CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 12


__ADS_3

Aku masih berada didalam kamar tamu di rumah Heru. Aku sangat gelisah karena Heru belum juga kembali padahal sekarang sudah sangat larut. Berulang kali aku menoleh kearah pintu berharap Heru muncul disana. Kegelisahanku bertambah menyadari saat ini aku tidak bisa menghubungi siapapun karena aku tidak membawa ponsel.


‘Heru kemana sih kok gak pulang-pulang,’ batinku, ‘apa aku minta tolong ibu aja yah buat pesenin ojek online supaya aku bisa pulang ke kostan, Nita pasti khawatir.’


Aku hendak beranjak keluar kamar, tapi segera kuurungkan menyadari bahwa hari ini aku sudah banyak merepotkan keluarga Heru. Aku jadi tidak enak hati. Walaupun berulangkali ibunya Heru memintaku untuk menganggapnya sebagai ibu sendiri, tapi tetap saja aku masih merasa sungkan. Akhirnya aku kembali duduk diatas tempat tidur dengan perasaan gelisah yang tak kunjung mereda.


Ketukan dipintu mengalihkan perhatianku. Aku segera beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu, berharap Heru lah yang ada dibaliknya. Dan ternyata benar, begitu aku membuka pintu, wajah tampan Heru terpampang nyata disana bersama dengan senyum manisnya. Entah mengapa aku merasa sangat bahagia melihatnya. Tanpa sadar aku menabrakkan tubuhku kedalam pelukannya.


Heru yang merasa terkejut dengan sikapku mencoba membalas pelukanku, “kamu kayaknya kangen banget yah sama aku, baru juga ditinggal beberapa jam udah kayak gak ketemu selama beberapa tahun aja.”


Menyadari sikapku yang berlebihan, aku mengendurkan pelukanku dan berangsur menjauh darinya, “bukan begitu, aku hanya sedang menunggumu saja.”


Heru tertawa mendengar penjelasanku, “jadi begini yah rasanya pulang kerja disambut sama istri. Aku jadi tidak sabar segera menjadikanmu pendampingku Ra.”


Mendengar ucapannya aku refleks mencubit perutnya. Aku hanya tersenyum kemenangan saat mendengar dia mengaduh sambil mengelus perutnya yang baru saja aku cubit.


“Kenapa baru pulang selarut ini? Aku nungguin kamu dari tadi tau,” ucapku manja.


“Maaf sayang, tadi ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu begitu merindukan aku yah?” tanyanya.


“Bukan rindu, tapi aku mau minta anter pulang sama kamu,” jawabku jujur, “eh tunggu, tadi kamu manggil aku apa?” tanyaku begitu menayadari panggilan berbeda yang disematkan Heru padaku.


“Memangnya kamu dengar apa?” tanyanya.


Aku jadi malu sendiri harus mengulang kembali apa yang tadi aku dengar, “lupakan, yuk anter aku pulang. Nita pasti sudah sangat khawatir.”


“Kamu pulang besok aja yah, malam ini istirahat aja disini. Dan kalau kamu mau kamu bisa menghubungi Nita pakai ponselku ini.” Heru menyodorkan ponselnya kearahku.


Aku bimbang sejenak menatap ponsel Heru yang masih tergantung di udara, “aku tidak hafal nomor ponsel Nita,” sesalku.


“Oh iya, gimana keadaan kamu sekarang? Apa sudah lebih baik?” tanyanya seraya menempelkan punggung tangannya diatas keningku.

__ADS_1


“Aku sudah sembuh kok,” jawabku seraya melepaskan tangan Heru dari keningku.


“Yaudah aku ke kamar dulu yah, mau mandi dulu. Nanti aku kesini lagi bawain kamu baju ganti.”


Aku kembali duduk di tempat tidur setelah menutup kembali pintu kamar. Pikiranku saat ini adalah Nita. Aku bahkan tidak bisa menghubunginya saat ini. Entah sekhawatir apa Nita sekarang. Tiba-tiba aku mendapatkan ide, aku akan menghubungi Nita via akun sosial medianya. Iya benar, kenapa juga aku tidak memikirkannya dari tadi. Rencananya aku akan meminjam ponsel Heru untuk membuka akun sosial mediaku dan mengirimi Nita pesan dari sana.


Sesuai janjinya,Heru kembali ke kamarku dengan membawa pakaian ganti untukku. Dia bilang baju ini milik Andini. Andini sendiri sekarang sedang pergi ke luar kota karena ada urusan  pekerjaan.


Aku kembali menutup pintu kamar setelah menerima baju ganti yang dibawa Heru. Setelah mengenakannya aku segera kembali menemui Heru yang masih menungguku diluar kamar.


“Mau ikut ke balkon?” ajaknya yang mendapat persetujuan dariku.


Sebelum naik ke lantai dua rumahnya dimana balkon yang dimaksud Heru berada, terlebih dahulu kami menuju ke dapur. Heru nampak membawa beberapa camilan serta dua gelas jus jeruk diatas nampan. Kami berdua segera naik ke lantai atas setelah urusan Heru di dapur selesai.


Kami berdua duduk berdampingan diatas dua kursi rotan yang terdapat meja diantaranya. Kami banyak bercerita sambil sesekali mengambil camilan yang berada diatas meja. Karena udara malam yang semakin dingin, refleks aku mengosok-gosokkan kedua telapak tanganku dan sesekali mengaliri udara diantaranya mencoba sedikit menghangatkan tubuh.


“Kamu kedinginan Ra? Mau kembali ke kamar aja?” aku hanya mengangguk pertanda setuju dengan usul dari Heru.


“Mmhhh ... Heru, boleh gak aku panggil kamu kakak? Kak Heru,” tanyaku.


Heru terlihat merenung sejenak, “jadi kamu lebih memilih menjadi adik aku daripada menjadi pendamping hidup aku?”


“Bukan, bukan maksud seperti itu, aku—“


Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Heru buru-buru memotong, “jadi sekarang kamu sudah mau menjadi istriku Ra?”


Aku melotot ke arahnya, kemudian mendaratkan cubitan kecil di perutnya.


“Aduh,” Heru tampak mengaduh sambil mengusap-usap bagian perutnya yang tadi aku cubit, “kamu kayaknya seneng banget yah cubit aku,” imbuhnya.


“Maaf ... maaf ... maaf ...,” aku segera mendaratkan tanganku untuk ikut mengusap perut Heru yang tadi aku cubit.

__ADS_1


Seketika tanganku bertemu dengan tangan Heru. Dia menggenggam erat tanganku kemudian memberikan satu kecupan di punggung tanganku. Aku refleks menarik tanganku dari genggamannya yang mendapat tanggapan berupa senyum kecil dari Heru.


Melihat kegusaranku Heru kembali meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Kemudian dia menatapku dengan sangat lekat, “kamu kenapa Ra? Takut sama aku?”


Dipandangi seperti itu aku jadi merasa salah tingkah, “aku ... aku ... aku hanya tidak terbiasa dengan semua ini. Aku tidak pernah sedekat ini dengan pria manapun,” jawabku jujur.


Heru nampak tersenyum mendengar jawabanku. Dia menarik tanganku hingga tanpa sengaja kini aku berada dalam pelukannya. Kali ini aku tidak mencoba untuk melakukan penolakan. Bagaimanapun, tubuh Heru tengah memberikan kehangatan yang membuatku merasa nyaman. Aku menenggelamkan wajahku di dada bidang Heru. Tanganku yang mulai terlepas dari genggaman Heru ku alihkan melingkar pada pinggang Heru.


“Ra?”


“Hemmm ....”


“Kamu boleh panggil aku kakak, panggil aku senyamanmu Ra.”


Aku melepaskan pelukanku pada Heru. Menatapnya lekat. Sejenak kami hanya saling menatap, sampai Heru mendaratkan satu kecupan hangat di keningku.


“Tidurlah, sekarang sudah malam,” titahnya, “aku ke kamar dulu, maaf tidak bisa menemani kamu sampai kamu tertidur. Aku takut jika lebih lama disini bersamamu bisa terjadi hal-hal yang diinginkan,” imbuhnya.


Aku menganggukkan kepala tanpa kata, dan Heru pun keluar dari kamar untuk menuju kamarnya sendiri di lantai dua.


Aku beranjak naik ke tempat tidur untuk mengistirahatkan mata yang sudah mulai berair. Kutatap langit-langit kamar sambil mencerna kembali kalimat terakhir yang Heru ucapkan padaku tadi. ‘Aku takut jika lebih lama disini bersamamu bisa terjadi hal-hal yang diinginkan.’


‘Mungkin maksudnya adalah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,’ gumamku pada diriku sendiri meralat ucapan Heru.


Aku kembali membayangkan kedekatanku dengan Heru dan keluarganya. Aku sudah merasa seperti menjadi bagian dari keluarga ini. Aku membayangkan betapa bahagianya aku kelak ketika sudah menjadi istri dari Heru.


Tiba-tiba bayangan itu perlahan memudar seiring dengan kesadaranku akan bagaimana hubunganku dengan Heru sesungguhnya. Meskipun Heru sudah memproklamirkan kepada keluarganya bahwa aku adalah calon istrinya, tapi tetap saja status hubungan kami belum bisa ku pahami. Disamping itu, sekarang ini statusku masih kekasih dari Umar. Dan Nita, dia pasti sangat kecewa padaku jika tahu apa yang sudah terjadi padaku disini.


Nita ... aku sampai lupa akan rencanaku meminjam ponsel Heru untuk menghubungi Nita via akun sosial medianya. Aku jadi bimbang, haruskah aku menghampiri Heru dikamarnya hanya untuk meminjam ponselnya? Tapi rasanya itu sangat tidak sopan. Sebaik apapun tuan rumah berlaku kepada kita, seharusnya kan kita tetap memiliki sopan santun. Setidaknya itu yang aku ingat dari pengajaran ibuku padaku.


Akhirnya aku memutuskan akan menghubungi Nita besok pagi. Aku akan pastikan Nita membaca pesanku sebelum dia berangkat ke tempat kerja. Begitulah kira-kira rencananya.

__ADS_1


__ADS_2