
Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di depan sebuah bengkel modifikasi sepeda motor. Aku masuk kedalam dan disambut oleh seoarang anak SMK yang sedang PKL disana, kurasa.
“Ada yang bisa dibantu kak?” tanyanya ramah.
“Aku cari Deni,” jawabku.
Bukannya menjawab, anak SMK itu menatapku lekat. Dengan ragu dia bertanya, “maaf apakah kakak bernama Ameera?”
“I-iya,” jawabku ragu.
“Kalau begitu tunggu sebentar yah kak.” Anak SMK itu setengah berlari kebagian belakang bengkel.
Setelah beberapa menit menunggu, anak SMK itu kembali bersama dengan seseorang. Ya, aku sangat mengenali orang itu. Dia adalah Tedi, teman Deni yang ikut mengurus bengkel ini. Aku, Heru, dan Tedi duduk diatas kursi yang ditunjukkan oleh Tedi. Sedangkan anak SMK yang tadi kutemui kembali mengerjakan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena kedatanganku.
“Aku senang kamu akhirnya datang kesini Ra,” ucap Tedi.
“Hemm ... kamu apa kabar?” tanyaku basa-basi.
“Baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?”
“Aku juga baik.”
“Oh iya, ini siapa? Calon kamu yah? Atau jangan-jangan kalian sudah menikah yah?” tanyanya seraya menoleh kearah Heru.
“Inginnya sih begitu,” celetuk heru, “tapi sayangnya dia lebih memilih menjadi adikku, daripada menjadi istriku.” Gurauan Heru disambut tawa oleh Tedi.
“Oh iya Ted, dimana Deni?” Tedi nampak menghentikan tawanya begitu aku menanyakan keberadaan Deni.
“Kamu sungguh ingin tahu dimana Deni Ra? Untuk apa?”
“Aku ... aku hanya ingin minta maaf Ted, aku sudah bersalah padanya.”
“Sebelum itu aku ingin kamu tahu sesuatu Ra. Deni sangat mencintai kamu, ya ... walaupun dengan cara yang berbeda. Dia tidak bisa menunjukkan rasa cintanya dengan benar. Aku tahu itu karena kami bersahabat cukup lama. Diluar, Deni memang terlihat tidak serius, suka main-main, dan mungkin sedikit cuek. Tapi aku tahu didalam hatinya dia begitu banyak menanam cinta untukmu. Dia memang tidak suka mengekspresikan perasaannya, baik itu ketika dia sedang senang maupun sedih.
Hingga saat itu, aku benar-benar melihat perubahan sikap Deni. Ya, saat kamu memutuskan hubungan kalian. Deni mulai sering marah-marah. Banyak anak PKL yang kena marah, kebanyakan tanpa sebab yang jelas. Dan yang paling parah, dia mulai mabuk-mabukkan. Kamu tahu benar kalau kami tidak pernah mengkonsumsi yang seperti itu.
Hingga puncaknya ... dua hari yang lalu saat Deni menjalankan sepeda motornya dalam keadaan mabuk parah, dia mengalami kecelakaan. Deni mengalami tabrakan dengan sesama pengendara sepeda motor. Kabarnya korban yang satunya mengalami patah tulang. Aku belum sempat melihatnya, karena ketika tiba di rumah sakit, dia sudah dipindahkan keluarganya ke rumah sakit yang ada di kota kelahirannya.”
“Lalu bagaimana keadaan Deni?” tanyaku penasaran.
“Deni belum sadarkan diri.”
Aku sungguh terpukul mendengarnya. Tidak menyangka akibat perbuatan bodohku menyebabkan orang lain terluka. Sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan untuk meminta maaf pun rasanya aku tidak sanggup. Entah bagaimana caranya aku menunjukkan wajahku ini dihadapannya. Aku sungguh menyesal.
“Ka-kalau begitu sampaikan permintaan maafku padanya begitu dia sadar. Aku pamit.” Aku beranjak dari dudukku.
“Kamu tidak mau menyampaikannya sendiri Ra? Aku yakin, kedatanganmu kesana akan membuatnya lebih cepat sadar.” Aku berpaling dari tatapan Tedi, mencoba untuk berjalan menjauh darinya.
__ADS_1
“Rumah Sakit Insan Medika. Kalau sempat datanglah kesana, sebagai teman.” Aku sama sekali tidak mengindahkan ucapan Tedi. Bukan karena aku tidak peduli, aku hanya malu padanya. Bagaimana mungkin dia masih bisa bersikap ramah padaku. Pada orang yang telah membuat sahabatnya menderita.
Heru mengikuti langkahku dalam diam. Aneh sekali rasanya tanpa mendengar ocehan dan perkatannya yang selalu menyebalkan. Disaat seperti ini, ternyata diapun punya rasa empati.
Heru memberikan helm kepadaku, dan diapun memakai helmnya juga. Heru nampak menoleh kearah Tedi seraya tersenyum kearahnya sebelum kami benar-benar pergi meninggalkan bengkel tersebut.
“Sekarang kita kemana lagi Ra?” tanya Heru.
“A-aku tidak tahu kak,” jawabku, “menurut kakak, aku sudah seperti seorang penjahat yah? Aku banyak melukai orang-orang walaupun tanpa sengaja.”
“Kamu hanya salah mengambil keputusan Ra. Kamu menempatkan diri kamu sendiri dalam kesulitan.” Heru menepikan kendaraannya, kemudian menoleh kearahku.
“Maksud kakak apa?”
“Kamu memutuskan untuk terus hidup di masa lalu kamu, sehingga tidak mempedulikan orang-orang yang saat ini berada di samping kamu.”
“Itu sama sekali tidak benar.”
“Kamu tidak perlu memberi sanggahan kepadaku Ra. Karena aku tahu, sekuat apapun kamu menyanggahnya, jauh didalam lubuk hati kamu pasti membenarkan ucapanku.”
“Aku ....”
“Kamu tidak usah mengklarifikasi apa-apa padaku Ra, kamu tidak berhutang untuk itu. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah mulai menatap masa depan kamu, tinggalkan masa lalu. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padamu di masa lalu, tapi percayalah, masa depan kamu jauh lebih berarti dari pada itu semua.”
Aku hanya menjawab Heru dengan senyuman. Benar apa yang dikatakan Heru, aku harus mulai menatap masa depan.
“Makasih untuk apa?”
“Makasih sudah selalu ada untuk aku,” jawabku, “dan makasih atas pencerahannya.”
“Iya sama-sama.” Heru kembali menyalakan sepeda motornya, “jadi sekarang kita mau kemana?”
“Haruskah kita mengunjungi Deni di rumah sakit?”
“Keputusan yang bagus.”
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, aku mengirimkan pesan permintaan maaf kepada beberapa orang via akun media sosial. Kebanyakan mereka tidak menganggap serius, ada juga yang bertanya aku mau kemana. Bahkan ada yang bertanya apakah ini sudah idul fitri, karena biasanya nuansa idul fitri digunakan orang-orang untuk saling meminta maaf.
Tiba di parkiran rumah sakit, keraguan tiba-tiba menghampiri. Rasa takut akan penolakan, cacian, dan kata-kata kasar yang akan dilontarkan keluarga Deni membuat nyaliku menciut.
“Ayo masuk Ra, kita selesaikan apa yang harus kamu selesaikan.” Heru menggenggam tanganku, mengalirkan kekuatan disana.
Kami berjalan menuju ke ruangan tempat Deni dirawat setelah sebelumnya kami menanyakannya kepada petugas resepsionis.
Seorang ibu keluar dari ruangan tempat Deni dirawat tepat ketika aku akan mengetuk pintu. Ibu tersebut menatapku lekat. “Ameera yah?”
Aku terkejut karena ternyata si ibu mengenaliku. “Iya bu, maaf ibu siapa yah?” tanyaku.
__ADS_1
“Saya ibunya Deni.” Jawaban yang singkat, padat dan jelas. Tak ku temukan rasa marah dari ekspresi wajahnya. Yang ada hanya rasa sedih yang mendalam.
“Ayo kita duduk dulu disana.” Ibunya Deni menunjuk ke arah kursi yang ada di depan ruangan dimana Deni dirawat. Aku mengikuti langkahnya dan duduk disampingnya.
“Deni, walaupun masih suka main-main tapi tidak pernah menyakiti hati orang lain, terutama perempuan. Deni sangat menyayangi ibu, dan ketiga kakak perempuannya.
Deni adalah anak yang sangat diharapkan oleh ayahnya. Setelah kami mempunyai tiga orang anak perempuan, ayahnya Deni sangat berharap kami akan mempunyai anak laki-laki. Dan saat Deni lahir, keluarga kami sangat bahagia. Ayahnya sangat memanjakannya, sehingga sampai dewasapun sifatnya terkadang masih ke kanak-kanakan.
Tapi sekarang, melihatnya seperti ini, rasanya ibu tidak sanggup. Kalau bisa, ibu meminta agar ibu saja yang berbaring disana.” Ibunya Deni mulai terisak dan hal itu membuatku semakin merasa bersalah.
“Maafkan saya bu,” ucapku lirih.
Aku menundukkan kepala dalam. Tidak sanggup untuk melihat kesedihan yang terpancar dari wajah ibunya Deni. Semakin aku melihatnya, semakin aku merasa bersalah.
“Mungkin ini sudah takdirnya Deni,” ucap ibunya Deni.
“Kalau boleh, saya ingin menemui Deni bu.”
“Sebelumnya ibu ingin mengatakan sesuatu.” Ibunya Deni nampak menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. “Ibu izinkan kamu masuk kedalam, tapi setelah itu ibu mohon kamu tidak akan pernah lagi menemui Deni.”
“Ke-kenapa ibu berkata seperti itu?” tanyaku gusar.
“Ibu tidak mau Deni berhubungan lagi dengan kamu, baik itu sebagai teman, atau apapun.”
“Baik kalau itu menurut ibu yang terbaik bagi Deni.”
“Silakan kamu masuk, saya beri waktu lima menit untuk berbicara dengan Deni. Walaupun saat ini dia tidak bisa merespon, saya tahu dia mendengarkan. Segera selesaikan apa yang harus kamu selesaikan. Setelah itu segera pergi dari sini, dan jangan pernah kembali.”
Ragu ku melangkah menuju ruangan dimana Deni di rawat. Keadaan Deni begitu memprihatinkan. Tidak terlihat lagi sosok cerianya. Saat ini bahkan aku merindukan celotehnya.
Detik berganti menit, aku hanya terpaku menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. Hening. Terlintas kenangan-kenangan kami saat bersama.
Aku memberanikan diri melangkah lebih dekat kepadanya, kemudian berhenti tepat disisi kanannya. Kuraih tangannya yang dingin. “Maaf.” Hanya itu yang bisa ku katakan padanya.
***
__ADS_1