CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 37


__ADS_3

POV Author


“Bu Alifa menderita kanker hati stadium D. Melihat cepatnya penyebaran, kemungkinan bu Alifa untuk bertahan hingga satu tahun sangat kecil. Kecuali—“


“Kecuali apa dokter?”


“Kecuali jika bu Alifa mendapatkan pendonor.”


Percakapan antara Alifa dan Dokter Ferdi masih terus terngiang. Bahkan Alifa tidak mendengarkan suara Habibie yang sejak tadi memanggil-manggil namanya disampingnya.


“Alifa ... Alifa ... kamu baik-baik saja?” tanya Habibie.


“Eh iya, kenapa A? Maaf aku masih kepikiran soal pembicaraan kita bersama dokter Ferdi tadi.”


“Aku akan berusaha untuk mencari pendonor buat kamu.”


Alifa hanya tersenyum mendengar ucapan Habibie. Bagi Alifa, keadaan saat ini jauh lebih baik daripada beberapa bulan terakhir pernikahan mereka. Habibie yang saat ini duduk disampingnya adalah sosok pria yang sangat dirindukan Alifa. Baginya, keadaannya saat ini adalah sebuah berkah.


“Boleh aku tanya sesuatu A?” tanya Alifa.


“Tanya apa?”


“Apa sekarang Aa masih mencintai Ameera?”


“Jangan menanyakan sesuatu yang hanya akan menyakiti hatimu. Dan kamu pasti sudah tahu jawabannya.”


“Jadi masih yah.” Alifa sungguh kecewa dengan jawaban Habibie. “Hemm ... boleh gak kalau kita tinggal sementara di rumah Umi? Aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan Umi sebelum aku meninggal A.”


“Sudah aku bilang, jangan mendahului ketetapan Allah.”


“Iya aku tahu, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama orang-orang yang aku sayang. Aa sayang kan sama aku?”


“Seorang istri adalah amanah yang harus dijaga dan disayangi.” Bagi Alifa jawaban ambigu Habibie artinya tidak.


Kedatangan Alifa dan Habibie disambut antusias oleh Umi Salmah. Bagaimana tidak, semenjak kepergian Alifa dan Habibie yang katanya akan menemui dokter spesialis penyakit dalam Umi Salmah sungguh terlihat sangat risau. Berkali-kali Umi Salmah berdiri melongok ke arah jendela dan akhirnya duduk kembali di sofa.


“Bagaimana? Apa kata dokter?” Umi Salmah memberondong putri dan menantunya tersebut begitu mereka sampai ke rumah.

__ADS_1


“Sabar Umi, kita ngobrol sambil duduk,” ajak Alifa.


Alifa pun menyampaikan apa yang dijelaskan dokter Ferdi kepadanya sesaat yang lalu di rumah sakit.


“Dimana kita bisa menemukan pendonor untuk Alifa?” Umi bertanya kepada putri dan menantunya yang tengah duduk berseberangan dengannya di sofa ruang tamu rumahnya.


Percakapan mereka bertiga tanpa sengaja terdengar oleh Ameera yang sedang melintas dari kamarnya menuju ke dapur. Dia berhenti sejenak untuk mencerna kembali apa yang baru saja didengarnya. ‘Astaghfirullohaladzim, Alifa menderita kanker hati? Umi Salmah dan Habibie pasti sangat terluka mendengar berita ini.’


***


“Assalamualaikum Ameera, boleh Aa duduk disitu?” Ameera yang sore itu tengah duduk di kursi teras belakang menoleh kearah sumber suara.


“Silakan A,” ucap Ameera.


Habibie mendudukkan tubuhnya diatas kursi yang bersebelahan dengan tempat Ameera duduk.


“Aku sudah tahu mengenai kak Alifa. Aa yang sabar yah. Aku doakan semoga kak Alifa segera sembuh.”


“Terima kasih Ameera,” jawab Habibie. “Ra, apa kamu tahu kalau Alifa sudah mengetahui tentang kita?”


“Kamu salah Ra, Alifa sangat cemburu sama kamu.”


“Cemburu? Itu tidak mungkin A. Selama ini kak Alifa baik kok sama aku. Lagipula kenapa kak Alifa cemburu sama aku? Kak Alifa bahkan tahu kalau aku sedang mengandung anak dari pria lain. Itu kan sudah cukup untuk memastikan aku tidak akan mengambil apa yang sudah menjadi miliknya.”


“Karena dia melihat foto kita di dompet Aa.”


“Foto? Foto apa?”


“Maaf waktu itu Aa mengambil foto kamu secara diam-diam.”


“Aa itu bener-bener yah, untuk apa Aa menyimpan foto aku di dompet Aa. Aa sadar gak kalau istri Aa melihat bisa membuatnya sakit hati. Istri mana yang tidak marah melihat suaminya menyimpan foto perempuan lain di dompetnya.”


“Alifa. Istri itu adalah Alifa Ra. Setelah dia tahu bahwa aku masih mencintai kamupun dia masih bersikap biasa saja Ra. Dia tidak marah sama sekali. Mungkin dia kecewa, tapi dia tetap melayani kebutuhanku dan menghormatiku sebagai suaminya.” Mata Habibie mulai memerah.


Ameera mulai mengerti arah pembicaraan Habibie. Nampak kesedihan menggelayut di wajah tampannya. “Itu pasti karena kak Alifa sangat mencintai Aa.”


Habibie nampak menundukkan pandangannya dalam, “Dia perempuan hebat. Walaupun tanpa sengaja aku telah menyakiti hatinya, tapi dia tetap berusaha menjadi istri yang baik untukku. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai Alifa ....” Habibie sudah tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. “Aku akan berusaha untuk mendapatkan pendonor untuknya Ra. Aku harap itu bisa membuatnya memaafkan semua kesalahanku padanya.”

__ADS_1


Usai berkata seperti itu Habibie beranjak bangun dan pergi meninggalkan Ameera sendiri di teras balakang rumah Umi Salmah. Perasaan bahagia yang sempat menyelusup di hati Ameera kala mengetahui bahwa laki-laki yang sangat ia cintai itu ternyata juga masih mencintainya. Tapi perasaan bahagia itu segera ia hempaskan menyadari rasa bersalahnya pada Alifa.


Ameera segera bangun dari duduknya, bermaksud untuk segera menemui Alifa di kamarnya. Walaupun perasaan Habibie terhadapnya bukan kesalahannya, tapi Ameera ingin meminta maaf pada Alifa dan akan menjelaskan semuanya.


Baru saja akan melangkah, Ameera dikejutkan dengan kedatangan Alifa. Alifa nampak berdiri didekat pintu seraya menatap tajam ke arah Ameera.


“Kak Alifa, untung kakak disini. Saya baru saja akan menemui kakak.”


“Yakin kamu mau menemui saya? Bukan menemui Habibie?”


“Tentu saja saya akan menemui kakak. Ada yang mau saya bicarakan dengan kakak.”


“Jangan panggil saya kakak!” Ameera sangat terkejut karena Alifa berteriak di hadapannya. “Saya bukan kakak kamu! Kamu bisa memanggil Umi saya dengan panggilan Umi, bisa menganggapnya sebagai ibu kamu. Tapi jangan pernah menganggap suami saya sebagai suami kamu!”


“Ma-maksudnya apa? Saya tidak pernah—“


“Kamu pikir saya buta? Saya melihat apa yang kalian lakukan disini. Kamu dan suami saya!” Alifa menegaskan kata ‘Suami’ untuk meyakinkan Ameera bahwa Habibie adalah miliknya.


“Kakak salah paham. Kami—“


“Sudah saya bilang jangan panggil saya kakak! Kamu pasti senang kan mendengar saya sebentar lagi akan meninggal. Kamu pasti sudah merencanakan masa depan kamu dengan Habibie. Katakan, benar seperti itu?! Umi pasti sangat kecewa kalau tahu bahwa perempuan yang dia pungut dari jalanan ini adalah seekor ular yang siap untuk mematuk tuannya kapan saja.”


“Cukup! Kenapa kakak berbicara seperti itu? Kakak tidak berhak untuk menghina saya seperti itu?”


“Menghina kamu bilang? Kamu sudah cukup hina tanpa aku harus menghina kamu lagi. Aku sudah tahu semuanya! Aku sudah tahu kalau kamu hamil di luar nikah dan sekarang kamu pasti mendekati Habibie lagi supaya anak kamu bisa mendapatkan sosok ayah kan?!”


Ameera terduduk lemas di lantai. Dia tidak menyangka akan mendapatkan penghinaan dari seorang perempuan yang dia anggap baik hati dan lemah lembut. Ternyata buah bisa saja jatuh jauh dari pohonnya. Sifat Alifa sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia adalah putri dari Umi Salmah. Cintanya terhadap Habibie menghilangkan akal sehatnya. Alifa sudah benar-benar diluar kendali.


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2