
"Kita mau kemana kak?” tanyaku ditengah perjalanan.
“Nanti juga kamu tahu Ra, pegangan,” titah Heru, “nanti kita beli helm dulu didepan sana ya, sekalian kita beli camilan di minimarket.”
Aku mengeratkan pelukanku di tubuh Heru. Malam semakin larut, udara sudah mulai terasa dingin. Ketika aku menyentuh tangan kiriku, aku terkejut menyadari satu hal. Kutarik kedua tanganku dari tubuh Heru. Menatap benda kecil yang terpasang di jari manis tangan kiriku.
“Kenapa Ra?” Heru yang menyadari aku melepaskan pelukanku padanya bertanya.
“Cincin dari Umar,” Ucapku setengah berbisik.
Heru menghentikan laju motornya dan berhenti dipinggir jalan. Ia lalu menarik tanganku dan mengambil cincin pemberian dari Umar. Sejenak ia pandangi cincin itu untuk kemudian dia lempar kesembarang arah.
Aku hanya melongo memandangi arah perginya cincin tersebut. Naas, aku tidak bisa melihatnya sama sekali.
“Move on Ra, move on ....” Heru kembali menjalankan motornya setelah melakukan hal tersebut.
“Kenapa dibuang kak, kan sayang kalau dijual lumayan uangnya buat aku beli kuota.” Aku tidak setuju dengan apa yang Heru lakukan. Meskipun demikian, aku sama sekali tidak ada niat untuk mencegahnya.
Heru tertawa terbahak-bahak mendengar penuturanku, “kamu benar Ra, sayang sekali yah. Ayo kita putar balik dan cari cincinnya. Nanti hasil penjualannya kita bagi dua yah?”
Walaupun berkata seperti itu, tapi yang terjadi tidak sesuai dengan yang dia ucapkan. Kami tetap melanjutkan perjalanan. Tidak ada tanda-tanda Heru akan memutar balik laju kendaraannya.
Heru sepertinyanampak terhibur dengan candaanku. Ya sebenarnya aku tidak bercanda tentang niatan menjual cincin dari Umar. Masih ada sisa-sisa tawanya, bahkan saat kami sudah melaju beberapa menit.
Seperti rencana awal, kami berhenti sejenak untuk membeli helm dan membeli beberapa camilan dan minuman dalam kaleng. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan yang aku sendiri bahkan tidak tahu akan kemana.
Sekitar dua jam perjalanan akhirnya kami sampai ditempat yang dimaksud oleh Heru. Sebuah pondok di tepi danau dengan pohon besar di sisi kiri dan kanannya.
“Ini rumah siapa kak?” tanyaku penasaran.
“Ini pondok mendiang ayah aku Ra,” jawabnya perlahan.
Melihat kesedihan di wajah Heru, aku mengurungkan keinginan bertanya lebih jauh. Aku takut akan membuat Heru tersinggung.
Kami masuk ke dalam pondok tersebut. Bangunan yang sederhana, berlantaikan kayu dengan dinding terbuat dari anyaman bambu. Hanya ada satu kamar tidur disana.
__ADS_1
“Aku sudah lama tidak kesini. Dulu waktu masih sekolah, hampir setiap libur ayah mengajak kami kesini. Sekarang pondok ini kosong, tapi setiap hari akan ada yang datang kemari untuk membersihkannya.” Heru nampak mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru pondok. Sepertinya dia tengah mengenang saat-saat bersama ayahnya dulu.
“Tempat ini cocok buat kamu menenangkan diri Ra. Menurut kamu gimana?” Heru menanyakan pendapatku tentang pondok ini.
Aku menganggukkan kepala menyetujui apa yang Heru utarakan. Tempat ini jauh dari keramaian kota. Suasananya juga masih asri. Kalau siang hari pasti akan sangat indah. Karena aku datang kesini saat sudah gelap, aku tidak bisa melihat pemandangan sekitar.
“Ayo kita duduk disana, kamu pasti lelah.” Aku mengikuti ajakan Heru. Kami duduk bersebelahan di sofa ruang tengah pondok.
“Oiya kak, tadi kakak bilang ada kerjaan kan? Kok kakak balik lagi ke kostan aku?” tanyaku penasaran.
Heru nampak tersenyum mendengar pertanyaanku, “kamu belum tahu aku punya indera ke enam?” Heru nampak terbahak-bahak setelah mengucapkan itu. Aku mencubitnya dengan kesal.
“Ditanya serius malah jawabnya becanda!” seruku kesal.
“Siapa juga yang becanda.” Heru meraih minuman yang tadi kami beli di mini market lalu meminumnya. Dia nampak sama sekali tidak terganggu dengan tatapanku yang menusuk tajam kearahnya.
Baiklah, aku menyerah. Aku tidak akan menanyakan itu lagi.
Malam semakin larut, udara semakin dingin. Aku berkali-kali menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku untuk sedikit menghangatkannya. Tapi tetap saja, aku rasa udara dingin masuk kepodok melalui celah-celah bilik bambu.
“Kakak gak papa tidur disini? Disini dingin loh.” Aku memperingatkan Heru.
Heru nampak pura-pura berfikir, “hem ..., kamu benar Ra, kalau begitu bagaimana kalau kita berbagi tempat tidur?” Heru tertawa terbahak-bahak setelah aku melolot kearahnya.
“Kamu tenang aja Ra, aku punya minuman yang bisa menghangatkan tubuh. Aku menyimpannya disini, karena setiap aku kesini aku selalu membutuhkannya,” ucap Heru meyakinkan.
“Minuman? Minuman apa?” tanyaku penasaran.
“Bocah gak usah tahu, udah sana masuk.” Heru mendorong tubuhku untuk masuk kedalam kamar.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti titah Heru. Lagi pula aku sudah sangat lelah. Ingin segera berbaring dengan nyaman diatas kasur.
Kamar yang cukup sederhana. Ukurannya hanya sekitar dua kali tiga meter. Didalamnya hanya ada satu buah kasur, satu buah lemari kecil, serta satu buah meja kecil di samping tempat tidur.
Ku baringkan tubuhku diatas tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Aku cukup bersyukur ada Heru yang selalu datang disaat aku butuh pertolongan.
__ADS_1
Tiba-tiba pikiranku teringat akan Habibie. Sedang apa dia sekarang? Apakah dia sedang menikmati malam pengantinnya bersama istrinya?. Mengingat itu semua membuatku merasa sedih. Hatiku sakit seakan diiris sembilu. Seharusnya aku yang disana bersamanya sekarang. Bukan gadis lain.
Setelah berada dalam lamunan panjang, aku mulai mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Benar kata Heru, aku harus move on. Walaupun move on versiku berbeda dengan move on versinya, tetapi aku membenarkan ide darinya.
Aku terbangun dari tidur singkatku karena perasaan haus. Ternyata hari masih gelap, udara semakin dingin seakan menusuk hingga ke tulang. Aku membuka tirai yang terpasang dipintu kamar sebagai penghubung kamar dan ruang tamu.
Tidak kudapati Heru disana. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tapi Heru tidak berada disana. Kemudian ku dengar suara gemericik air dari arah belakang rumah. Ku yakin pasti Heru saat ini sedang berada di toilet.
Aku memutuskan untuk duduk diatas sofa sambil menunggu Heru keluar dari toilet. Mataku menangkap sebuah botol minuman tergeletak diatas meja. Aku kembali mengingat ucapan Heru sebelumnya. Pasti ini yang dimaksud Heru sebagai minuman penghangat tubuh.
Kutuangkan sebagian isinya kedalam gelas, aromanya sangat tajam. Kutenggak minuman itu seperti orang kehausan. Walaupun rasanya tidak enak, aku tetap meminumnya berharap bisa sedikit menghangatkan tubuhku, seperti yang Heru ucapkan.
Perlahan tubuhku terasa ringan dan hangat. Aku memutuskan untuk meminumnya satu gelas lagi. Ternyata rasanya tidak seburuk ketika pertama kali mencobanya. Aku pun mulai menikmatinya. Dua gelas sudah kuhabiskan. Tepat ketika aku akan menuangkan untuk yang ke tiga kalinya, kudengar seseorang meneriakkan namaku, “Ameera stop!”
Aku menoleh kearah sumber suara. Seorang pria setengah berlari kearahku dan menjauhkan botol minuman beserta gelasnya dariku.
“Kenapa kamu minum ini Ameera?” tanya pria tersebut gusar.
Ekspresinya sangat lucu sekali, akupun tertawa terbahak-bahak karenanya. Entah mengapa aku tidak bisa menghentikan tawaku sendiri, seakan aku kehilangan kontrol akan diriku. Aku masih tetap menertawakan pria yang tengah berdiri marah dihadapanku walaupun kulihat dia tidak menyukainya.
Lelaki itu duduk disampingku, “sayang, tidak seharusnya kamu minum ini, ini minuman aku, tidak boleh kamu minum.”
“Aa marah? Kenapa Aa marah karena aku minta minuman Aa? Aku bahkan tidak menghabiskan semuanya, aku hanya minum setetes,” ucapku seraya gergelayut manja ditangan kekarnya.
Aku tiba-tiba merasa sangat sedih. Air mata meluncur keluar dari mataku. Aku menangis tergugu. Entah apa yang membuatku menagis sesedih ini. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri.
“Aa jangan marah, jangan tinggalin aku. Aku janji nanti minuman ini aku ganti.” Aku mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahku kearahnya.
Melihat ekspresinya yang masih marah, aku mendekat kearahnya dan memeluknya dengan erat, “Aa jangan tinggalian aku. Aku sudah melakukan seperti yang Aa bilang. Aku menunggu Aa datang, tapi kenapa yang datang justru undangan pernikahan Aa. Aa jahat ... jahat ... jahat ....” Aku memukul-mukul dada bidang pria yang masih terdiam disampingku.
“Aa tahu? Dulu aku sangat ingin memeluk Aa seperti ini, merasakan hangatnya tubuh Aa, tapi aku tahan semuanya hanya agar Aa tidak ilfeel sama aku.” Tangisku pun pecah.
“Aku cinta sama Aa..., Aa adalah satu-satunya lelaki yang selalu ada dihati aku.” Aku terisak dipelukan laki-laki yang sangat aku cintai itu. Tanpa terasa, karena terlalu lelah menangis aku merasa lelah dan mulai mengantuk. Akupun tertidur.
***
__ADS_1