
Aku mengerjapkan mata ketika menyadari ada yang mengetuk pintu kamar. Aku terduduk sejenak sebelum beranjak menuju pintu. Kulihat ibu disana, membawa nampan berisi makanan dan minuman.
“Ibu?” sapaku, “kenapa Ibu repot-repot membawa makanan ke kamar. Aku bisa mengambilnya sendiri bu.” Ku raih nampan dari tangan ibu dan dengan segera meletakkannya diatas tempat tidur.
“Ibu khawatir karena kamu belum juga keluar kamar, padahal jam sarapan sudah berlalu, Ibu pikir kamu masih sakit, makanya Ibu bawain sarapan kamu ke kamar. Kamu sudah baikan sayang?” Ibu menempelkan punggung tangannya diatas keningku.
“Aku baik-baik saja bu, terimakasih. Oh iya bu kak Heru apa sudah bangun?” tanyaku.
“Heru sudah berangkat ke tempat kerja sayang,” Jawabnya.
Aku terkejut mendengar jawaban ibu. Kulirik jam yang ada dikamar, ternyata sudah pukul 10 pagi. Aku jadi malu sendiri. Sebagai tamu, selain merepotkan, aku bahkan bangun kesiangan. Setelah ini aku pasti dipecat sebagai calon menantu. Eh, apa sih yang aku pikirkan ini, siapa juga yang calon menantu.
Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku karena merasa tidak enak atas semua kebaikan ibunya Heru, “maaf yah bu, aku bangun kesiangan.”
“Gak papa sayang, sudah sana pergi mandi, setelah itu habiskan sarapan kamu,” titahnya. “nanti Ibu ambilkan baju ganti di kamar Andini, kamu mandi saja, nanti biar Ibu simpan diatas tempat tidur.”
“Ba-baik ....”
Sepeninggalnya Ibu, aku kembali merutuki diri sendiri, kenapa sampai bisa bangun terlambat dirumah orang lain. Aku jadi merasa malu pada Ibu, dan Heru tentunya. Dan iya, rencanaku untuk meminjam ponsel Heru gagal sudah. Aku bahkan tidak bisa bertemu Heru pagi ini. Dan apa yang akan aku lakukan disini seharian? Apa aku pulang saja? Tapi bagaimana?
Kusudahi acara merutuki diri sendiri. Aku sudah harus mulai berdamai dengan diriku. Bagaimanapun penilaian keluarga ini padaku, seharusnya aku tidak peduli kan? Memangnya siapa aku ini? Bagus kalau Ibu dan Heru bisa tahu bagaimana aku sebenarnya sejak dini.
Aku beranjak malas menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu ini. Aku mensyukuri satu hal ketika berada disini, yaitu aku tidak perlu menimba air terlebih dahulu ketika akan mandi. Selain itu aku juga tidak harus terburu-buru karena disini tidak akan ada yang mengantri seperti di kostanku.
Ngomong-ngomong tentang kostan, aku kembali teringat dengan Nita. Aku bahkan belum bisa menghubunginya. Aku takut Nita akan melaporkan kehilanganku pada polisi, karena dia pikir aku hilang.
Usai mandi Aku segera mengenakan pakaian yang disiapkan Ibu untukku. Baju Andini ini cukup nyaman ku kenakan, karena ukuran badan kami memang tidak jauh berbeda. Hanya saja Andini lebih tinggi daripada Aku.
Setelah menghabiskan sarapanku, Aku membawa nampan beserta piring dan gelas kosong diatasnya menuju dapur. Ku lihat Ibu berada di ruang tengah sedang menonton televisi. Karena terlalu fokus, Ibu tidak menyadari kehadiranku disana. Aku lanjut menuju dapur dan menyimpan piring dan gelas kotor bekas makanku dan mencucinya.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan urusanku di dapur aku lekas kembali. Tujuanku adalah untuk menghampiri Ibu. Samar-samar kudengar lantunan lagu dari televisi yang sedang ibu tonton, “ku menagiiiisssss ... membayangkan ... betapa kejamnya dirimu atas diriku ....” rupanya ibu sedang menonton serial FTV kegemaran hampir semua ibu-ibu di negara ini. Aku mengulum senyum memikirkan hal tersebut.
“Eh Ameera, sudah lama sayang? Maaf Ibu terlalu fokus menonton televisi sampai tidak menyadari kamu sudah berdiri disana.” Ibu baru menyadari keberadaanku ketika filmnya sedang iklan, padahal aku sudah berdiri di dekatnya beberapa menit yang lalu. “Sini duduk.” Ibu menepuk sofa disampingnya, dan akupun mendudukkan tubuhku di tempat yang tadi Ibu tunjukkan.
Ibu menceritakan kisah serial yang ditontonnya tanpa aku minta. Sesekali Ibu terlihat kesal saat menceritakan bagaimana seorang suami yang tega selingkuh dari istrinya ketika sang istri tengah hamil anak mereka. Aku bahkan tidak terkejut mendengarnya, karena hampir semua cerita serial tv tersebut memang menceritakan hal yang itu-itu saja.
“Bu, boleh pinjam ponsel Ibu?” tanyaku ragu, “Aku mau menghubungi teman kostan, sejak kemarin Aku belum mengabarinya, pasti dia sangat khawatir.”
Sesuai rencanaku semalam, Aku ingin menghubungi Nita via akun sosial medianya. Walaupun tidak akan langsung dibaca, setidaknya ketika pulang kerja nanti, Nita mungkin akan membuka ponselnya, dan dia pasti akan menerima notifikasi pesan dariku. Aku khawatir Nita benar-benar akan melaporkanku ke kantor polisi karena dia fikir aku hilang.
Ibu merogoh saku celananya, dan menyerahkan ponselnya kepadaku. Dengan ragu kuterima ponsel tersebut. Aku hanya memandanginya tanpa melakukan apapun.
Melihatku yang hanya memandangi ponselnya, Ibu bertanya, “kenapa kok malah melamun? Kamu jangan khawatir, pulsa ibu banyak kok.”
Aku hanya tersenyum kepadanya seraya menyerahkan kembali ponsel yang ada di tanganku, “maaf bu gak jadi, ternyata aku tidak ingat nomor ponsel temanku itu.”
Ibu menerima kembali ponselnya dan memasukkannya kembali di saku celananya, kemudian melanjutkan kembali tontonannya yang sempat tertunda karena iklan komersil. Aku memandangi kakiku sendiri dengan kecewa. Tadinya aku berharap bisa menghubungi Nita dengan menggunakan ponsel ibu, tapi ternyata ponsel ibu tidak support untuk itu. Ponsel ibu ternyata tipe ponsel yang hanya bisa sms dan nelpon.
Ku edarkan pandangan ke sekeliling. Kamar Heru cukup rapi untuk ukuran kamar seorang pria. Mungkin ibu yang selalu membereskan tempat ini. Kemudian perhatianku teralihkan pada sebuah foto yang ada diatas nakas, disamping tempat tidur Heru. Foto Heru, Ibu, Andini, serta seorang pria yang ku yakini itu adalah ayah Heru.
Ku edarkan lagi pandangan menyisir seluruh isi kamar Heru. Ada sebuah rak buku dengan banyak buku didalamnya. Kuraih satu buku secara acak, ternyata buku tentang strategi marketing. Ku simpan lagi buku tersebut karena kurang menarik menurutku. Kemudian perhatianku teralih pada satu buku dengan tajuk ‘Cara Mudah Membaca Pikiran’. Akhirnya kuputuskan akan membaca buku tersebut.
Aku berfikir sejenak dimana akan membaca buku tersebut. Hanya ada meja kerja Heru disana. Aku tidak mungkin duduk disana karena banyak sekali file-file yang kukira penting. Dan akhirnya aku memutuskan akan membaca buku di tempat tidur Heru sambil rebahan. Baru beberapa halaman kubaca, Aku mulai merasa ngantuk. Tanpa sadar aku tertidur disana sambil masih memegang buku.
Aku mengerjapkan mata menyadari ada seseorang yang sedang mengusap pipiku dengan lembut. Begitu membuka mata Aku terkejut karena ada Heru tepat didepan wajahku. Jarak kami hanya beberapa centi saja.
Aku refleks terbangun dan langsung turun dari tempat tidur Heru. Heru menatapku dengan senyum jahilnya, “wah ... wah ... wah ... rupanya kamu sudah tidak sabar untuk tidur disini ya?”
Mendengar ucapan Heru, aku refleks hendak mencubit perutnya, tapi dengan sigap Heru menangkap tanganku. “Dua kali aja cukup, jangan lagi. Sepertinya kamu suka sekali mencubit perut aku yah.”
__ADS_1
Aku tersenyum malu mendengar ucapan heru. Aku hendak menarik tanganku kembali, tetapi Heru malah semakin mengeratkan genggamannya. Kemudian dia mendaratkan satu kecupan di punggung tanganku. Aku semakin tersipu, dan menarik paksa tanganku dari genggamannya.
“Kak Heru kenapa jam segini sudah pulang?” tanyaku basa-basi.
“Aku kangen sama kamu, jadi Aku pulang ke rumah untuk makan siang bareng sama kamu,” jawabnya, “dan aku senang kamu juga merindukanku.”
“Siapa bilang?” elakku seraya mengalihkan pandangan darinya.
“Kamu gak usah mengelak sayang, buktinya kamu sampai ketiduran di kamar aku segala.” Heru tersenyum menyeringai usai mengucapkan kalimat terakhirnya.
“Aku hanya bosan. Tadinya mau ke balkon, tiba-tiba pengen aja kesini. Terus malah ketiduran pas lagi baca buku,” paparku.
Heru malah tertawa mendengar penjelasanku. Dimatanya mungkin aku seperti sedang mencari-cari alasan saja. Padahal aku berbicara yang sebenarnya.
“Kak, aku mau pulang,” ucapku ditengah tawanya.
“Kenapa? kamu gak betah disini?” tanyanya.
“Bukan begitu kak, aku hanya tidak enak terus tinggal disini. Aku takut merepotkan kalian, terutama Ibu.”
“Baiklah, nanti aku anterin kamu setelah aku pulang bekerja ya.”
“Gak bisa sekarang aja kak?”
“Gak bisa sayang, sekarang aku harus segera kembali ke kantor. Aku pulang hanya untuk makan siang aja sama kamu.”
“Oh gitu ya ....”
“Udah jangan sedih gitu, mendingan sekarang kita makan di bawah, Ibu pasti sudah nungguin kita. Tadi aku beli ayam bakar madu. Kamu pasti suka.”
__ADS_1
Mendengar nama makanan semangatku kembali membara. Dengan cepat aku menggangukkan kepala. Sedangkan Heru hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. Kamipun berjalan beriringan menuju meja makan di lantai satu.