi-bagikan brosur kepada para pengguna jalan. Aku memicingkan mata karena merasa mengenali salah satu dari mereka. Setelah cukup yakin aku lantas menyeberang jalan. Aku menghampiri orang yang kumaksud.


“Robi?” sapaku kepada pria yang mengenakan seragam bertuliskan salah satu merek sepeda motor itu.


“Meera?” seakan sedang meyakinkan orang yang dilihatnya


“Kamu masih inget ternyata, apa kabar?” tanyaku seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan


“Baik... kamu sendiri bagaimana?” dia bertanya balik setelah kami berjabat tangan


“Aku juga baik, kamu masih kerja aja di hari libur gini”


“Iya nih kejar target, mumpung hari libur kan banyak orang yang jalan-jalan jadi kesempatan closingnya semakin tinggi”


“Oh gitu... sini aku minta brosurnya, siapa tau ada temen kerja aku yang mau ngambil motor” aku mengambil selembar brosur yang ada ditangan Robi.


“Ini nomor hape kamu?” tanyaku kemudian seraya menunjuk deretan angka yang tertera didalam brosur


“Iya... klo ada yang minat tinggal telpon aja ke nomor ini, tenang aja nanti ada fee nya buat kamu hahaha”


“Kamu ini kayak ke siapa aja,” ucapku seraya menepuk bahu Robi, “yaudah aku pergi dulu yah mau beli seblak disana” lanjutku kemudian seraya menunjuk ke sebuah warung tak jauh dari sana


“Yaudah..bye...” jawabnya.


Setelah beberapa langkah aku sampai diwarung seblak yang ku maksud. Aku langsung memesan kepada si empunya warung.


“Bu seblaknya satu porsi” kataku kepada ibu penjual seblak


“Seblak apa neng?” tanyanya


“Hemm... seblak tulang, ceker, mie, sama makaroni yah bu,” jawabku, “bikin pedes manis yah bu dan jangan lupa pakai daun jeruk” lanjutku kemudian.


“Siap” jawab si empunya warung.


Beberapa menit kemudian pesananku sudah selesai dibuat. Aku lantas mengambil pesananku dan menyerahkan satu lembar uang pecahan sepuluh ribu. Tujuanku saat ini adalah pulang ke kostan untuk segera menikmati makanan yang sedang aku bawa. Aku kembali melewati jalan yang sama. Robi dan teman-temannya masih disana untuk membagikan brosur. Aku memilih menyeberang jalan agar tidak berpapasan dengan Robi. Pasalnya jika kami berpapasan maka akan ada obrolan lagi yang membuatku semakin lama untuk menikmati seblak pedas manis yang menggugah selera ini. Berbeda halnya jika dia hanya melihatku berjalan di seberang, aku hanya akan menoleh sambil tersenyum dan sedikit menganggukan kepala saja. Begitulah kira-kira rencananya.


Saat tepat berada diseberang Robi aku menoleh kearahnya. Dia nampak tengah menjelaskan sesuatu kepada seseorang sambil sesekali menunjuk-nunjuk kertas yang dipegang oleh orang tersebut. Kupikir ini lebih mudah dari rencanaku, Robi tidak melihatku. Aku mempercepat langkah kakiku sampai terdengar suara seseorang memanggilku.

__ADS_1


“Ra...Meera...Tunggu...!” seru orang tersebut. Dan ku tahu Robi lah yang tengah menggilku.


Aku menoleh malas kearahnya seraya menyunggingkan senyum.


“Tunggu bentar” katanya seraya berjalan kearahku. Dia nampak celingukan ke kiri dan ke kanan sebelum akhirnya menyebrang jalan setelah dirasa cukup aman.


“Minta nomor hape kamu” katanya to the point ketika telah sampai dihadapanku seraya menyerahkan ponsel miliknya


“Buat apa?" tanyaku penasaran


“Bos aku yang minta, dia pengen kenalan” katanya seraya menunjuk seseorang diseberang sana.


Kuikuti arah telunjuk Robi. Seorang pria tinggi, putih, dan cukup tampan tengah tersenyum kearahku. Dengan canggung ku balas senyumnya sambil sedikit menganggukkan kepala. Pria itu terlihat lebih dewasa dari aku dan Robi, ku taksir usianya sekitar 30an atau bahkan lebih.


“Dia manager marketing di tempat kerja aku, namanya pak Heru. Dan sekarang dia ikut canvasing sambil mengawasi kami” terangnya.


Aku hanya mengangguk tanpa jawaban. Ku raih ponsel Robbi dan mengetikkan nomor ponselku disana.


“Nih” kataku seraya menyerahkan kembali ponsel Robi kepada pemiliknya.


Aku melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda setelah sebelumnya berpamitan pada Robi untuk pulang ke kostan. Begitu sampai d kostan aku langsung menikmati seblak tulang, ceker, mie dan makaroni yang baru saja aku beli. Begitu aku buka aroma khas seblak langsung menusuk indra penciuman. Bau khas kencur dari bumbu seblak membuatku semakin tidak sabar untuk menikmatinya. Apalagi dengan kuah merah dari cabai giling yang membuatku menelan saliva berkali-kali ketika membuka bungkusannya.


“Hati-hati Ra, kamu itu orangnya mudah banget jatuh cinta. Inget kamu udah punya Umar” peringatan Nita setelah aku menceritakan perihal Heru.


Tiba-tiba suara ponselku berbunyi tepat ketika aku baru membuka mulut untuk menjawab pernyataan Nita sebelumnya menandakan ada panggilan masuk disana.


‘Nomor tidak dikenal’ gumamku pelan.


Ku tekan gambar berwarna hijau lalu menaruhnya mendekat ke daun telinga.


“Halo” sapaku setelah telepon tersambung


“Halo... Meera ya?” tanya si penelepon


“Iya betul, maaf ini siapa ya?” tanyaku kemudian


“Heru” jawabnya.


Aku menjauhkan ponsel dan menutup bagian bawahnya dengan menggunakan tangan kiri dan menoleh kearah Nita yang sedari tadi memandangiku dengan penuh pertanyaan. Aku berbicara tanpa suara kepada Nita seraya mengucapkan nama Heru kepadanya. Nita hanya mengangguk paham.

__ADS_1


Obrolan kami berlanjut sampai beberapa menit. Tak ada obrolan serius, dia hanya bertanya berbagai hal tentangku seperti bekerja dimana, asal darimana, berapa bersaudara, dan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Heru lebih mirip petugas sensus dari pada seorang manager marketing.


“Bye...” balasku setelah Heru berpamitan untuk menutup telpon karena aku bilang aku sudah mengantuk.


Ku simpan asal-asalan ponselku setelah sambungan terputus dengan Heru. Tidak kudapati Nita di kamar kostku, sepertinya dia tidur di kamar kostnya sendiri malam ini. Aku tahu dia pasti lelah karena baru saja pulang dari rumah orang tuanya. Padahal aku sangat ingin bercerita padanya mengenai Heru. Seorang pria cukup mapan yang baru ku kenal tadi siang.


Aku berbaring diatas tempat tidur sambil memandangi langit-langit kamar. Tiba-tiba terbersit kata-kata Nita padaku ‘Hati-hati Ra, kamu itu orangnya mudah banget jatuh cinta. Inget kamu udah punya Umar’.


‘Aku gak boleh jatuh cinta sama Heru’ titahku pada diriku sendiri sebelum aku benar-benar memejamkan mata menuju ke alam mimpi.


***


Keesokan harinya aku kembali menjalankan rutinitas harianku dihari kerja. Setelah membersihkan dan mematut diri di cermin, aku berangkat ke tempat kerja bersama Nita.


“Nit, semalem kok kamu gak tidur di kamar aku?” kataku memulai percakapan


Nita berdecak sebal, “memangnya aku ini obat nyamuk, kamu lama banget telponannya sampe aku ngantuk” jawabnya.


Aku hanya nyengir kuda mendapat omelan darinya, “maaf yaa” kataku seraya merangkul bahu Nita. Tinggi badan Nita memang tidak lebih tinggi daripada aku. Jadi mudah sekali untuk meraih bahunya dengan tanganku.


“Jadi bagaimana dengan Heru?” tanya Nita pada akhirnya


“Sepertinya dia orangnya dewasa dan mapan” jawabku sambil menerawang mengingat kembali obrolan kami tadi malam.


“Kamu suka sama dia?” tanyanya kemudian


“Entahlah” jawabku singkat


“Ingat Ra, kamu itu...”


Belum sempat Nita menyelesaikan perkataannya aku memotong, “iya...iya... aku tahu Nita sayaaang... aku udah punya Umar”.


“Aku tuh kenal kamu Ra, kamu itu orang yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Kamu adalah gadis yang bisa jatuh cinta bahkan kepada abang-abang penjual minuman yang ngasih kamu minuman gratis” omelnya panjang lebar


“Ih kamu itu ya udah kayak mamah aku aja, sok tau” ledekku seraya menjulurkan lidah kearah Nita


“Ra aku serius,” tatapan Nita berubah menjadi serius, “kalo kamu kayak gini terus, kedepannya sifat kamu yang kayak gini bisa jadi boomerang buat kamu sendiri” lanjutnya yang kemudian berhasil membuatku menoleh kearahnya. Sejenak kami saling bersitatap. Kulihat dia sedang tidak bercanda kali ini.


Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pernyataan Nita sebelumnya. Belum pernah kulihat Nita seserius kali ini. Memberi sanggahan hanya akan memperpanjang ceramah Nita pagi ini. Dan aku tidak mau merusak mood pagiku.

__ADS_1


__ADS_2