CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 16


__ADS_3

Aku memilih duduk di tepi jendela. Perjalanan kami akan memakan waktu setidaknya dua belas jam, dan itu akan membuat aku sangat bosan. Tapi tidak, kekasihku ada disampingku, aku pasti akan menikmati perjalanan kali ini.


Aku mengerjapkan mata ketika menyadari aku ternyata telah tertidur. Padahal seingatku tadi kami sedang mengobrol, ya, aku dan Habibie. Dan aku semakin kaget ternyata yang menjadi bantalan aku tertidur ternyata pundak Habibie. Ragu kumenoleh ke arahnya. Dan betapa leganya aku setelah melihat ternyata diapun tengah terlelap.


Segera aku membenarkan posisi dudukku. Berharap dia tidak menyadari bahwa aku sudah menistakan pundaknya. Kalau tidak, mungkin dia akan ilfeel terhadapku.


Lapar mendera. Aku membeli makanan kepada pedagang asongan yang ikut naik ke kereta api. Dua bungkus nasi rames ku terima, dan Habibie membayarnya.


“Nanti disana kamu dijemput siapa Ra?” tanya Habibie ditengah makan kami.


“Kakak kedua aku A,” jawabku, “Aa mau nginap dimana?” tanyaku kemudian.


“Aa mau kerumah paman. Oiya, boleh Aa dateng ke pernikakan kakak kamu?” tanyanya.


Aku menimbang sejenak. Bagaimana mungkin Habibie tiba-tiba muncul dipernikahan kakakku sedangkan kami tidak mengundang satupun tetangga kami di desa. Bukankah hal itu akan menjadi pertanyaan keluargaku nantinya.


Melihat keraguanku, Habibie akhirnya menyimpulkan, “hemmm ... tidak boleh yah?”


“Bukan begitu A, aku hanya nanti bingung bila tiba-tiba keluargaku melihat Aa disana, padahal kami tidak mengundang siapapun di desa kami.” Aku memutuskan untuk jujur saja padanya.


Habibie nampak menyesal, “maaf yah Ra, Aa membuat kamu jadi tidak nyaman.”


Aku bisa memahami arah dari pembicaraan Habibie. Bagaimana akhir dari hubungan kami kedepannya, masih menjadi sebuah misteri. Walaupun dalam hati kecilku menginginkan kami bisa bersama selamanya.


“Nanti setelah kamu lulus SMA, Aa akan meminta abi melamar kamu buat Aa. Kamu mau kan Ra?” tanyanya.

__ADS_1


Aku terkejut mendengar penuturan Habibie. Tanpa sadar aku tersenyum dan segera mengalihkan pandanganku keluar jendela. Membayangkan Habibie dan keluarganya melamarku, kemudian kami terikat dalam suatu hubungan pernikahan membuat hatiku terasa hangat. Ya, tinggal beberapa bulan lagi.


Hari sudah larut ketika kami sampai di stasiun. Kami turun dari kereta bersama-sama. Kuedarkan pandangan mencari keberadaaan kakakku. Dan begitu melihatnya, aku memberitahukannya kepada Habibie.


Akhirnya kami berpisah di stasiun. Habibie masih berada di stasiun ketika aku pergi bersama kakakku. Habibie mengatakan dia akan naik KRD yang menuju ke kota dimana pamannya tinggal besok pagi. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu jam perjalanan dari sini.


Sekali lagi aku menoleh kearah Habibie yang masih berdiri ditempat yang sama, tengah tersenyum kearahku. Hati ini berdesir. Entah mengapa perpisahan ini terasa berat. Ingin ku berbalik dan berlari kearahnya dan memeluknya dengan erat. Lalu ku genggam tangannya dan mengumumkan pada dunia bahwa dia milikku, Habibie adalah milikku.


Tapi akal sehatku segera menepis ide bodoh itu. Hal itu hanya akan mencoreng nama baik Habibie dan keluarganya saja. Satu hal yang harus aku lakukan adalah bersabar. Tinggal beberapa bulan lagi kami akan bersama.


Dua minggu berlalu. Aku pulang ke desaku bersama keluargaku. Beberapa hari lagi sekolah masuk. Aku harus mempersiapkan diri di semester terakhir. Bulan-bulan terakhir yang akan menjadi bulan-bulan sibuk, karena selain belajar sesuai jadwal biasanya, akan ada pemadatan dan tryout.


Beberapa minggu berlalu dari semenjak aku mulai masuk sekolah, aku tidak pernah bertemu dengan Habibie. Rasa rindu melanda. Inginku pergi ke rumahnya dan mencarinya, serta menanyakan kabarnya, tapi itu sungguh tidak mungkin.


Karena rindu yang sudah membuncah, aku memutuskan akan berjalan-jalan sekitaran pesantren. Mana tahu aku beruntung bisa melihatnya walaupun dari jauh. Aku mulai berjalan menuju pesantren dan berhenti di sebuah warung yang menjual aneka jajanan disekitar pesantren. Aku pura-pura membeli minuman sambil sesekali mencuri pandang kearah gerbang pesantren.


“Bi, beli pembalut.” ucap gadis tersebut.


“Eh neng Revi, baru kelihatan lagi. Tumben sendirian aja neng, teman-temannya pada kemana?” tanya pemilik warung yang rupanya terlihat sudah akrab dengan gadis yang tengah berdiri disampingku tersebut.


“Sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing bi. Mereka kan hanya santri dadakan bi, dateng ke pesantren cuma buat ketemu anaknya pak kyai. Berhubung yang ditujunya udah gak ada, ya mereka balik lagi kerumahnya masing-masing.” Jawabnya.


Deg ...


‘Anak pak kyai? Habibie kah maksudnya?’ Aku bimbang, ingin ku bertanya pada gadis disampingku ini perihal pernyataannya yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Habibie ku telah pergi. Tapi kemana? Tiba-tiba perasaan tidak enak merasuk dalam pikiran. Jangan-jangan ....

__ADS_1


“Ini uangnya bi, makasih yah.” ucap si gadis kepada pemilik warung seraya menyerahkan uang untuk pembayaran belanjaannya.


Gadis tersebut bergegas meninggalkan warung untuk kembali menuju masuk ke dalam pesantren.


Sepeninggalnya gadis tersebut, pemilik warung nampak bersungut-sungut, “anak-anak jaman sekarang itu gak bisa serius mencari ilmu agama, Cuma main-main. Pikirannya cowooo aja. Dateng ke pesantren bukannya untuk menimba ilmu, malah ngeceng anak pak kyai.”


Karena sudah sangat penasaran akupun akhirnya bertanya, “memangnya anak pak kyai kemana bi?”


Pemilik warung nampak menghentikan aktifitasnya dan menoleh kearahku. Aku yang ditatap menjadi salah tingkah.


“Sudah tidak tinggal disini lagi.” Jawabnya singkat.


“Kenapa?” aku mulai tak bisa mengontrol emosiku.


Pemilik warung nampak menoleh ke kiri dan ke kanan lalu mencondongkan tubuhnya lebih mendekat kearahku, “beberapa minggu yang lalu jemaah pengajian Umi (panggilan untuk ibunya Habibie) yang jualan gorengan di stasiun melihat ustadz bersama dengan seorang gadis naik kereta yang menuju ke luar kota. Mungkin mereka mau kawin lari kali. Lalu dia melaporkannya kepada Umi. Dia bilang pak ustadz kelihatan mesra sama gadis itu. Mereka bahkan berpegangan tangan tanpa tahu malu, duduk berdampingan di stasiun sambil berpelukan. Dan yang lebih memalukannya lagi gadis tersebut berpakaian sangat seksi. Sangat tidak pantas berdampingan dengan pak ustadz. Lalu mendengar kabar tersebut Umi sangat marah sama pak ustadz, dan kemudian mengirimnya jauh dari rumah.”


Aku sangat terkejut mendengar penjelasan pemilik warung. Apakah gadis yang dimaksud adalah aku? Tapi saat itu aku sama sekali tidak berpakaian seksi. Walaupun tidak mengenakan jilbab, aku berpakaian cukup sopan dengan celana jeans dan kaos yang dipadukan dengan jaket. Dan apa itu tadi? Berpegangan tangan dan berpelukan? Selama kami bersama, Habibie sama sekali tidak pernah menyentuhku. Apalagi melakukan hal-hal yang disebutkan pemilik warung tersebut.


Cukup dengan keterkejutanku, ada satu hal penting yang harus aku pastikan dulu, “kalau boleh tahu, kemana pak ustadz pergi bi?”


“Bibi kurang yakin, ada yang bilang ke luar kota, ada yang bilang ke luar negeri. Entahlah, namanya juga kabar burung.” Jawabnya.


Aku melangkahkan kaki meninggalkan warung tersebut. Entah aku harus bagaimana sekarang. Hatiku hampa, separuh jiwaku telah pergi. Aku merasa sudah tidak mempunyai harapan lagi. Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?.


Hari-hari berikutnya aku lewati dengan hampa. Tidak ada semangat seperti dulu lagi. Bagaimanapun aku harus memastikan kelanjutan hubunganku dengan Habibie. Tapi aku harus mencarinya kemana?. Aku bahkan tidak bisa konsentrasi dalam belajar, padahal ujian nasional hanya beberapa minggu lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2