
Satu bulan sudah berlalu semenjak Aku dan Umar resmi menjadi sepasang kekasih. Selama itu pula tak terhitung sudah berapa kali Umar mengajakku untuk segera menikah. Dia bahkan sudah menyiapkan rumah untuk tempat tinggal kami nanti setelah menikah. Sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota.
“Kamu keukeuh banget pengen kita cepet nikah, kenapa sih?” tanyaku pada Umar ketika kami sedang menikmati makan malam bersama di sebuah rumah makan masakan sunda. Entah ini kencan kali ke berapa akupun tidak menghitungnya.
“Tahun ini adik aku yang perempuan lulus SMA Bu, dia sudah ada yang lamar dari semenjak masih kelas sepuluh, mamah aku pengennya aku dulu yang nikah” paparnya.
“Kalo adik kamu udah siap nikah biarin aja dia nikah duluan, kenapa kesannya jadi aku yang dikejar-kejartarget?” cecarku mulai kesal.
“Kok kamu ngomongnya gitu sih Bu? Kamu gak mau nikah sama aku?” tanyanya sedikit kecewa.
“Gini yah Umar, aku tekankan biar semuanya jelas, aku gak siap kalo harus nikah dalam waktu dekat, dan kalaupun orang tua kamu menuntut kamu untuk segera menikah kamu sebaiknya cari wanita lain” aku beranjak dari tempat dudukku dan menyambar tas diatas meja untuk kemudian aku kenakan. Aku pergi dari rumah makan itu tanpa menghabiskan makan malamku yang bahkan belum setengahnya aku sentuh. Rasa kesal memenuhi seluruh rongga dadaku. Aku tidak suka dipaksa, ditekan, dan dicecar seperti itu. Aku terus melangkah menjauh tanpa mempedulikan Umar yang terus menerus memanggil namaku.
Umar nampak segera beranjak dan membayar pesanan kami. Dia terus mengikutiku sambil mencoba meraih tanganku yang kemudian aku tepis, “bu, dengerin aku dulu” pintanya.
Aku berhenti sejenak untuk kemudian mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek online.
__ADS_1
“Bu, please dengerin aku dulu” pintanya lagi. Aku melirik kearahnya perlahan. Ada sebersit rasa tidak enak kurasakan. Aku merasa sudah memberi respon yang berlebihan. Bagaimanapun Umar tidak salah, tidak seharusnya aku marah padanya.
“Maaf kalau permintaan aku bikin kamu gak nyaman Bu, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sangat sayang sama kamu. Aku hanya ingin kamu menjadi milikku selamanya” ucapan Umar membuatku sedikit terenyuh. Begitu besar cinta Umar untukku, tapi aku bahkan belum sepenuhnya memberikan hatiku untuknya. Aku menatapnya selama beberapa detik. Kulihat ada keseriusan dimatanya.
“Jangan membuatku merasa menjadi orang jahat begini Umar, kamu gak salah kok, kamumemang sudah sepantasnya berharap seperti yang kamu ungkapkan tadi,” aku membalikkan badan menghadap kearahnya dengan sempurna, “disini aku lah yang salah, ketidak siapanku menghadapi pernikahan membuatku bersikap seperti sekarang, maaf”
Sebuah motorberhenti tepat dihadapan kami ketika Umar akan melanjutkan pembicaraan kami. Seseorang dengan jaket berlogo sebuah perusahaan ojek online membuka kaca helmnya dan tersenyum kearahku. Aku naik keatas motor sang driver setelah sebelumnya memastikan kebenaran pesanan yang ada di aplikasinya.
Umar tidak begitu saja menyerah melepas kepergianku. Dia segera berbalik ke parkiran motor untuk mengambil sepeda motornya yang terparkir disana setelah sebelumnya menerima penolakan dariku yang ingin mengantarkanku pulang.
Karena driver ojol mengendarai motor dengan kecepatan sedang, kami tersusul oleh Umar. Umar terus mengikutiku dari belakang sampai aku tiba di kostan. Aku segera turun dan memberikan helm serta sejumlah uang sesuai dengan yang tertera di aplikasi kepada driver ojol tersebut. Umar nampak masih mematung diatas motornya yang masih menyala. Dia nampak memperhatikanku dari kejauhan. Aku hanya menoleh sekilas lalu masuk kedalam kamar kostku.
“Kamu kenapa Ra? Pulang kencan kok muka ditekuk gitu?” tanya Nita setelah kami berdua duduk bersebelahan diatas tempat tidur yang hanya mendapat jawaban berupa hembusan nafas berat dariku. Selama beberapa detik hanya keheningan yang terjadi diantara kami.
“Aku lagi bingung Nit, Umar keukeuh ngajakin aku nikah dalam waktu dekat. Dia bilangadiknya yang sebentar lagi mau lulus SMA sudah mau menikah, dan mamahnya pengen sebelum adiknya menikah, Umar menikah terlebih dahulu” paparku
__ADS_1
“Trus masalahnya apa?” tanya Nita heran
“Aku belum siap” jawabku singkat
Nita mengahadap sempurna kearahku, kemudian menggenggam kedua tanganku, “kamu harusnya bahagia Ra, kamu sudah menemukan seseorang yang serius sama kamu. Kamu sungguh beruntung ada pria yang sangat mencintai kamu seperti Umar mencintai kamu.Sekarang apa yang bikin kamu ragu?” tanyanya kemudian
Aku jadi bimbang sendiri mendengar pertanyaan Nita. Benar, sebenarnya apa yang membuatku ragu? Aku sendiri pun tidak tahu jawabannya. Aku melepas genggaman tangan Nita dan segera merebahkan diri diatas tempat tidur. Ku tatap langit-langit kamar, tiba-tiba muncul bayangan sesosok wajah tampan tersenyum kearahku dan kemudian segera ku tepis.
Aku beranjak bangun setelah mengingat sesuatu yang sangat ingin aku tanyakan pada Nita selama beberapa hari terakhir ini, “Oiya Nit, gimana hubungan kamu sama Agung?” tanyaku pada akhirnya
Nita kemudian menunduk setelah mendengar pertanyaanku. Seulas senyum yang dipaksakan nampak dari raut wajahnya, “aku minder Ra, semakin kami saling mengenal, semakin nampak perbedaan diantara kami.”
“Nit, dalam menjalin suatu hubungan itu bukan kita mencari persamaan dengan pasangan kita, tapi lebih kepada bagaimana kita mempersatukan perbedaan itu. Kalau kamu merasa tidak pantas untuk Agung, kamu tidak harus minder, sebaliknya kamu justru harus memantaskan diri untuk Agung.”
Nita nampak belum memahami arah pembicaraanku, “maksud kamu gimana Mir?” tanyanya
__ADS_1
“Maksud aku kalo kamu merasa tidak pantas karena pendidikan Agung, sebaiknya kamu mulai berfikiruntuk melanjutkan pendidikan kamu Nit, bukannya itu juga yang diinginkan kedua orang tua kamu?” Nita nampak sudah mulai memahami arah pembicaraanku. Dia nampak berfikir sambil sesekali menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Nita meraihku dalam pelukannya, “kamu bener Ra, makasih yah pencerahannya” ucapnya kemudian seraya melepaskan pelukannya.