
Hari ini aku sama sekali tidak bisa fokus dalam bekerja. Pikiranku sedang kacau karena mengkhawatirkan Umar. Ditambah lagi dengan rasa pusing dikepalaku yang tidak kunjung membaik. Beberapa kali aku melakukan kesalahan sampai membuat pengawas menegurku.
Karena sakit di kepalaku sudah tak tertahankan lagi, aku memutuskan pergi ke toilet untuk sekedar menyegarkan diri. Ditengah perjalanan menuju toilet, tiba-tiba aku limbung dan kemudian jatuh pingsan.
Aku membuka mata dan menyadari aku sedang berada di klinik khusus karyawan di tempatku bekerja. Aku mencoba untuk duduk seraya memijat kepalaku yang masih terasa nyeri. Tidak ada seorangpun disini. Aku mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi padaku dan berapa lama aku tertidur disini.
Aku mencoba untuk turun dari tempat tidur ketika seorang perawat menghampiriku, “loh, udah bangun mbak? baru saja saya menghubungi dokter. Barusan temen-temen mbaknya nganterin mbak kesini karena mbak pingsan. Sebaiknya mbak duduk dulu yah, sebentar lagi dokternya dateng kok.”
“Saya gak papa kok sus, saya mau kembali ke tempat kerja aja.” Tolakku halus.
“Tapi mbak, kalo mbaknya kenapa-napa nanti saya yang kena marah. Sebaiknya mbak duduk dulu, sebentar lagi dokternya dateng kok. Beliau tadi sedang keluar untuk makan siang.” Akhirnya aku mengikuti titah perawat tersebut karena tidak mau menimbulkan masalah lagi.
Beberapa menit kemudian seorang dokter wanita datang ke klinik. Aku diminta untuk pulang setelah sebelumnya dokter memeriksa keadaanku dan kemudian memberikanku beberapa obat dan vitamin.
“Kamu besok tidak usah masuk kerja, ini saya buatkan surat keterangan sakit, nanti biar saya minta satpam buat nganterin surat ini ke pengawas kamu.” Ucap dokter tersebut yang kujawab dengan anggukan kepala serta ucapan terimakasih.
Aku berjalan keluar dari klinik menuju ke kostanku. Dalam langkahku tiba-tiba ada rasa sedih menjalar dalam hatiku. Disaat seperti ini aku membutuhkan seseorang untuk berada disampingku, bukan sendirian seperti sekarang ini. Tiba-tiba tanpa diundang air mata menetes dipipi.
Saat akan menyebrang jalan, tiba-tiba aku dikagetkan sebuah mobil yang berhenti tepat dihadapanku. Ketika si pengemudi menurunkan kaca mobil, barulah aku menyadari ternyata si pengendara mobil adalah Heru.
“Meera?” ucapnya setengah terkejut.
Heru lekas turun dari mobil dan menghampiriku, “kamu kenapa Ra, kok muka kamu pucat gitu, kamu sakit?” tanyanya.
Entah mengapa melihat Heru saat ini malah membuatku ingin menangis. Tanpa diminta, airmata turun semakin deras dari sebelumnya. Melihatku menangis, Heru refleks menarikku kedalam pelukannya. Dan hal itu malah membuat tangisku semakin kencang.
“Hei, kamu kenapa? Kok malah nangis liat aku?” Heru nampak bingung menanggapiku, “yaudah kita masuk kedalam mobil yuk, biar enak ngobrolnya jangan dipinggir jalan gini.” ajaknya.
Aku mengikuti ajakan Heru. Kami berdua masuk kedalam mobil Heru, dan segera meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
“Sekarang kamu cerita deh, sebenarnya kamu kenapa?” tanya Heru ketika aku sudah berhenti menangis.
Aku menceritakan semua yang terjadi padaku hari ini pada Heru. Tentang Umar yang datang untuk memberi surprise ulang tahun padaku kemarin, saat aku pergi bersama Heru, dan tentang sakitku yang membuatku pingsan ditempat kerja.
Heru terbahak mendengar ceritaku, “jadi kamu sampe nangis gini gara-gara merasa bersalah sama pacar kamu itu Ra?” ejeknya.
Aku menggelengkan kepala, “bukan.”
“Terus kenapa?” tanyanya lagi.
“Disaat aku sakit, aku merasa sendiri. Tadi saat dokter menyuruhku untuk pulang, aku hampir tidak tahu harus pulang kemana. Saat ini aku ingin pulang kerumah. Rumah yang hangat, dimana ada orang yang bisa kusebut sebagai keluarga sedang menunggu kehadiranku. Makanya saat tadi aku melihat kamu aku langsung nangis.” jawabku.
Heru meraih tanganku kedalam genggamannya, “mulai sekarang kamu jangan merasa sendiri lagi Ra, kamu harus ingat disini kamu punya aku yang selalu ada buat kamu.”
Aku menoleh kearahnya dan menatapnya dengan lekat, “Makasih yah Heru.”
Setelah itu, tidak ada lagi perbincangan diantara kami. Aku terbenam dalam lamunanku sambil melihat pemandangan lewat jendela mobil. Sampai kami tiba di sebuah rumah yang kemarin aku kunjungi, rumah Heru. Kemudian Heru mengajakku untuk turun, dan akupun mengikutinya.
“Kamu kenapa sayang, kok muka kamu pucat gitu?” tanyanya seraya mencakup kedua pipiku dengan kedua tangannya, “Ameera kenapa kak?” kini pandangannya beralih pada Heru.
“Ameera sedang sakit bu, jadi aku bawa kesini, soalnya dikostannya gak ada siapa-siapa,” jawabnya.
Ibu Heru nampak cemas setelah mendengar penjelasan dari Heru. Beliau segera mengajakku untuk masuk ke dalam dan memintaku untuk duduk di ruang tamu.
“Kamu duduk disini dulu ya sayang, ibu bikinin dulu kamu minum,” titahnya.
“Kenapa kamu ajak aku kerumah kamu?” tanyaku pada Heru setelah aku mendudukkan diri diatas sofa ruang tamu rumahnya.
Heru menyusul duduk disampingku dan menatap lekat kearahku, “kamu itu lagi sakit, dikostan gak ada siapa-siapa, nanti siapa yang akan merawat kamu.”
__ADS_1
“Kata siapa gak ada siapa-siapa? Ada Nita kok” kilahku.
Heru tersenyum kearahku, manis sekali, kemudian membelai rambutku, “kamu disini dulu aja yah.”
Aku tidak bisa membantah karena tepat ketika aku akan membuka mulut, ibu datang dari arah dapur sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
“Bu, aku harus kembali ke kantor, titip Ameera yah” ucap Heru pada ibu yang langsung mendapat persetujuan darinya.
Sepeninggalnya Heru, tinggallah aku berdua dengan ibu. Ibu mengajakku untuk mengistirahatkan diri dikamar tamu rumahnya setelah aku dipaksa menghabiskan makanan dan minuman yang disiapkan oleh ibu serta meminum obat yang aku dapat dari dokter di klinik tadi. Akupun menyetujuinya, karena bagaimanapun saat ini aku ingin sekali untuk tidur dengan nyaman mengingat rasa nyeri di kepalaku yang masih terasa.
Tanpa terasa aku tertidur sangat lelap dan baru terbangun ketika hari sudah mulai gelap. Kuedarkan pandangan ke sekeliling, ternyata aku masih berada di kamar tamu rumah Heru. Kuraih air minum yang terletak diatas nakas dan meminumnya dalam satu kali tegukan.
Seseorang mengetuk pintu dari luar dan kemudian membukanya perlahan tepat ketika aku akan turun dari ranjang. Nampak ibu masuk kedalam kamar sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Ibu nampak tersenyum kearahku, “kamu udah bangun? Gimana udah enakan?”
“Udah bu,” jawabku jujur.
“Yaudah ini makan malam dulu, terus minum obatnya,” ucap ibu seraya menyimpan nampan tersebut diatas nakas, “Heru tadi nelpon ibu, katanya dia pulang telat,” imbuhnya yang segera mendapat jawaban terimakasih dariku.
Tak ingin membuat ibu menunggu lama, aku segera memakan makanan yang dibawakan oleh ibu, “ini enak banget bu, ibu yang masak?”
Ibu terlihat sumringah mendapat pujian dariku, “benarkah? Iya itu ibu yang masak. Kamu suka?”
“Suka banget bu. Aku juga sebenarnya pengen belajar masak, karena jujur saja sampai sekarang aku belum bisa masak.”
“Tenang saja, nanti setelah kamu menikah dengan Heru, ibu sendiri yang akan mengajari kamu memasak,” jawabnya.
Aku menghentikan sejenak aktifitas makanku. Entah mengapa kalimat terakhir ibu terdengar seperti sebuah harapan. Aku jadi merasa bersalah karenanya. Aku jadi bimbang, apakah seharusnya aku jujur saja tentang bagaimana hubunganku dengan Heru saat ini. Bagaimanapun aku tidak bisa mengabaikan keberadaan Umar. Ah iya Umar, aku jadi teringat rencana awalku ketika pulang kerja hari ini adalah menghubungi Umar, tapi aku malah melupakannya. Aku juga belum mengabari Nita tentang keberadaanku. Dia pasti sangat khawatir karena aku belum pulang hingga selarut ini. Tapi bagaimana aku bisa menghubungi mereka jika ponselku saja ada di kostan.
__ADS_1
“Kok malah melamun? Ayo habiskan makanannya, setelah itu minum obat supaya kamu lekas sembuh,” ucap ibu membuyarkan lamunanku.
Ibu beranjak pergi dari kamar setelah memastikanku menghabiskan makanan dan meminum obatku. Ada perasaan hangat menjalar dalam dada ketika mendapatkan perhatian seperti itu. Apa yang dilakukan oleh ibunya Heru padaku begitu tulus. Dia benar-benar menganggapku seperti anaknya sendiri. Sungguh beruntung wanita yang akan menjadi istri Heru karena akan mendapatkan mertua sebaik itu. Dan tiba-tiba muncul harapan dalam hati bahwa akulah yang akan menjadi wanita itu.