CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 6


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 3 sore saat aku sampai di kostan. Ku selonjorkan kaki sambil sedikit memijatnya. Seharian ini pekerjaanku menuntut untuk mondar-mandir bak setrika yang tengah digunakan. Rasa pegal tak terelakkan lagi. Seharian ini aku belum duduk kecuali saat jam makan siang. Belum sirna rasa lelahku, tiba-tiba ku dengar suara ponsel berdering.


“Halo ...” sapaku ketika sambungan telepon terhubung


“Bu baru pulang kerja ya?” tanya si penelepon


“Iya nih, cape banget”


“Nanti sore sepulang kerja aku ke kostan kamu yah?”


“Ada apa?”


“Mau ketemu aja, aku kangen”


“Yaudah”


“See u”


Kututup sambungan telepon tanpa menjawab apapun. Rasa lelah mengajakku ingin segera berbaring di tempat tidur. Tanpa terasa aku pun terlelap menuju ke alam mimpi.


Aku mengerjapkan mata saat mendengar suara pintu diketuk dan seseorang disana memanggil-manggil namaku. Aku segera beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu. Nampak wajah Umar dibalik pintu tengah tersenyum kearahku.


“Umar...udah lama?” tanyaku dengan suara parau khas orang baru bangun tidur


“Lumayan,” jawabnya, “kamu tidur?” tanyanya


“Iya nih cape banget tadi di pabrik banyak kerjaan” jawabku jujur


“Yaudah mandi gih, kita nyari makan” titahnya


“Oke, tungggu bentar yah”


“Aku tunggu diluar yah”


“Oke”


***


“Jadi kamu mau makan apa?” tanya Umar sesaat setelah aku naik keatas motornya


“Terserah” Jawabku singkat


“Gimana kalau kita ke rumah makan sunda aja, kita makan nasi liwet sambil lesehan” tawarnya


“Enggak ah, lagi males makan nasi” jawabku malas


“Kalo gitu makan bakso aja yuk, di deket alun-alun ada bakso baru buka. Katanya sih enak, yang punya artis loh Bu”

__ADS_1


“Minggu ini aku udah beberapa kali makan bakso, kalo makan bakso lagi nanti bisa gendut akutu”


“Trus kamu maumakan apa?” tanyanya jengkel


“Terserah”


Sepertinya Umar memutuskan berhenti bertanya karena aku tidak mendengar lagi suaranya. Kami melanjutkan berkendara mengelilingi kota. Matahari sudah  benar-benar tenggelam. Cahaya dari lampu jalan mulai menampakkan keindahannya. Kami memasuki kawasan Mall cukup terkenal di kota ini. Perlahan motor yang kami kendarai masuk area parkir dan berhenti disana.


“Kok kita kesini?” tanyaku seraya turun dari motor dan menyerahkan helm kepada Umar.


“Kita nonton dulu aja, nanti habis itu kita makan di foodcourd yang ada dilantai atas. Jadi kamu bebas mau milih makanan apa yang kamu mau” katanya.


Kami berjalan berdampingan masuk ke area Mall. Tanpa sadar aku melirik ke arah Umar. Dia memang tidak lebih tampan dari mantan pacarku, tapi tentu saja dia lebih perhatian dan pengertian dari Deni. Dengan wajah biasa saja dan kulit sawo matang, dia memiliki kelebihan sendiri dalam hal sifat. Setidaknya itu yang kurasakan saat ini.


“Kamu tunggu disini, aku pesan dulu tiket yah Bu” katanya seraya menghentikan langkah.


“Oh..iya” jawabku terbata karena baru menyadari bahwasanya kami sudah sampai di area bioskop.


Suasana tidak terlalu ramai, mengingat hari ini adalah weekday bukan weekend. Hanya terlihat beberapa pasangan kekasih kurasa sedang berbincang dengan pasangannya masing-masing. Sepertinya mereka pun akan nonton film yang sama dengan film yang akan aku tonton bersama Umar.


Beberapa menit kemudian Umar menghampiriku sambil membawa dua buah tiket dan satu kantong keresek berisikan dua buah popcorn dan dua gelas cola.


“Kita duduk disana yuk, filmnya masih dimulai beberapa menit lagi” ajak Umar sambil menunjuk bangku kosong yang tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Aku mengangguk dan mengekor dibelakang Umar.


Kami sedang mengobrol ketika seseorang menghampiri kami dan menyapaku, “hai Meera,” sapanya.


Aku menghentikan obrolanku dengan Umar dan menoleh kearahnya. Sejenak aku mengingat-ngingat siapa orang yang sedang berdiri dihadapanku saat ini.


Mendengar kata ‘bertemu hari minggu kemarin’ Umar langsung menoleh kearahku seolah minta jawaban atas pertanyaan yang belum dia tanyakan. Aku dengan sigap langsung memberi tanggapan kepada Heru sekaligus memberikan penjelasan untuk Umar.


“Oh iya Heru yang pas hari minggu ngebagiin brosur sepeda motor deket jalan kostan aku ya, atasannya Robi kan?” walaupun aku berbicara dengan Heru tapi tatapanku mengarah kearah Umar. Bisa bahaya kalau Umar sampai mengira yang macam-macam trus marah lalu menelantarkan aku disini.


“Oh iya Heru kenalin ini Umar, Umar ini Heru” pada akhirnya aku memperkenalkan mereka berdua untuk memecah kecanggungan. Mereka pun pada akhirnya berjabat tangan singkat.


Merasa Umar masih belum puas dengan penjelasanku akupun membalikkan badan sepenuhnya kearahnya, “kamu kenal Robi kan? Dia sama-sama peserta pelatihan dulu. Nah Heru ini manajer di tempat kerja dia. Aku gak sengaja ketemu sama dia pas hari minggu kemaren mau beli seblak, iya kan Heru?” tanyaku seraya menoleh kearah Heru.


Heru tidak mengiyakan maupun menyanggah semua yang aku katakan. Wajahnya malah seperti sedang menertawakanku yang seperti orang sedang ketahuan berselingkuh saja. Tampak sekali dia sedang menahan tawa.


“Yaudah Ra aku jalan dulu yah, sepertinya pacar kamu merasa terganggu dengan kedatanganku. Ngobrolnya kita lanjut nanti aja yah via telpon. Bye Meera...” pamit heru seraya melambaikan tangan kearahku untuk kemudian berbalik dan melangkah menjauh dari kami.


Aku membelalakkan mata mendengar kalimat Heru padaku. Perlahan aku menoleh ke arah Umar untuk melihat ekspresinya. Dan sesuai dugaan Umar terlihat sangat kesal. Kenapa juga Umar tidak pura-pura baik-baik aja sih, malah memasang ekspresi menakutkan begitu. Ah aku lupa, Umar kan orangnya memang seperti itu, selalu jujur dalam berekspresi.


Baru saja aku akan membuka mulut ketika petugas bioskop mengumumkan bahwa bioskop sudah dibuka. Umar mengajakku untuk masuk. Kami pun segera mencari tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket yang kami pegang.


“Kamu cukup dekat yah dengan pria tadi,” kata Umar ketika kami baru saja duduk di bangku bioskop, “dia sampai tau nomor ponsel kamu” katanya kemudian


“Engga juga kok, kami baru sekali bertemu itupun gak sengaja saat aku menyapa Robi” kilahku

__ADS_1


Umar kemudian menoleh kearahku, “aku cemburu kamu dekat-dekat dengan dia” ucapnya serius. Lama Umar menatapku seperti sedang menunggu jawaban dariku sampai kemudian film pun dimulai dan obrolan kami terhenti.


Dua jam kemudian kami keluar dari teater setelah selesai menonton film yang tidak bisa ku cerna dengan baik jalan ceritanya karena aku tidak fokus menonton. Tujuan kami saat ini adalah foodcourt yang ada di lantai yang sama dengan bioskop tempat kami menonton film sesaat yang lalu. Kami duduk berhadapan di meja yang sama setelah Umar memesankan makanan untuk kami berdua.


“Maafin aku yah Umar, kencan pertama kita jadi garing gini gara-gara aku” sesalku


“Bukan salah kamu Bu,” katanya seraya meraih tangan kiriku menggunakan tangan kanannya, “dan bisakah kamu berhenti memanggilku dengan nama Umar, aku ingin kamu terbiasa memanggilku dengan panggilan ayah sampai kita nikah dan punya anak nanti” lanjutnya


“Nikah?” tanyaku meyakinkan diri sendiri


“Iya Nikah, nanti setelah nikah kamu tidak usah bekerja lagi, kamu cukup duduk di rumah bersama anak-anak kita sambil mengungggu aku pulang bekerja”


Aku menarik tanganku dari genggaman Umar ketika seorang pelayan datang membawa pesanan kami. Pelayan tersebut segera beranjak meninggalkan kami ketika selesai melaksanakan tugasnya.


“Aku belum berfikir kearah sana Umar, banyak hal yang ingin aku raih. Lagipula usia kita baru dua puluh tahun, masih banyak waktu” ucapku seraya menundukkan pandangan kearah meja.


“Kenapa? Bukankah tujuan pacaran pada akhirnya pun untuk menikah? Kamu masih meragukan cintaku Bu?” tanyanya “aku nungguin kamu selama dua tahun terakhir ini, aku gak mau kehilangan kamu” katanya kemudian


Kulihat keseriusan dimata Umar. Aku bingung harus menjawab apa. Aku hanya memainkan bola mata melirik ke kiri ke kanan ke atas ke bawah hanya supaya tidak bersitatap dengan Umar.


“Sepertinya memang benar kamu tidak mau menikah dengan ku Bu,” kata Umar pada akhirnya seraya mengambil sendok dan garpu dan mulai menikmati makanannya dengan malas, “makanlah” katanya kemudian. Aku mengiyakan titah Umar tanpa kata. Menit berikutnya kami hanya menikmati makanan yang tersaji di hadapan kami dalam diam.


“Maafkan aku Umar, bukan aku bermaksud untuk menolak menikah denganmu, aku hanya butuh waktu untuk kita saling mengenal” kataku ketika kami sedang dalam perjalanan pulang ke kostan. Umar hanya mengangguk tanpa kata.


Umar segera berpamitan untuk pulang setelah kami sampai di kostanku, “masuk gih istirahat, kamu pasti capek” katanya ketika menerima uluran helm dariku. Aku hanya mengangguk dan berlalu masuk ke dalam kamar kostku. Perlahan suara motor Umar menjauh dan kemudian tak terdengar lagi.


Sampai dikamar aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Kutatap langit-langit kamar sambil memikirkan kembali acara kencan pertamaku bersama Umar sesaat yang lalu. Mulai dari ajakan Umar untuk menikah tadi, sampai dengan kedatangan Heru yang membuat suasana menjadi  canggung. Ah Heru, kenapa dia tadi bisa ada disana? Bahkan aku belum sempat menanyakannya karena takut Umar cemburu. Ditengah berbagai pertanyaan dikepalaku, ku dengar ponselku berdering.


“Halo” sapaku ketika sudah terhubung


“Halo Meera udah pulang?” tanya seseorang di seberang sana


“Udah, baru aja nyampe” jawabku jujur


“Gimana kencan kalian? Pasti garing yah?” tanyanya lagi


“Engga kok, seru-seru aja” jawabku bohong


“Masa sih, tapi aku liat kayaknya cowok kamu ngebosenin gitu,” ejeknya, “Kamu itu gak cocok sama dia Ra, kamu itu terlalu cantik buat dia” lanjutnya


“Udah deh to the point aja, kamu ada apa nelpon aku?”


“Tadi aku gak sengaja lihat jam 21:21, katanya kalo kita lihat jam kembar artinya ada yang kangen sama kita. Aku tahu kamu lagi kangen sama aku makanya aku langsung nelpon kamu” paparnya


“Ih, teori darimana itu? Gak jelas banget” jawabku jutek


“Hemmm itu artinya kamu gak kangen sama aku?” tanyanya memelas

__ADS_1


“Ya engga lah, yaudah yah aku ngantuk mau tidur dulu, bye” segera ku matikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban Heru.


‘Kok dia bisa tahu sih kalau aku lagi mikirin dia’ gerutuku bingung.


__ADS_2