
“Baiklah, bapak sepertinya sudah mulai mengerti duduk persoalannya, bapak kira ini murni hanya salah paham,” pak RT mengalihkan perhatiannya pada Umar, “bapak paham kamu masih muda, emosi kamu meledak-ledak, kamu salah paham sama pacar kamu, dan cemburu buta. Tapi kamu salah mengekspresikannya dan pada akhirnya kamu malah menyakitinya. Seharusnya kamu meminta penjelasan dulu, bukannya main hantam saja.”
Pak RT lalu mengalihkan pandangannya pada Heru, “kamu memang berniat baik untuk menjaga Ameera. Tapi kamu salah, Ameera disini tidak sendiri, kamu lihat? Disini ada sahabatnya yang menyayanginya bagai saudara. Selain itu ada bapak kost dan istrinya yang akan menjadi orang tua pengganti bagi Ameera.” Kemudian pak RT mengalihkan pandangannya pada pemilik kostan, “bukan begitu pak?” yang ditanya hanya menganggukkan kepala.
“Dan kamu Ameera,” pak RT kini mengalihkan pandangannya kepadaku, “bapak turut prihatin atas apa yang kamu alami. Maaf bapak harus mengatakan ini, tapi semua ini tidak akan terjadi jika sejak awal kamu lebih tegas untuk lebih memilih pulang daripada menginap ‘di tempat lain’” pak RT menekankan kata di tempat lain seraya menoleh kearah Heru.
“Maaf ....” ucapku lirih.
“Baiklah, bapak rasa sekarang semua sudah clear yah. Bapak harap masalah ini cukup sampai disini saja. Kedepannya jangan lagi ada masalah yang sama,” ucap pak RT.
“Baiklah pak kalau begitu saya permisi pulang dulu.” Pak RT berpamitan pada pemilik kostan. Setelah berjabat tangan, pak RT beranjak meninggalkan kami.
Aku beranjak bangun bermaksud untuk kembali ke kamar kostku, tetapi pemilik kostan menghentikan langkahku. “Ameera tunggu!” serunya.
Aku menghentikan gerakku dan menoleh kearahnya, “ada apa ya pak?” tanyaku.
Pemilik kostan nampak ragu, “maaf saya harus mengatakan ini, saya harap kamu tidak salah paham. Saya tahu kamu gadis baik-baik, kamu juga tidak pernah membuat masalah selama ngekost ditempat saya. Tapi sepertinya saya sudah tidak bisa menyewakan kamar kost kepada kamu.”
Aku terlonjak kaget mendengarnya, “tapi kenapa pak? Bukannya masalahnya sudah clear yah? Ini hanya salah paham pak.”
“Saya tahu, dan saya juga percaya sama kamu. Tapi mau bagaimana lagi, terlalu banyak yang menyaksikan kejadian tadi. Mereka pasti sudah bergosip kemana-mana. Tahu sendiri kan berita cepat menyebar di lingkungan pabrik. Dan seringkali berita yang disebarkan dilebih-lebihkan. Saya khawatir berita itu akan berimbas pada nama baik kostan saya. Maaf kalau saya terdengar egois.” Penjelasan pemilik kostan memang realistis. Aku tidak bisa menyanggahnya untuk itu.
__ADS_1
“Tapi pak—“ Heru nampak akan membelaku, tapi dengan sigap aku memegang tangannya dan menggelengkan kepala kearahnya.
“Baik pak saya mengerti,” ucapku pasrah.
“Terimakasih Ameera. Tunggu sebentar.” Pemilik kostan merogoh saku celananya dan mengambil dompet didalamnya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu didalamnya dan menyerahkannya kepadaku.
“Ini uang kostan bulan ini saya kembalikan, dan sedikit tambahan dari saya untuk bekal kamu mencari kostan baru,” ucapnya.
Aku mengambil sebagian yang di sodorkan kepadaku, “terimakasih pak, saya ambil uang kostannya saja. Untuk tambahan uangnya maaf saya tidak bisa menerima, itu bukan hak saya.”
Pemilik kostan nampak bisa menerima keputusanku. Dia kembali memasukkan sisa uangnya ke dalam dompetnya, “baiklah kalau begitu.”
Aku berpamitan kepada pemilik kostan untuk kembali ke kamarku, diikuti oleh Nita, Heru, dan Umar. Sesampainya di kostan aku segera masuk ke kamarku bersama Nita. Mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapku dengan jijik. Aku mengepak beberapa pakaian dan barang-barang yang sekiranya penting kedalam ranselku. Tak lupa aku juga mengganti pakaianku menjadi lebih rapi.
Tanpa memberikan jawaban, Nita menghambur kearahku dan memelukku erat. Dia mulai terisak.
“Kamu mau kemana Ra?” tanyanya disela tangisnya.
Aku bingung harus menjawab apa. Karena sebenarnya akupun tidak tahu langkah apa yang harus aku ambil selanjutnya. Ini semua diluar rencana hidupku.
Aku berpamitan kepada Nita setelah kami saling melepaskan pelukan. Aku beranjak keluar dan betapa terkejutnya aku mendapati Umar masih disini.
__ADS_1
Begitu melihatku, Umar beranjak dari duduknya dan menghampiriku, “Biar aku antar kamu bu,” pintanya.
Mendengar Umar memanggilku dengan sebutan ‘bu’ aku jadi emosi. Benar-benar laki-laki yang tidak tahu malu. Setelah menyakitiku, menghinaku dengan sebutan pela*ur dan perempuan kotor, bisa-bisanya dia begitu tebal mukanya masih memanggilku dengan panggilan itu.
Kutatap wajahnya dengan penuh kebencian. Ingin rasanya aku memakinya, menampar mulut kotornya, dan mungkin mendaratkan beberapa pukulan di tubuhnya, tapi semua itu kuurungkan. Aku tidak ingin menghabiskan sisa energi yang kumiliki untuk membuat keributan lagi disini.
Kulangkahkan kaki keluar dari kostan ini, namun langkahku terhenti tatkala sepasang tangan tengah merengkuh kedua kakiku. Aku menoleh kearah sipemilik tangan ini, dan benar dugaanku, Umar.
“Maafin aku bu ... maafin aku ... jangan tinggalin aku ... beri aku satu kesempatan lagi .... “ Umar terisak seperti bayi. Sungguh menggelikan melihatnya seperti itu setelah beberapa saat yang lalu dia menghinaku dengan begitu pongahnya.
Tak ku hiraukan rengekan Umar. Sungguh baru kuketahui ternyata laki-laki yang kuanggap baik ini ternyata mempunyai kepribadian ganda. Di saat-saat tertentu dia bisa merengek seperti bayi yang ingin dibelikan mainan, tapi disaat yang lain dia bisa menjadi sangat berbahaya seperti seekor binatang yang akan menerkam mangsanya.
Aku menoleh ke arah Heru yang sedari tadi menatap Umar dengan jijik, “kak, boleh minta tolong anterin aku nyari kostan?” tanyaku.
Heru hanya mengangguk seraya tersenyum. Ia sedikit berjongkok untuk melepaskan tangan Umar dari kakiku.
“Sebagai lelaki, aku sungguh malu melihatmu seperti ini,” ucap Heru pada Umar, “seharusnya kamu berfikir sebelum bertindak. Bahkan setelah kamu menyakiti Ameera secara fisik dan harfiah, dengan tidak tahu dirinya kamu masih berharap Ameera akan luluh dengan sikap bodohmu ini. Minta maaf lah dengan benar. Hal yang kamu lakukan saat ini hanya akan membuat Ameera jijik terhadapmu. Sebagai sesama lelaki aku hanya berpesan satu hal padamu. Jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi dimasa depan.”
Aku meraih uluran tangan Heru. Dan kami naik keatas sepeda motor Heru. Kutoleh sekali lagi ke belakang. Kulihat Umar masih diposisi yang sama, berjongkok dengan kedua lututnya seraya terus menundukkan pandangannya ke lantai. Lalu pandanganku teralihkan kepada Nita. Kesedihan nampak menggelayut dijawahnya.
Motorpun melaju. Kutatap sekali lagi bangunan kostanku. Tempat yang kutinggali selama kurang lebih dua tahun. Bangunan sederhana yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku. Kini aku harus meninggalkannya, dengan terpaksa.
__ADS_1
***