CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 35


__ADS_3

Keesokan paginya aku dan Habibie pulang kembali ke rumah Habibie. Sebisa mungkin aku berusaha agar Habibie tidak bertemu dengan Ameera lagi. Jujur aku cemburu kepadanya. Dua orang milikku sangat mencintainya, Umi dan habibie. Maafkan aku Ameera.


Kami pulang dengan menggunakan mobil Habibie, sedangkan mobilku disimpan di rumah Umi. Saat kami akan pergi, ku lihat Habibie masih curi-curi pandang mencari Ameera. Aku tahu Ameera sedang di belakang mempersiapkan bahan-bahan untuk pesanan catering Umi. Aku bersyukur untuk itu.


Semenjak hari itu, kini Habibie lebih sering mengajakku untuk pulang ke rumah Umi. Dia malah menawarkan untuk mengantarkanku. Aku sebagai istri menurut saja. Aku tahu, Habibie merindukan Ameera. Dia masih sangat mencintai Ameera. Aku hanya berusaha menutup mata agar hatiku tidak terlalu terluka.


Melihat sifat Habibie, ekspektasiku tentang ‘anak kyai’ ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Mungkin tidak semua seperti itu. Aku hampir lupa kalau anak kyai bukanlah Rosululloh SAW. Aku terlalu tinggi berekspektasi. Dia Habibie, hanya Habibie.


“Perasaan Aa lebih semangat ke rumah Umi daripada aku?” tanyaku ketika kami sedang berada dalam perjalanan. Sesuai titah Umi, aku mengganti panggilanku kepada Habibie.


“Kamu memangnya tidak mau ketemu Umi?” Dia malah bertanya balik.


“Ya mau, siapa sih yang tidak rindu sama ibu sendiri.” Aku menoleh kearahnya sejenak. “Aku tahu Aa mau ketemu sama Ameera.”


Dia nampak mengalihkan pandangannya kepadaku, “maksud kamu apa?”


“Aku tahu tentang Aa dan Ameera. Maaf aku sudah tidak sopan membuka dompet Aa. Aku melihat foto Aa bersama Ameera.”


Dia menghentikan laju mobilnya. Saat ini mobil yang kami tumpangi sudah terparkir di pinggir jalan. “Maafin Aa yah, kamu pasti kecewa. Kamu benar, dulu Aa dan Ameera memang pernah menjalin hubungan. Aa sebenarnya akan mengajaknya menikah, tapi—“


“Maaf aku telah hadir diantara kalian,” ucapku memotong perkataan Habibie.


“Bukan, bukan seperti itu. Aa paham pernikahan kita sudah ditakdirkan sama Allah. Hanya saja Aa tidak bisa memungkiri kalau sampai saat ini Aa belum bisa melupakan Ameera.” Mendengar kejujuran Habibie membuat hatiku terasa sakit.


“Apa Aa ada rencana untuk kembali bersamanya?” tanyaku kemudian.


“Dia sudah menikah. Saat itu dia bilang kalau dia sedang mengandung.” Hatiku semakin sakit mendengarnya. Jadi kalau dia tahu Ameera masih sendiri, dia akan mengajaknya menikah? begitukah?


Sampai saat ini aku tidak mengerti mengapa Ameera berbohong pada Habibie. Padahal aku tahu betul kalau Ameera belum menikah. Selama aku tinggal dirumah Umi, aku tidak pernah melihat suami Ameera. Kalaupun suami Ameera jauh, pastilah sesekali aku pernah melihatnya bertelfon saling menanyakan kabar. Tapi aku bahkan tidak tahu apakah Ameera memiliki ponsel atau tidak.


Kedatangan kami disambut suka cita oleh Umi. Nampaknya Umi senang, kini aku lebih sering mengunjunginya. Padahal Umi tidak tahu apa alasan sebenarnya kedatanganku.

__ADS_1


Saat kakiku melangkah masuk ke rumah, sosok yang pertama kali aku cari adalah Ameera. Aku melihat sekeliling untuk mencarinya. Bukan karena merindukannya. Sebaliknya aku berharap agar tidak bertemu dengannya.


“Umi senang sekarang kalian lebih sering mengunjungi Umi. Tapi sebenarnya kalau kalian sibuk tidak usah memaksakan. Disini sudah ada Lusi dan Ameera yang menemani Umi.” Mendengar nama Ameera disebut, aku kembali merasa tidak nyaman. Aku merasa Ameera telah menggantikan posisiku sebagai anak Umi. Dan sebentar lagi mungkin posisiku sebagai istri Habibie.


“Tidak Umi, kami tidak sibuk,” jawabku seraya tersenyum ke arah Umi. Kulihat Habibie pun hanya tersenyum tanpa berkata apapun.


Setelah berbasa-basi saling menanyakan kabar, kami beranjak untuk shalat dzuhur berjamaah, dan kemudian makan siang bersama.


“Mba Lusi sama Ameera kemana Umi?” Karena sudah penasaran, akhirnya akupun memutuskan untuk bertanya saja.


“Dibelakang, sedang menyiapkan pesanan untuk nanti sore,” jawab Umi.


“Pesanan catering Umi lumayan yah. Umi tidak keteteran menghandlenya sendiri?” tanya Habibie.


“Iya Alhamdulillah. Tapi sebenarnya Umi tidak menghandlenya sendiri, dibantu Lusi dan Ameera. Eh, malah akhir-akhir ini Umi sudah jarang mengurusi catering. Mereka berdua sudah cukup handal menanganinya. Mereka berdua itu cekatan dan rajin. Begitu Umi dapat pesanan, Umi langsung sampaikan kepada mereka menunya, jumlahnya, dan deadlinenya. Mereka sudah mengerti sendiri tanpa harus disuruh-suruh.”


Saat kami sedang berbincang, tiba-tiba Ameera datang kearah kami. Aku melirik kearahnya, rasanya ada yang berbeda. Dan pandanganku berakhir pada perutnya yang agak membuncit. Jadi benar Ameera sedang hamil? Lantas kenapa saat itu dia berbohong kepadaku? Dia memilih untuk berbohong kepadaku dan jujur kepada Habibie, mengapa? Apakah dia memiliki suatu rencana? Aku jadi benci hanya membayangkannya saja.


“Sudah Umi. Saya hanya mau mengabarkan kalau pak Agus tidak bisa mengantarkan pesanan, katanya mau mengantarkan istrinya yang mau melahirkan.”


“Oh begitu, tidak masalah, nanti kita pesan mobil online saja,” jawab Umi. “Sini duduk kita makan bersama. Panggilkan mba Lusi juga.”


“Mba Lusinya tadi pulang dulu Umi, katanya mau makan dirumah sama suaminya.”


“Yasudah kamu saja, sini duduk.” Akhirnya Ameera pun menuruti perintah Umi untuk makan bersama.


Tiba-tiba aku merasa pusing, dan merasa ada sesuatu dalam perutku yang hendak keluar. Aku begitu mual. Aku menutup mulutku dengan tangan agar tidak sampai muntah di meja makan. Segera aku berlari ke kamar mandi terdekat dan hoek ... hoek ... hoek ...


“Alifa kamu tidak apa-apa?” Habibie sudah ada dibelakangku.


“Mungkin Cuma masuk angin A,” jawabku.

__ADS_1


“Yakin cuma masuk angin? Atau jangan-jangan—“ Umi menimpali dibelakang Habibie seraya tersenyum kearahku.


“Jangan-jangan apa Umi?” Nampaknya Habibie penasaran apa yang akan dikatakan Umi.


“Jangan-jangan istri kamu hamil.” Umi Sedikit berbisik kearah Habibie tapi tentu saja aku masih bisa mendengarnya.


Habibie hanya diam tanpa berekspresi. Tidak nampak raut wajah bahagia disana. Tapi tidak nampak kecewa juga. Ekspresinya datar.


Umi segera merangkulku untuk bangun. Sedangkan Habibie kulihat memandang ke arah sebaliknya. Dia memandang ke arah meja makan dimana ada Ameera disana tengah menikmati makan siangnya. Hatiku semakin teriris. Ketika aku sedang mengandung anaknya, dia masih saja memperhatikan perempuan lain. Dan itu terjadi tepat di hadapanku.


“Bawa istrimu ke kamar nak, biarkan dia istirahat. Besok kita bawa periksa ke dokter Yesi,” titah Umi.


“Baik Umi.” Perhatian Habibie akhirnya sepenuhnya  kepadaku. Dia memapahku melewati meja makan. Sekilas kulihat Ameera masih menikmati makanannya, tanpa merasa terganggu atau sedikit kepo terhadap kami.


Habibie meninggalkanku di kamar usai membaringkanku di tempat tidur. Dia bilang akan keluar agar membiarkanku beristirahat. Ini salah kan? Bukannya seharusnya saat ini dia menemaniku bukan meninggalkanku? Tanpa terasa air mata menetes. Disaat hamil seperti ini, aku sangat ingin mendapatkan perhatian dari suamiku sendiri. Apakah itu sesuatu yang berlebihan?


***


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2