
“Ra” suara Umar membuyarkan lamunanku
“Eh, iya?” tanyaku canggung
“Ada yang mau aku omongin” tampak keraguan diwajah Umar saat mengatakannya
“Ngomong aja, aku denger kok” jawabku santai tanpa mengalihkan pandangan dari hamparan kebun teh di depan mata.
“Aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” kalimat Umar membuatku sedikit terkejut. Sebelumnya aku memang sempat menduga dia akan mengatakannya. Tapi tetap saja mendengarnya secara langsung membuatku cukup kaget. Pasalnya dia mengatakannya dengan satu tarikan nafas seperti sedang mengucapkan ijab kabul.
Aku segera memalingkan pandangan dari Umar yang sebelumnya aku menoleh kepadanya karena keterkejutanku mendengar kalimat pernyataan cinta dari Umar. Aku tidak lantas menjawab pertanyaan Umar. Bagaimanapun aku masih harus menimbang perasaanku sendiri. Apakah rasa nyaman yang kurasakan saat bersama Umar selama ini adalah perasaan cinta atau bukan. Sampai saat ini aku masih belum bisa meraba hatiku sendiri.
Umar pria yang baik, perhatian, dan pengertian. Dan yang pasti Umar adalah seorang pekerja keras. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak Umar.
“Aku butuh waktu Umar,” jawabku pelan, “kamu tahu sendiri bukan aku baru putus dari pacarku”.
“Its oke Ra, kamu punya banyak waktu untuk menjawabnya” jawabnya seraya menggenggam tanganku dan menatapku lekat.
“Aku akan buat kamu bahagia Ra” sedetik kemudian kami hanya saling menatap tanpa kata. Tiba-tiba Umar mendekatkan wajahnya kearahku. Aku refleks memalingkan wajah seraya melepaskan genggaman tangan Umar.
“Emmm... pemandangannya indah ya” kataku menunjuk hamparan kebun teh. Sebenarnya aku sudah sering kesini bersama Deni dulu. Tapi tetap saja rasa nyaman ketika berada disini masih tetap terasa. Kami melanjutkan jalan-jalan menyusuri kebun teh. Sesekali kami mengambil foto dengan menggunankan ponsel di tempat yang dirasa bagus. Tak ada obrolan mengenai pernyataan cinta Umar sebelumnya. Kami hanya mengobrol obrolan ringan.
Kami pulang setelah menjelang sore hari. Jalan-jalan kami hari ini diakhiri dengan makan jagung bakar manis keju di pinggir jalan. Seperti sebuah dejavu, hal-hal yang aku lakukan saat ini terasa seperti mengulang kembali ceritaku bersama Deni. Bedanya hanya orang yang disampingku saat ini.
Aku sampai di kostanku ketika matahari sudah mulai tenggelam.
“Cieee... yang habis ngedate” seloroh Nita mengejekku
“Kamu dari tadi rebahan disini Nit?” tanyaku pada Nita yang masih berada di tempat yang sama tapi dengan posisi yang berbeda dengan terakhir kali aku melihatnya tadi pagi
“Huuh, mager nih” katanya kemudian
“Umar nembak aku Nit” aku memulai cerita tanpa harus menunggu Nita bertanya
Nita nampak tertarik dengan ceritaku. Dia segera duduk dan menyimpan ponselnya yang sedari tadi dia pegang di pinggirnya.
“Trus kamu jawab apa?” tanya Nita antusias
“Belum aku jawab” jawabku lirih
“Kenapa?” tanyanya menggebu-gebu
Aku hanya mengangkat bahu, tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya
“Sepertinya Umar baik Ra, aku juga yakin dia gak bakal bikin kamu bosan karena kulihat diaorangnya kreatif” apa yang diucapkan Nita memang sedikit ada benarnya juga.
__ADS_1
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 aku masih belum bisa memejamkan mata. Pernyataan cinta Umar tadi siang sedikit banyak menggangu pikiranku.
“Tring...” bunyi suara notifikasi ponselku menandakan ada pesan masuk.
[Ra lagi apa? Udah bobo belum?] rupanya Umar yang mengirim pesan
[Belum] jawabku singkat
[Kenapa? Gak bisa bobo ya? Pasti lagi mikirin aku]
[Ih geer banget kamu]
[Oiya... kamu udah punya jawaban belum?]
[Maksudnya?]
[Kamu mau engga jadi pacar aku? Aku serius sayang sama kamu Meera. Bahkan sejak kita pertama bertemu
dulu di balai pelatihan. Kamu adalah gadis manis yang selalu ada dipikiranku sejak saat itu. Dan aku bersyukur bisa bertemu kamu lagi Ra. Please... kasih aku kesempatan] kubaca perlahan isi pesan singkat dari Umar. Dengan ragu aku mengetikkan sebuah jawaban pesan singkat Umar.
[Yaudah]
[Yaudah apa?]
[Makasih yah Ra... aku seneng banget... yaudah sekarang bobo gih udah malem besokkan kamu harus kerja] pesan terakhir Umar yang tidak aku balas lagi.
Hampir satu minggu sudah berlalu dari terakhir kali aku bertemu dengan Umar. Semenjak status kami
berubah dari teman menjadi pacar Umar semakin intens memberikan perhatian. Saat aku membuka ponsel ketika pulang bekerja, ada puluhan pesan masuk dengan satu nama ‘Umar’. Walaupun dia tahu kalau sedang bekerja aku tidak diperbolehkan membawa ponsel, dia tetap konsisten mengirimiku pesan dengan alasan aku pasti akan membacanya ketika pulang bekerja.
[Met pagi Meeraku sayang, sebelum berangkat kerja jangan lupa sarapan ya... Love u]
[Met siang cintaku, jangan lupa makan siang ya... Miss u]
[Met bobo honey... jangan lupa mimpiin aku ya... mmmuuuaacchhh]
“Dih lebay” gerutuku sambil melemparkan ponsel keatas tempat tidur.
Hari ini aku lembur dikarenakan tadi ada sedikit masalah di pabrik. Mobil kontainer yang akan mengangkut barang untuk di ekspor datang terlambat karena ada kesalahan teknis. Aku yang bertugas di bagian packing besar tentu harus menunggu armada tersebut datang dan harus memastikan barang yang akan diekspor tidak salah, tertukar, ataupun tertinggal. Jadi karena itulah aku baru sampai di kostan ketika matahari sudah benar-benar tidak menampakkan diri lagi.
Hari ini aku hanya sendirian di kamar kostku. Nita sedang pulang ke rumah orang tuanya. Dia bilang ibunya sakit dan memintanya untuk pulang. Jarak dari kostan ke rumah Nita bisa ditempuh dengan satu jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor jika keadaan tidak macet.
“Drtttt...drtttt...drtttt” ponselku bergetar menandakan ada panggilan masuk
__ADS_1
“Halo Umar...” sapaku ketika sambungan mulai terhubung
“Halo cintaku, udah bobo belum? Kok sms aku gak dibales sih?” tanyanya
“Aku baru pulang Umar, tadi abis lembur. Ini aku baru mau bales” jawabku bohong. Padahal sebenarnya aku males banget, inginnya langsung tidur dengan nyenyak.
“Oh gitu... kamu pasti capek yah? Yaudah istirahat gih”
“Enggak kok, kamu ada apa nelpon?”
“Aku cuma mau ngabarin kalo aku besok mau pulang ke rumah mamah, jadi libur sekarang kita gak bisa ketemu... gapapa yah?”
Demi apa? Aku justru sangat senang mendengarnya. Besok aku bisa rebahan dengan tenang dan aman tanpa
harus mandi dihari libur. Wkwkwkwk.
“Oh gtu... yaudah gapapa kok Umar”
“Oh iya cinta, kita kan sekarang udah pacaran, kamu jangan panggil aku Umar donk... kita kan harus punya nama panggilan kesayangan”
“Emangnya kamu mau aku panggil apa?”
“Aku ingin kamu manggil aku ayah, dan aku manggil kamu dengan sebutan ibu”
Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Kata-kata umar barusan membuatku geli sendiri. Aku tidak bisa membayangkan memanggilnya dengan panggilan menggelikan seperti itu. Apa itu? Ayah...ibu... memangnya kami sudah punya anak? Menikah saja belum.
“Halo...halo...”
“Eh iya kenapa Umar?”
“Kamu kemana kok tiba-tiba ilang?”
“Maaf Umar, aku ketiduran, abis ngantuk banget” jawabku asal disusul dengan menguap sambil mendekatkan ponsel agar Umar percaya aku benar-benar ketiduran.
“Oh gitu... yaudah bobo gih”
“Iya... kamu juga yaa”
“Panggilan sayangnya mana?”
‘Astaga... kenapa dia inget aja sih’ gerutuku kesal
“Iya ayaaah”
“Yaudah deh, met bobo ibuu... mimpi indah ya”
__ADS_1
Aku langsung memutuskan sambungan telpon tanpa menjawab kalimat Umar sebelumnya. Entah kenapa ada perasaan ilfeel terhadap Umar. Bagiku sikap Umar akhir-akhir ini sangatlah berlebihan. Bukankah sesuatu yang berlebihan pun tidak bagus ya. Karena terlalu lelah dan malas memikirkan Umar, akhirnya aku terlelap dengan masih mengenakan seragam pabrik yang bahkan belum sempat aku ganti.