
“Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday happy birthday happy birthday Ameera”
Aku mengerjapkan mata, terbangun dari tidur lelapku. Kulihat Nita berjalan menuju ke tempat tidurku sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin diatasnya berbentuk angka 2 dan 0. Dia kembali menyanyikan lagu happy birthday begitu melihatku sudah bangun dengan sempurna. Kami sekarang duduk saling berhadapan dengan kue ulang tahun diantara kami berdua yang masih dipegang oleh Nita.
“Happy birthday yah Ra,” katanya, “semoga panjang umur, sehat selalu, dan segala yang kamu cita-citakan segera terlaksana” lanjutnya dan kemudian segera ku aminkan.
Waktu menunjukkan pukul 00.02. Seperti tahun sebelumnya, Nita memberikanku kejutan dihari ulang tahunku, “makasih yah Nit, kamu memang sahabat terbaikku” ucapan terimakasihku untuk Nita disertai dengan pelukan tulus.
Malam ini kami menikmati kue ulang tahun yang dibawa Nita dengan dilingkupi perasaan haru. Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dan bersahabat dengan Nita. Nita gadis yang baik. Bahkan ketika aku sakit, Nita yang sibuk mengurusku, menyiapkan makanan untukku, dan membuatkanku teh manis.
Ketika aku berbincang ria dengan Nita, tiba-tiba sebuah notifikasi masuk kedalam ponselku. Ada pesan masuk
disana. Sebuah pesan ucapan selamat ulang tahun dari Umar. Aku menyimpan kembali ponselku tanpa membalas pesan dari Umar, ‘biar besok aja aku balesnya,’ pikirku.
Nita menatap curiga melihatku yang hanya membaca pesan masuk tanpa membalasnya, “siapa Ra?” tanyanya.
“Umar” jawabku
“Kok gak dibales?” tanyanya lagi
“Kalo aku bales dia bakal tau aku bangun, trus pasti nanti dia nelpon aku. Aku kan mau ngabisin waktu ngobrol sama kamu aja sekarang.” Penjelasanku membuat Nita menganggukkan kepalanya berkali-kali dan diakhiri dengan senyuman.
“Oh iya Ra, hari ini aku mau pulang kerumah orang tua aku, mumpung libur. Kamu gak papa aku tinggal?” Kulihat ada perasaan tidak enak di raut wajahnya.
“Gapapa kok, justru enak kalo gak ada kamu gak ada yang gangguin aku rebahan Nit” Nita nampak sebal mendengar jawabanku, walaupun dia tahu aku hanya bercanda.
“By the way, kapan kamu mau ajak Umar ketemu orang tua kamu? Ini udah hampir dua minggu loh dari semenjak Umar ngelamar kamu dengan dramatis itu.” Tawa Nita tiba-tiba meledak ketika dia mulai membahas tentang lamaran dramatis.
“Nunggu waktu yang tepat dulu Nit, lagian udah deh aku lagi gak mau bahas soal Umar” jawabku sewot dan pada akhirnya disetujui oleh Nita.
__ADS_1
Kami melanjutkan perbincangan kami dengan berbagai topik ringan. Tidak ada lagi bahasan mengenai lamaran Umar, karena sejujurnya aku jadi merasa risih dan malu sendiri ketika mengingat hal tersebut. Kami tertawa terbahak-bahak ketika Nita memperagakan gaya pengawas di tempat kerja kami ketika sedang memarahi rekan kerjanya yang melakukan kesalahan. Sungguh konyol kelakuan Nita ini.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Rasa kantuk mulai menyerang. Aku sudah menguap berkali-kali. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri pesta kecil-kecilan ini dan beranjak tidur.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat aku terbangun. Tidak kudapati Nita di kamar kostku. Kemudian aku teringat akan ucapan Nita dini hari tadi bahwa dia akan pergi ke rumah orang tuanya hari ini. Pasti dia sudah berangkat sejak tadi. Ku raih ponsel yang tergeletak diatas tempat tidur. Lekas kubalas pesan dari Umar tadi pagi. Kuucapkan terimakasih disertai dengan emote tersenyum. Sebuah balasan pesan masuk dari Umar ke ponselku, dia mengatakan bahwa hari ini dia harus pulang ke rumah orang tuanya karena ada acara keluarga. Dia mengajakku ikut serta tapi aku menolaknya.
Aku hendak beranjak dari tempat tidurku untuk menuju kamar mandi ketika suara ponselku berdering, ada satu panggilan masuk disana.
“Halo Meera” sapa si penelepon saat sudah terhubung
“Halo Heru, ada apa tumben nelpon?” tanyaku to the point
“Kamu masih nge-save nomor aku ternyata,” bukannya menjawab, heru malah membahas hal lain, “aku cuma mau ngucapin happy birthday sama kamu, happy birthday yah Ra, semoga kamu segera putus sama pacar kamu itu”
“Orang lain mah ya, kalo ada yang ulang tahun tuh doanya yang baik-baik, gak kayak kamu malah doain aku putus, dasar!” jawabku kesal yang disusul dengan tawa jahil darinya.
“Oh iya Ra, hari ini aku mau ngajak kamu jalan-jalan, ini sebagai hadiah ulang tahun dariku”
“Yakin? Aku tahu kok kamu pasti lagi bete sendirian di kostan karena sahabat kamu itu lagi pergi. Udah deh mending kamu ikut aku aja, aku yakin kamu pasti suka tempatnya”
‘Kok dia bisa tahu aku sendirian di kostan’ pikirku bingung
“Udah kamu gak usah bingung darimana aku tahu kamu lagi sendirian. Yang harus kamu lakukan sekarang itu mandi, trus dandan yang cantik, aku tunggu kamu di depan tempat kerja kamu ya, bye Meera ....” dia lekas menutup sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dariku.
[jangan bengong aja, 30 menit lagi aku nyampe] sebuah pesan masuk dari Heru
[aku gak mau] jawabku cepat
[kamu pasti datang] ku lempar asal ponselku usai membaca pesan terakhir dari Heru.
‘Dia itu apa-apaan sih, dasar tukang maksa’ gerutuku kesal.
__ADS_1
***
Ku pandangi penampilanku didepan cermin didalam kamar kostku. Hari ini aku sengaja menggerai rambutku yang biasanya selalu ku kuncir kuda. Aku juga memakai pakaian yang lebih feminim daripada biasanya yang cukup mengenakan setelan kaos dan jeans yang dipadukan dengan jaket, cardigan, atau blazer. Hari ini aku mengenakan blouse lengan pendek dipadukan dengan rok selutut. Entah mengapa seolah aku terhipnotis untuk mengikuti titah heru untuk ikut dengannya. Aku juga mengikuti saran Heru yang mengatakan bahwa aku lebih cantik jika rambutku
digerai. Aku memasukkan dompet serta ponsel kedalam sling bag kecil yang selalu kubawa kemana-mana, lalu mengambil sneaker didalam rak sepatu dan kemudian segera mengenakannya. Ku patut penampilanku sekali lagi didepan kaca jendela kostan sebelum aku melangkahkan kaki menuju ke tempat janjianku dengan Heru.
Sebuah mobil hitam tengah terparkir ditempat aku janjian dengan Heru. Aku menoleh kekiri dan kekanan mencari seseorang yang tadi mengatakan sudah ada di tempat ini. Baru saja aku akan mengambil ponsel di dalam tasku ketika seseorang menepuk bahuku dari belakang. Seketika aku menoleh untuk melihat siapa gerangan yang telah mengagetkanku.
“Sudah ku bilang kamu pasti akan datang,” rupanya itu adalah Heru, “kamu cantik banget hari ini Ra.” Pujinya seraya melihat penampilanku dari atas ke bawah.
Baru saja aku akan menjawab pujian Heru, seorang perempuan cantik turun dari mobil hitam yang terparkir disana, “oh jadi ini calon kakak ipar aku, ternyata masih abg,” katanya disusul dengan tawa renyah. Dari tatapannya jelas dia sedang menujukan kalimat tersebut untuk Heru.
“Hai, Ameera yah? Kenalin aku Andini, adiknya kak Heru” ucapnya seraya mengulurkan tangannya kearahku yang ku balas dengan menjabat tangannya.
“Gimana Ameera cantik kan dek? Hari ini dia genap berusia dua puluh tahun” ucap Heru pada adiknya
“Ya ampun calon kakak ipar aku ternyata jauh lebih muda dari aku, tapi gak papa aku jadi berasa punya adek kan nanti, iya kan Ameera?” tanyanya padaku yang ku jawab dengan anggukan kepada dengan dibumbui sedikit senyuman.
‘Ini sebenarnya ada apa sih, kenapa adiknya sampai salah paham segala. Ini juga abg tua kenapa gak meluruskan kesalah pahaman ini sih’ aku melirik tajam kearah Heru yang hanya dibalas senyuman jahil darinya.
“Andini, sebenarnya—“
Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Heru buru-buru memotong “tuh ibu kayaknya udah selesai beli cemilannya, kita berangkat sekarang yuk, “ ajak Heru seraya menunjuk kearah seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari minimarket sambil membawa satu keresek belanjaan.
‘Tunggu, apa? Ibu? Ibu siapa? Sebenarnya aku mau dibawa kemana sih?’ aku makin merasa kacau, merasa bahwa acara kali ini bukan seperti yang kuduga. Sebelumnya ku kira aku hanya akan pergi berdua saja dengan Heru, tak kusangka dia mengajak keluarganya juga.
Seorang wanita yang tadi dipanggil ibu itu berjalan menghampiri kami. Beliau menyapaku dan menunjukkan ekspresi yang sama dengan Andini ketika mengetahui usiaku. Darinya aku tahu bahwa Heru adalah dua bersaudara. Selain itu aku baru tahu bahwa Heru adalah tulang punggung keluarga, karena ayahnya sudah meninggal ketika Andini masih SMA, itu berarti sekitar tujuh sampai delapan tahun lalu. Saat itu usia Heru sama sekitar usia Andini sekarang.
“Ngobrolnya bisa bersambung dulu gak, panas nih” Heru nampak sudah mulai bosan menjadi bahan perbincangan aku dengan ibunya. Ibunya hanya tertawa menyadari kami semua sudah mulai kepanasan karena beliau sangat antusias menceritakan keluarganya padaku. Akhirnya kami berempat masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan. Ibu Heru memintaku untuk duduk dibelakang bersamanya. Beliau beralasan masih ingin berbincang denganku. Walaupun sempat mendapat penolakan dari Heru yang sebelumnya memintaku untuk duduk didepan bersamanya, akhirnya dia menyetujuinya juga. Andini mengalah duduk di depan disamping Heru yang duduk dibelakang kemudi.
Sekitar satu jam perjalanan kami sampai di sebuah tempat wisata air terjun. Udara dingin khas pegunungan mulai terasa saat aku keluar dari mobil. Dengan sigap Heru membuka bagasi mobil. Dia mengeluarkan beberapa barang disana. Kulihat ada sebuah tikar plastik bergambar doraemon dan sebuah tas besar yang kukira isinya adalah makanan. Disana lah aku baru menyadari bahwa aku sudah salah kostum. Ternyata tujuan kami adalah untuk piknik keluarga. Kulihat sekeliling banyak orang berkumpul dan duduk diatas tikar bersama dengan keluarga mereka masing-masing, kurasa. Tak lupa makanan berat dan ringan tersaji dihadapan mereka.
Setelah semuanya dirasa siap, kami berjalan untuk mencari tempat yang kosong. Heru menemukan sebuah tempat kosong dibawah pohon besar, tempat yang lapang dan teduh, dan kami berempatpun segera menuju kesana.
__ADS_1
Acara piknik kami dimulai dengan makan bekal yangdibawa ibunya Heru, kemudian Heru mengajakku untuk jalan-jalan menyusuri area air terjun dan kemudian kami pulang. Sebelum mengantarkanku pulang, Heru terlebih dahulu mengajakku kerumahnya. Dia bilang akan mengantarkan ibu dan adiknya terlebih dahulu, kemudian menyimpan mobil dan menggantinya dengan sepeda motor agar bisa mengantarkanku sampai ke kostan karena kostanku memang berada didalam gang dan tidak bisa dijangkau dengan mobil.