
POV Habibie
Seminggu sudah Alifa pulang ke rumah Uminya. Dalam kurun waktu seminggu ini tidak satu haripun Umi menanyakan Alifa kepadaku. Mungkin Umi salah faham. Umi merasa aku dan Alifa sedang ada masalah, sehingga menyebabkan Alifa pergi dari rumah kami.
“Tidak Umi, kami tidak ada masalah. Alifa pulang ke rumah orang tuanya karena merindukan Uminya.” Setidaknya itu yang dia katakan padaku. “Umi kan tahu, Uminya Alifa sekarang tinggal sendiri. Mungkin Alifa hanya ingin menemani beliau untuk beberapa waktu.” Entah sudah kali ke berapa aku menjelaskan ini pada Umi.
“Kamu yakin nak?” tanya Umi meyakinkan.
“Iya Umi.”
“Baiklah kalau begitu, besok kamu jemput Alifa.”
“Tapi Umi, bagaimana kalau Alifa tidak mau pulang? Maksudnya belum mau pulang?”
“Jadi benar kan kalian sedang ada masalah?”
“Tidak Umi, hanya saja—“
“Kalau begitu besok kamu jemput Alifa.”
“Baik Umi.” Akhirnya aku menyerah saja. Tidak baik juga memaksakan kehendak kita pada orang tua.
Umi ini ada-ada saja. Bisa-bisanya mengatakan kalau aku dan Alifa sedang bermasalah. Bukannya beliau tahu sendiri selama ini kami baik-baik saja. Aku selalu mencoba memperlakukannya dengan baik, tidak pernah berbuat dan berkata kasar padanya. Dia pun sudah sangat baik menjalankan perannya sebagai istri.
Keesokan paginya, sesuai dengan titah Umi, aku berangkat untuk menjemput Alifa. Aku tidak memberitahukan perihal kedatanganku kepadanya. Biarlah ini akan menjadi semacam kejutan. Aku tahu Alifa adalah gadis rumahan, dia pasti sekarang ada di rumah Umi Salmah.
Setelah hampir lima jam aku berkendara, akhirnya aku sampai di depan rumah Umi Salmah. Dan sesuai dugaanku, mobil Alifa terparkir di depan rumahnya. Itu berarti Alifa memang ada di rumah.
Tok ... tok ... tok ....
“Assalamualaikum,” ucapku di depan pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab seseorang dari dalam rumah seraya membukakan pintu untukku.
Ceklek ... begitu pintu terbuka aku begitu terkejut melihat seseorang yang baru saja membukakan pintu untukku. Gadis manis berkerudung krem tengah menatapku dengan sama terkejutnya. Gadis manis pengisi hati yang sangat aku rindukan keberadaannya. Ameera ...
Begitu pikiranku tersadar, aku segera menundukkan pandangan. Pun kulihat dia melakukan hal yang sama.
“Silakan masuk,” ucapnya lembut. Eh, sepertinya ada yang aneh. Kenapa dia tidak bertanya kenapa aku disini? Atau setidaknya bertanya aku mau bertemu siapa. Seolah dia sudah tahu kalau ....
__ADS_1
“Silakan duduk. Umi Salmah dan kak Alifa masih shalat di mushola. Begitu mereka selesai, nanti saya sampaikan kedatangan ... maksud saya nanti saya beritahukan ada tamu.” Sepertinya dia bingung harus memanggilku dengan panggilan apa.
Kenapa Ameera ada disini? Tahukah dia kalau aku adalah suami dari Alifa? Melihat sikapnya padaku saat ini memang sepertinya dia tahu. Tapi apakah Alifa juga tahu siapa Ameera?
Begitu Ameera akan beranjak pergi, aku segera memanggilnya kembali. “Tunggu Ameera!” Dia nampak terkejut karena aku memanggilnya.
“Maaf saya banyak pekerjaan di belakang.” Di belakang? Apakah dia bekerja disini sebagai asisten rumah tangga?
“Sebentar saja Ameera, Aku mohon duduklah sebentar.”
Dia nampak gelisah. Terlihat dari caranya menoleh ke kiri dan kekanan lalu menundukkan pandangannya ke lantai. Tapi pada akhirnya dia tetap duduk diatas sofa didepanku.
“Bagaimana kabar kamu?” tanyaku.
“Alhamdulillah baik,” jawabnya singkat.
“Kamu kenapa ada disini?”
“Saya kerja disini.”
“Kamu sudah tahu kalau aku dan Alifa—“
“Maafkan aku Ameera, ini sungguh bukan keinginanku. Kamu tahu, sampai saat ini aku belum bisa melupakan kamu, aku masih—“
“Aa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Apapun yang terjadi diantara kita hanyalah masa lalu, dan sekarang kita sudah sama-sama mempunyai kehidupan masing-masing. Saya harap tidak ada lagi pembahasan tentang hal ini kedepannya.”
“Kamu sudah benar-benar melupakan aku Ra?” tanyaku gusar, “apakah kamu juga sudah menikah?”
“Bahkan saya sekarang sedang mengandung.” Deg ... kalimat yang baru saja diucapkan Ameera terasa seperti sebilah pisau yang menusuk tepat di jantungku, perih.
“Be-berapa bulan?” tanyaku gugup.
“Jalan lima.” Jawabnya singkat.
Sakit rasanya mengetahui dia tengah mengandung bayi dari pria lain. Ameeraku ... kini telah jadi milik orang lain. Kini aku sudah tidak memiliki harapan lagi untuk hidup bersama dengannya. Dadaku terasa sesak. Mataku terasa perih. Bolehkah aku menangis dihadapannya saat ini?
“Habibie ... kapan datang nak?” Umi Salmah berjalan kearahku. Dibelakangnya ada Alifa mengikuti.
“Baru saja Umi.” Aku beranjak bangun untuk menyalami ibu mertuaku tersebut. Lalu Alifa menghampiriku dan mencium punggung tanganku. Kulirik Ameera sekilas. Dia nampak tidak nyaman, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
“Saya ambilkan minum dulu Umi.” Ameera nampak beranjak dari duduknya. Jadi benar dia bekerja sebagai asisten rumah tangga disini.
“Tidak usah repot-repot neng, biar Alifa saja yang membuatkannya. Kamu istirahat saja,” ucap Umi Salmah.
“Baik Umi,” ucap Ameera. Alifa pun pergi meninggalkan kami di ruang tamu.
“Asisten rumah tangga yang baru Umi?” tanyaku penasaran.
“Bukan, dia yang bantuin Umi ngurus pesanan catering, bantu-bantu Lusi.”
“Oh ....”
Sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada Umi Salmah tentang Ameera. Rasanya dia belum ada disini saat pernikahanku dengan Alifa. Tapi bagaimana bisa dia berada disini? Apa hubungan Ameera dengan keluarga Umi Salmah.
“Diminum tehnya Bie.” Karena sibuk memikirkan Ameera aku sampai tidak menyadari kedatangan Alifa.
“Terimakasih,” ucapku padanya seraya meminum teh buatannya.
“Kenapa datang kesini tidak mengabari dulu Bie?”
“Umi yang maksa. Umi pikir kamu lama disini karena kita sedang ada masalah. Padahal aku tahu, itu pasti Uminya aja yang kangen sama menantu kesayangannya ini.” Alifa nampak tersenyum kearahku. Seperti biasanya sikapnya selalu sopan dan lemah lembut. Selama ini aku tidak pernah melihat Alifa marah ataupun merajuk. Aku masih tidak habis fikir, bagaimana mungkin Umi sampai berfikiran seperti itu.
POV Alifa
Aku terkejut usai shalat dzuhur bersama Umi mendapati Habibie ada dirumah Umi. Dan yang membuatku lebih terkejut dia sedang bercengkrama dengan Ameera. Jadi benar yah kalau Ameera yang ada dirumah ini sama dengan Ameera yang kulihat di foto dalam dompet Habibie.
Aku penasaran, sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkin saja mereka sedang merajut kembali kisah cinta mereka yang belum usai. Masih sulit dipercaya memang, anak seorang kyai ternyata menjalin hubungan dengan seorang gadis yang bukan muhrimnya.
“Bahkan saya sekarang sedang mengandung.” Kudengar Ameera berkata seperti itu kepada Habibie. Kenapa? Kenapa dia berbohong pada Habibie? Sedangkan aku tahu dia belum menikah.
Ameera meninggalkan kami bertiga begitu menyadari kedatanganku. Aku sengaja memanggil Habibie dengan panggilan ‘Bie’ didepannya. Hanya ingin memastikan apakah Ameera masih mencintai Habibie atau tidak. Dan ternyata aku melihatnya. Air mukanya berubah. Aku tahu dia sedang cemburu. Maafkan aku Ameera, aku memang sedikit egois. Aku hanya tidak mau kalau suamiku mencintai perempuan lain. Suamiku adalah milikku.
***
__ADS_1