CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 24


__ADS_3

“Kamu benar Ra, ternyata kita berbeda,” ucap Heru.


“Ta-tapi bagaimana bisa?” aku menjatuhkan benda tersebut diatas pangkuanku.


“Kamu tahu Ra, ini seperti sebuah dejavu bagiku,” Heru nampak sedang menerawang, “aku juga terlahir dari sebuah kesalahan Ra.”


Aku menatapnya lekat, menunggu kalimat selanjutnya yang akan disampaikan oleh Heru.


“Ayah dan ibuku juga berbeda keyakinan Ra. Tetapi mereka tetap menikah, karena ada aku di rahim ibu. Aku baru mengetahui kisah cinta mereka jauh setelah aku dewasa. Bahkan aku tidak tahu wajah ayahku seperti apa. Ibu sama sekali tidak mempunyai kenangan tentangnya. Ibu bilang, saat ayah dan ibu memutuskan untuk menikah, keluarga besar dari kedua belah pihak menolaknya. Ayahku memutuskan hubungan dengan keluarganya, begitu pula dengan ibuku.”


“Bagaimana bisa kakak tidak mengenal ayah kakak? Bukannya kakak bilang ayah kakak baru meninggal beberapa tahun yang lalu?” tanyaku penasaran.


Heru menyunggingkan seulas senyuman kearahku, “ayah yang aku ceritakan itu ayah kandung Andini Ra, bukan ayah kandungku. Tapi aku sudah menganggapnya seperti ayahku sendiri. Beliau adalah satu-satunya sosok ayah yang aku kenal.”


“Lalu apa yang terjadi dengan ayah kandung kakak?”


“Ibu bilang setelah beberapa bulan aku lahir mereka memutuskan untuk berpisah. Ayah pulang kepada keluarganya lagi, begitupun dengan ibu. Lalu orang tua ibu, yaitu mendiang nenek dan kakekku menjodohkan ibu dengan anak dari temannya, dan kemudian lahirlah Andini.”


Cerita Heru membuatku menjadi iba padanya. Aku tidak menyangka dibalik sifatnya yang menyebalkan ternyata Heru mempunyai sisi menyedihkan dalam cerita hidupnya.


“Apa ayah kakak tidak ada niatan untuk mencari kakak? Walau bagaimanapun kakak kan anaknya.”


“Entahlah Ra, mungkin itu semacam perjanjian tidak tertulis antara ayah dan ibuku. Ibuku juga tidak menceritakan bagaimana detailnya, bagaimana mereka bertemu lalu jatuh cinta, dan akhirnya berpisah. Ibu hanya menceritakan garis besarnya saja. Hanya agar aku tahu asal-usulku.”


“Kenapa ibu menceritakan hal itu? Bukannya lebih baik menjaganya agar tetap menjadi rahasia?”


“Ibu bilang, jangan sampai apa yang terjadi pada ibu dan ayah, terjadi pula padaku.”


Dari kalimat terakhir Heru aku bisa menyimpulkan bahwa disinilah kami saat ini. Kami berada di posisi seperti orang tuanya dahulu. Bedanya dulu ibu Heru sedang mengandung Heru, sedangkan aku? Semoga tidak.


“Tetapi, ibu pasti sungguh kecewa karena justru aku melakukan kesalahan yang sama. Kamu tahu Ra, bagaimana rasanya mencintai seseorang tetapi tidak bisa memilikinya? Mungkin itu yang ayahku rasakan dulu.”


Aku hanya diam mendengarkan curahan hati Heru. Inginku mengatakan bahwa akupun sekarang sedang merasakan hal itu. Cintaku telah menikahi perempuan lain. Beda cerita, sama rasa. Begitulah kira-kira perasaan kami saat ini. Kami berdua bersedih, dengan sebab yang berbeda.


“Boleh aku tanya sesuatu Ra?” Heru nampak lebih bisa mengontrol dirinya.


“Tanya apa?”

__ADS_1


“Siapa Habibie?” Aku tersentak mendengar pertanyaan Heru. Bagaimana bisa Heru tahu tentang Habibie? Aku bahkan tidak pernah menceritakannya kepada siapapun.


“Kenapa kakak tiba-tiba bertanya tentangnya?”


“Semalam ketika kita bercinta, kamu terus menerus menyebut namanya. Aku rasa dia orang yang spesial.”


Tiba-tiba aku merasa pipiku memanas, “memang harus banget yah menceritakan kejadian semalam dengan diperjelas seperti itu?”


“Pipimu merah tuh Ra, malu yah? Atau mau lagi? Kalau kamu mau, kita bisa mengulanginya sekali lagi.” Aku melotot tajam kearahnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.


“Semalam sepertinya kamu sangat bergairah Ra,” senyum usil nampak tersungging di bibir Heru, “tapi aku sungguh kecewa ternyata kamu malah menyebut nama pria lain saat sedang bersamaku.” Heru nampak menundukkan kepalanya, pura-pura sedih.


“Aku mau ke kamar. Aku menyesal sudah iba sama kakak ternyata kakak begitu menyebalkan.” Aku berdiri hendak masuk kedalam kamar, namun dengan sigap Heru segera meraih pergelangan tanganku.


“Hei ... tunggu sebentar, ternyata kamu begitu tidak sabaran yah.” Senyum usil kembali tersungging dari bibirnya.


“Lepasin kak, aku mau tidur, jangan berpikiran macam-macam deh,” seruku kesal.


“Kamu gak bosan seharian ini dikamar terus? Atau kamu mau mengenang kembali apa yang sudah kita lakukan semalam?” godanya.


“Kalau begitu ayo kita lakukan lagi, kali ini aku pastikan kamu ingat semuanya. Aku ingin sekali mendengar desahan kamu lagi Ra, itu sangat seksi.”


Aku menghempaskan tangan Heru dengan kasar. Kali ini Heru sungguh benar-benar keterlaluan. Bagaimana dia bisa menceritakan hal seperti itu tanpa beban sedikitpun? Aku masuk kedalam kamar dan segera menghempaskan diri diatas tempat tidur.


Heru menyusulku, dan menyibakkan tirai yang menjadi pembatas antara kamar dan ruang tamu. Dia menatapku masih dengan senyum usilnya.


“Kamu sudah bersiap di posisi Ra?” Aku melemparnya dengan bantal, tepat di wajah tampannya. Dan dia tertawa terbahak-bahak.


Perlahan suara tawanya menjauh. Lalu kudengar Heru membuka pintu rumah, dan menutupnya kembali. Apakah dia pergi? Sekelebat rasa takut menghantuiku. Apalagi aku sudah tidak mendengar suaranya lagi. Apa dia benar-benar pergi meninggalkanku?


Sirna sudah rasa kesalku padanya. Aku beranjak bangun dan berlari keluar kamar. Aku bermaksud akan mangejarnya, berharap dia belum pergi jauh. Bersama dengan pria menyebalkan itu jauh lebih baik ketimbang sendirian di tempat asing ini, pikirku.


Tetapi aku sungguh terkejut, begitu aku membuka tirai ternyata Heru tengah berdiri disana. Dia menertawakan semua yang aku lakukan. Dia tertawa terbahak-bahak sampai kulihat wajahnya memerah.


“Ternyata kamu benar-benar takut kehilangan aku yah Ra, ha ... ha ... ha ....” Heru nampak terhibur atas apa yang dia lakukan kepadaku.


“A-aku mau ke toilet.” Aku segera berbalik menuju ke bagian belakang rumah, dimana toilet berada.

__ADS_1


Samar-samar masih bisa ku dengar suara tawa Heru, sungguh menyebalkan. Berkali-kali aku merutuki kebodohan sendiri.


Sekembalinya dari toilet, aku melihat Heru tengah duduk di atas sofa ruang tamu. Di depannya ada dua boks makanan. Heru segera menyuruhku untuk duduk disebelahnya begitu mendapati aku disana.


“Makan dulu Ra, aku bawain kamu ayam bakar madu.” Heru menyerahkan satu boks makanan kedepanku.


“Kakak benar-benar menyebalkan!” seruku seraya meraih boks makanan dihadapanku.


“Tapi ngangenin kan?” ejeknya.


“Idih, kegeeran.”


“Udah ngaku aja sih Ra, kamu sudah jatuh cinta kan sama aku?”


“Kakak bisa gak sih gak usah becanda saat ini? Kakak sadar gak, kita tuh lagi berada dalam masalah. Ini menyangkut masa depanku, masa depan kakak juga. Tapi sepertinya kakak tidak merasa terbebani sedikitpun.”


Heru menggelengkan kepalanya seraya membuka bungkus makanannya, “masalah itu akan terasa berat kalau kita terus menanggungnya Ra, lepaskanlah sejenak. Biarkan fikiran kita fresh agar kita bisa mencari solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi.”


Aku tersenyum mendengar jawaban yang dirasa bijak dari Heru. Aku menatap wajah Heru lekat. Matanya, hidungnya, bibirnya, dan keseluruhan wajah tampannya. Kalau bukan karena perbedaan keyakinan, pasti aku akan membiarkan hatiku untuk jatuh cinta padanya.


“Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta sama aku loh,” ucap Heru tanpa mengalihkan pandangan dari makanan didepannya.


Aku segera memalingkan pandanganku darinya. Merasa malu sendiri karena tertangkap basah sedang menikmati wajah tampannya. Menit berikutnya suasana hening, sampai kami menghabiskan makanan kami masing-masing.


 


 


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2