
Pagi hari aku terbangun dengan perasaan jauh lebih baik. Aku sudah siap menyambut hariku dengan semangat. Heru masih tertidur diatas sofa. Entah jam berapa dia tertidur. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak disekitar rumah, menikmati suasana pagi yang belum sempat aku rasakan. Suasana khas pedesaan yang asri dengan suara kicau burung menyambut mentari. Tak ada satu orang pun terlihat sejauh mata memandang. Mungkin pondok ini memang jauh dari pemukiman warga.
Aku duduk diatas kursi yang berada di tepi danau. Pantulan cahaya matahari pagi terlihat jelas disana, indah.
“Permisi neng.” Seseorang nampak menyapaku dari belakang.
Seorang wanita paruh baya dengan gamis sederhana serta jilbab berwarna coklat susu tengah memandang ke arahku.
“Maaf jika kehadiran saya mengejutkan neng,” ucapnya, “neng gadis yang bersama dengan nak Heru?” tanyanya.
“Iya, maaf ibu siapa yah?” tanyaku.
“Saya yang setiap hari bertugas untuk membersihkan pondok neng. Nama saya Aminah.” Bu Aminah memperkenalkan diri.
“Oh iya bu, kak Heru sudah cerita. Saya Ameera.” Dan akupun memperkenalkan diri.
“Oh iya neng, ini ibu bawakan baju neng. Sudah ibu cuci dan setrika. Nak Heru bilang kemarin malam neng muntah-muntah yah? Ibu juga menemukan ponsel neng di saku celana neng.” Bu Aminah menyerahkan pakaianku dan ponsel yang dari kemarin aku cari-cari. Aku menerima barang-barangku seraya mengucapkan terimaksih.
Hal yang pertama aku lakukan adalah mengecek ponselku, ternyata mati daya. Aku beranjak bangun untuk kembali kedalam pondok dan mengecas ponselku. Bu Aminah mengikutiku dari belakang.
“Maaf ya bu, saya jadi merepotkan ibu.”
“Jangan sungkan neng, saya senang bisa mengabdi pada keluarga pak Burhan.”
“Ibu sudah lama kerja sama keluarga kak Heru?”
“Waduh, kalau dihitung berapa lamanya saya gak tau juga ya neng. Ibu saya dulu kerja di rumah orang tuanya pak Burhan, jadi asisten rumah tangga. Lalu ibu saya berhenti bekerja karena bapak saya sakit keras neng. Saat itu majikan ibu saya itu ngasih hadiah rumah di daerah sini juga sama ibu saya, tapi ya itu, ibu saya diminta untuk mengurus pondok ini. Berhubung sekarang ibu saya sudah lanjut usia, jadi saya yang nerusin ngurus pondok neng.” Aku hanya menganggukkan kepala mendengarkan cerita bu Aminah.
Cerita bu Aminah sedikit banyak membuatku tahu tentang keluarga Heru. Sebenarnya aku masih ingin banyak bertanya tentang keluarga Heru pada Bu Aminah, tapi kami sudah sampai ke depan pintu pondok. Aku segera melanjutkan rencanaku untuk mengisi daya ponselku.
“Saya masuk dulu ya bu,” pamitku pada bu Aminah.
“Dari mana Ra?” tanya Heru begitu aku masuk ke dalam pondok.
“Abis liat danau. Kakak sudah bangun?”
“Huum ....”
__ADS_1
“Mandi gih, aku mau minta anter kakak ke suatu tempat. Aku ngecas hape dulu ya.” Aku berlalu masuk ke dalam kamar dan mencari charger ponsel di tas ranselku. Begitu aku temukan aku segera mencolokkannya ke ponselku. Butuh beberapa detik hingga ponsel tersebut bisa menyala sempurna.
“Jadi kita mau kemana Ra?” tanya Heru ketika kami berdua sudah naik diatas motor.
“Kita ke rumah Agung,” jawabku.
“Agung? Siapa Agung?”
“Temannya Umar.”
“Kenapa? Jangan-jangan kamu mau balikan sama mantan kamu itu ya?”
“Itu sangat tidak mungkin kak. Aku cuma mau minta maaf sama dia. Aku ingin melanjutkan hidup setelah menyelesaikan masa laluku.”
“Kamu yakin Ra?”
“Sangat yakin.”
Setelah hampir tiga jam perjalanan akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah sederhana, rumah Agung. Perlu beberapa kali ketukan sampai si pemilik rumah membukakan pintu. Agung nampak membukakan pintu dengan raut wajah tidak ramah. Nampak kebencian di sorot matanya.
“Agung, bisa kita bicara sebentar?” tanyaku canggung.
“Aku ... aku cuma mau menanyakan keberadaan Umar. Aku kesini karena tidak tahu harus menemui Umar dimana. Aku tidak tahu tempat tinggalnya maupun tempat kerjanya. Jadi—“
Belum sempat aku menyelesaikan kaimatku, Umar sudah memotongnya. “See? Lucu banget kan? Kamu pacaran sama Umar, dan sebelumnya kenal lama sama dia tapi tidak tahu tempat tinggal dan tempat kerjanya? Kamu tidak tahu apa-apa tentang Umar.”
“Please kasih tau aku dimana Umar, ada yang ingin aku sampaikan. Dan ini sangat penting.”
“Maaf Ra, aku tidak bisa membantumu. Aku hanya tidak mau kamu menyakiti Umar lagi.”
“Maksud kamu apa?”
“Umar sudah menceritakan semuanya, tentang perselingkuhan kalian. Dan sekarang kamu mau datang kepadanya dengan membawa laki-laki ini?” Umar menunjuk tepat didepan wajah Heru.
Heru nampak geram karenanya, “kalian ini para bocah sama sekali tidak mempunyai sopan santun.”
Aku menoleh kearah Heru, mencoba menenangkannya. “Maafkan Agung kak, dia hanya tidak tahu. Tolong jangan emosi, aku tidak mau ada keributan.”
__ADS_1
Tatapanku kembali pada Agung, “ini tidak seperti yang kamu pikirkan Gung. Tolong beritahu saja dimana Umar, aku cuma ingin meminta maaf padanya.”
“Dia pulang ke rumah orang tuanya,” jawab Agung.
“Kapan dia akan kembali?” tanyaku lagi.
“Entahlah. Mungkin seminggu, sebulan, setahun lagi atau mungkin tidak akan pernah kembali.” Agung menatapku yang masih tidak terima dengan jawaban Agung. “Umar mengalami kecelakaan sepeda motor, dan mengalami patah tulang.”
Aku sangat terkejut mendengar penuturan Agung, “kapan?”
“Malam setelah kamu mencampakkannya, dan memilih pergi bersama selingkuhan kamu.”
Penuturan Agung berhasil menambah keterkejutanku. Aku sungguh tidak menyangka kejadian hari itu akan sangat berpengaruh pada emosi Umar. Walaupun pikiranku tetap menyangkal bahwa ini bukan salahku, tapi jauh didalam lubuk hatiku merasa bahwa sedikit banyak ini adalah kesalahanku juga.
“Sebelum kamu menuduh aku, sebaiknya kamu tahu kebenaran akan kejadian sebenarnya,” ucapku pada Agung.
Aku menceritakan semuanya kepada Agung. Mulai dari kedatangan Umar ke kostan, lalu kedatangan Heru. Kemudian Umar salah paham dan berlaku kasar padaku. Sampai aku diusir dari kostan karena dianggap sudah membuat keributan
Perlahan kulihat raut wajah Agung berubah, tidak sesinis tadi. Aku rasa Agung sedikit lebih terbuka untuk menerima informasi dari sisi lain.
“Kalau nanti kamu bertemu dengan Umar, tolong sampaikan permintaan maafku padanya yah. Pada dasarnya dia orang yang baik, hanya harus sedikit mengontrol emosinya. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaannya.”
Aku dan Heru pamit pada Agung. Tidak seperti kedatangan kami, sekarang raut wajah Agung lebih bersahabat. Dia bahkan menjabat tangan Heru sebelum kami pergi.
“Kamu tidak harus menjelaskan semua kejadian hari itu padanya Ra, itu sama sekali bukan urusannya,” ucap Heru ketika kami sudah naik sepeda motor.
“Itu harus kak. Ini bukan hanya untuk memperbaiki nama baik aku, tapi ini tentang Nita.”
“Nita? Apa hubungannya dengan Nita?”
“Nita sangat menyukai Agung. Pandangan Agung terhadapku bisa jadi merusak pandangan Agung pada Nita juga. Aku tidak mau Agung jadi membenci dan menjauhi Nita karena aku kak. Itu sebabnya sangat penting untuk menjelaskan semuanya pada Agung.”
“Ternyata kamu punya kepedulian yang tinggi juga yah Ra.” Aku hanya tersenyum sebagai jawaban atas pernyataan Heru. “Sekarang kita kemana Ra?” tanya Heru kemudian.
“Kita ke bengkel Deni,” jawabku.
Heru memacu kembali sepeda motornya mengacu pada arah yang kutunjukkan. Lama bersama dengan Deni, aku sangat hafal jalan menuju bengkelnya. Dulu aku sering menemaninya disana.
__ADS_1