CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 31


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan aku tinggal di rumah Umi Salmah. Banyak kegiatan positif yang aku lakukan disini. Aku ikut bekerja membantu Umi Salmah mengurus cateringnya bersama mba Lusi. Sambil belajar memasak, aku ikut membantu memotong sayuran, membersihkan ikan, memasukkan makanan yang sudah jadi kedalam kemasannya, dan lain-lain.


Selain itu juga aku sering kali ikut ke acara pengajian bersama Umi. Menambah ilmu agama yang masih minim. Aku hampir seperti asistennya Umi Salmah yang akan mengikuti kemanapun Umi pergi.


Umi Salmah selain kaya harta ternyata juga kaya hati. Setiap hari jumat, Umi Salmah membagi-bagikan makanan bagi para kaum dhuafa. Setiap hari jumat, Umi Salmah tidak menerima pesanan catering. Kami semua memasak untuk dibagikan secara percuma.


Selama aku tinggal di rumah Umi Salmah, terhitung sudah empat kali aku mengirimkan surat kepada orang tuaku. Tentu saja aku tidak mengatakan semua yang terjadi kepada mereka. Aku hanya mengabarkan bahwa aku baik-baik saja dan sekarang sudah pindah bekerja di catering. Aku mengatakan bahwa ponselku hilang, sehingga tidak bisa dihubungi. Komunikasi kami ibarat kembali ke jaman dulu sebelum terkenalnya ponsel, yaitu surat.


“Neng tolong belikan garam ke warung depan yah, tadi kayaknya mba lupa beli di pasar,” ucap mba Lusi.


“Iya mba.” Selain jadi tukang potong sayur, tugasku adalah membeli barang-barang pelengkap yang terkadang terlewat ketika mba Lusi belanja di pasar. Mungkin karena usiaku lebih muda darinya, sehingga mba Lusi sudah tidak sungkan lagi untuk menyuruhku ini dan itu.


Aku berjalan keluar setelah menerima sejumlah uang yang diberikan oleh mba Lusi. Tidak lupa mengambil jilbab di kamarku. Selain memberikan tumpangan kepadaku, Umi Salmah juga memberikan beberapa pakaian untukku. Kebanyakan bukan barang baru, baju-baju bekas putrinya yang masih layak pakai. Hampir semua pakaian yang diberikan Umi Salmah berupa gamis beserta jilbab instan. Pada awalnya aku merasa gerah memakainya, tetapi karena sudah terbiasa kini aku merasa nyaman. Justru jika sekarang aku keluar tanpa mengenakan jilbab, akan terasa ada yang kurang. Aku merasa seperti telanjang.


“Assalamu’alaikum bu Elin, beli garamnya dua bungkus yah,” ucapku pada pemilik warung.


“Waalaikum salam, sebentar saya ambilkan yah neng.” Pemilik warung memberikan dua bungkus garam kepadaku. “Ini garamnya neng, mau beli apa lagi?”


“Sudah bu itu saja.” Aku menyerahkan uang pecahan sepuluh ribu kepada pemilik warung.


“Neng Ameera gemukan yah sekarang. Waktu pertama kali ibu lihat kayaknya kurus banget.”


“Iya gitu bu? Pengaruh baju mungkin yah. Tapi memang sih bu, akhir-akhir ini nafsu makan saya lagi tinggi, hehehe ....”


“Dasar neng ini, biasanya kalau anak muda itu pengennya pada diet biar langsing.”


“Gak semua kok bu, ini buktinya saya, bukannya langsing malah kayak langseng, hehehe ..., udah ah bu saya pamit pulang dulu, ini garamnya ditungguin mba Lusi.” Aku beranjak pergi dari warung bu Elin. Kalau ngobrol terus sama dia gak bakalan kelar-kelar, ada aja bahasannya.


Udara cukup terik hari ini, padahal baru jam delapan pagi. Tiba-tiba aku merasa lelah, padahal jarak dari rumah Umi Salmah ke warung bu Elin tidak terlalu jauh. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing, pandangan blur, dan akhirnya aku terjatuh tak sadarkan diri.


Aku terbangun ketika merasa seseorang menggosok-gosok tanganku. Rupanya Umi Salmah disana. Dia menatapku dengan raut wajah khawatir.


“Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga neng,” ucapnya ketika melihatku membuka mata.


Aku duduk bersandar pada bantal, mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum aku pingsan. Perlahan aku ingat, aku mulai merasa pusing saat pulang dari membeli garam di warung bu Elin.

__ADS_1


“Ini minum dulu teh hangatnya.” Umi Salmah memberikanku segelas teh hangat yang segera aku minum.


“Maaf Umi jadi merepotkan, tadi saya disuruh membeli garam di warung bu Elin. Lalu ketika saya dalam perjalanan pulang, tiba-tiba kepala saya pusing, setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Siapa yang membawa saya kesini Umi?”


“Tadi ada warga yang melihat kamu pingsan, untung saja salah satu dari mereka mengenali kamu, jadi mereka membawa kamu kesini.”


“Oh ....” Aku hanya bisa ber-oh saja.


“Boleh ibu tanya sesuatu neng?” tanya Umi Salmah ragu.


“Ada apa Umi? Kok Umi kayak tegang gitu? Saya tidak mengidap penyakit berbahaya kan Umi?”


“Tidak. Umi hanya mau tanya, kapan terakhir kali kamu datang bulan?” tanya Umi Salmah.


DEG ....


“Kenapa Umi bertanya seperti itu?” Seingatku aku terakhir datang bulan itu ... sudah lama sekali. Mungkin saat aku masih kost bersama Nita. Periode datang bulanku yang tidak teratur membuatku tidak bisa memastikannya dengan benar.


Umi Salmah mencondongkan tubuhnya kearahku seraya menatapku lekat. Diraihnya kedua tanganku kedalam genggamannya, “Dokter bilang kamu hamil neng.”


DEG ... DEG ... DEG ....


“Iya neng, kamu hamil. Tapi tetap saja kita harus memastikannya ke dokter kandungan.”


“Tidak Umi, saya tidak mau hamil ... saya tidak mau hamil ....” Aku histeris seraya memukul-mukul perutku.


Umi Salmah memegangi kedua tanganku, “Jangan seperti ini neng, bisa membahayakan janin kamu.”


“Ta-tapi Umi bagaimana aku bisa mengandung sedangkan aku adalah seorang wanita yang belum menikah. Orang-orang akan menyebut anak ini anak haram.” Aku menurunkan nada bicaraku. Malu jika orang lain sampai mendengar. Saat ini dirumah ini bukan hanya ada aku dan Umi salmah, tapi ada mba Lusi dan dua orang ibu-ibu yang membantu mempersiapkan pesanan catering.


“Husss ... jangan bicara seperti itu. Tidak ada yang namanya anak haram. Semua anak dilahirkan suci. Yang ada adalah kelakuan orang tuanya yang haram.”


“Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang Umi?”


“Kamu harus memberitahukan hal ini kepada ayah si bayi neng. Bagaimana pun dia harus bertanggung jawab.”

__ADS_1


“Itu tidak mungkin Umi,” jawabku lirih. Kutundukkan pandangan mengingat kembali percakapanku dengan Heru.


“Kenapa?” tanya Umi Salmah.


“Kami tidak bisa menikah Umi.”


“Maksud kamu tidak bisa menikah bagaimana?”


“Kami berbeda keyakinan Umi.”


“Astaghfirullohaladzim.”


“Maaf Umi, apa selain Umi ada yang tahu tentang kehamilan saya?” tanyaku gugup. Umi Salmah menggelengkan kepalanya. “Saya mohon Umi, tolong biarkan ini tetap menjadi rahasia. Saya tidak siap menghadapi orang-orang. Setidaknya sampai saya bisa menemukan solusinya.”


“Tapi kamu tahu kan kalau perut kamu lama-lama akan membesar? Kehamilan adalah sesuatu yang tidak mungkin disembunyikan neng.”


“Saya tahu Umi. Tapi saya mohon untuk saat ini tolong dirahasiakan dulu, saya mohon Umi.” Aku mengiba kepada Umi Salmah. Bagaimanapun aku harus mempertimbangkan dari berbagai sisi. Langkah apa yang harus aku lakukan selanjutnya.


“Baiklah kalau begitu, Umi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua keputusan ada di tangan kamu.”


“Terimakasih Umi. Dan kalau boleh saya meminta satu hal lagi, bolehkah saya tinggal disini lebih lama lagi Umi?”


“Kamu ini bicara apa, tentu saja boleh. Hal seperti itu tidak perlu kamu tanyakan lagi.”


“Terima kasih Umi ... terima kasih.”


“Sudah ah, jangan terima kasih terus, Umi mau kebelakang dulu, nyiapain pesanan catering. Sebelum dzuhur kan sudah harus diantar. Besok pagi Umi anter ke dokter kandungan yah.” Umi Salmah beranjak bangun untuk meninggalkan kamar. “Kalau masih lemas tidak usah bantuin, istirahat saja.”


“Tidak Umi, saya sudah sehat kok.” Aku beranjak bangun mengikuti langkah Umi Salmah. Bagaimanapun aku disini hanya menumpang. Tidak seharusnya aku berleha-leha saja di kamar. Setidaknya aku harus membuat diriku lebih berguna terutama untuk orang yang sudah sangat baik memberikanku tempat bernaung.


***


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2