
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, tapi mataku masih belum bisa terpejam. Aku bahkan belum mengganti pakaian yang kupakai tadi siang piknik bersama keluarga Heru. Pikiranku masih menerawang mengingat kembali kejadian yang ku alami hari ini.
Dimulai saat aku menyusuri indahnya air terjun bersama Heru, “Heru, kenapa kamu tidak mencoba meluruskan kesalah pahaman ini?” tanyaku pada Heru saat itu.
Heru menatapku dengan bingung, “kesalah pahaman yang mana Ra?”
“Kesalah pahaman ibu sama adik kamu, masa mereka mengira aku ini calon istri kamu” Jawabku
Heru nampak mengembalikan fokusnya kearah jalan yang sedang kami lalui, “mereka gak salah paham kok Ra, kamu kan memang calon istri aku.”
Aku menatapnya bingung. Kuraih tangannya agar menoleh kearahku dan menghentikan langkah kami, “kamu jangan seenaknya gitu Heru, memangnya kapan kamu nembak aku? Bilang cinta aja engga, masa udah jadi calon istri aja.”
Kulihat dia tersenyum menanggapi ocehanku, “aku itu bukan anak abg yang harus menyatakan cinta dengan dramatis sambil ngasih bunga atau cincin Ra. Orang dewasa sudah tidak melakukan hal-hal seperti itu lagi. Cinta itu tidak harus diungkapkan, cukup kamu rasakan aja perasaan cinta aku.”
Aku termenung sejenak, mencoba mencerna semua yang baru saja dia katakan. Aku sama sekali tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Yang aku tahu dalam suatu hubungan haruslah ada persetujuan kedua belah pihak. Dia tidak boleh seenaknya memperkenalkanku kepada keluarganya bahwa aku adalah calon istrinya sedangkan sebelumnya dia tidak meminta persetujuanku akan status hubungan kami.
“Kok kamu diem aja? Udah jangan terlalu dipikirin, ayo jalan lagi.” Ajak Heru seraya meraih tanganku kedalam genggamannya. Seolah terhipnotis, aku mengikuti langkah Heru tanpa mencoba menolaknya sedikitpun
Kami berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan selayaknya sepasang kekasih. Aku sendiri masih belum memahami arah hubungan kami. Bagi Heru, aku adalah calon istrinya yang bahkan sudah dia perkenalkan kepada keluarganya. Tapi bagaimana denganku? Sedangkan aku sudah mempunyai Umar disampingku. Dalam hati aku meyakinkan diri bahwa aku tidak sedang berselingkuh. Aku tidak mempunyai hubungan yang serius dengan Heru. Sedangkan untuk perasaan Heru, biarlah itu menjadi urusannya sendiri.
“Kok kamu diem aja Ra?” tanya Heru
“Mmmhh ..., gapapa kok aku Cuma kedinginan” jawabku asal
Heru nampak menghentikan langkahnya. Dia melepaskan genggaman tangannya untuk kemudian melepaskan jaket yang dia kenakan. Lalu dengan penuh perhatian dia menyelimuti bahuku dengan jaketnya, “kamu sih ke gunung gini pake baju pendek gini, pake rok pula.”
__ADS_1
Tiba-tiba ada debaran aneh saat Heru memasangkan jaketnya padaku. Tidak pernah aku sedekat ini dengan seorang pria. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya diwajahku. Aroma parfum maskulin yang menusuk indra penciuman membuat jantungku berdegup lebih kencang.
Selama beberapa detik kami saling menatap. Kemudian perlahan Heru mendekatkan wajahnya kearahku. Bukannya menghindar, aku malah memejamkan mata. Kurasakan sentuhan bibir Heru di bibirku. Bukan sebuah ciuman panjang, namun hanya sebuah kecupan singkat. Tiba-tiba aku merasa ada aliran listrik didalam tubuhku. Aku menatapnya sejenak untuk kemudian membuang muka.
“Ini hadiah ulang tahun untuk kamu.” ucapnya khas dengan senyum jahilnya.
Kututupi wajahku dengan bantal. Malu kurasa saat mengingat kembali kejadian itu. Untuk pertama kalinya seorang pria menciumku. Tapi semakin aku mengingatnya, semakin jantung ini berdebar lebih cepat. Ku sentuh bibirku untuk yang kesekian kalinya, masih bisa kurasakan bibir Heru yang tadi siang menempel disana.
‘Astaga, gara-gara Heru aku jadi gak bisa tidur gini.’ Ku balikkan badan kekiri dan kekanan. Ku coba pejamkan mata berharap kantuk akan segera datang, tapi nihil, aku masih saja belum bisa tertidur.
***
Aku mengerjapkan mata ketika menyadari ada seseorang mengetuk pintu kamar kostku sambil memanggil-manggil namaku. Kutajamkan indera pendengaranku, rupanya itu suara Nita. Kupijit-pijit keningku yang terasa sangat pusing. Entah jam berapa aku tertidur semalam.
Aku beranjak bangun untuk membukakan pintu, “ada apa sih Nit, pagi-pagi udah bikin keributan aja,” kudapati Nita dibalik pintu sudah rapi dan mengenakan seragam kerja.
“Aku pusing banget Nit, tadi malem gak bisa tidur. Tunggu bentar yah aku mau cuci muka dulu”
“Kamu gak mau mandi dulu Ra?”
“Kalo nunggu aku mandi, kita bisa telat nanti. Udah sana tunggu di teras, lima menit lagi aku beres kok.”
Nita berjalan menuju teras sambil terus menggerutu. Sedangkan aku bergegas menuju ke kamar mandi dan kemudian kembali ke kamar untuk bersiap-siap berangkat bekerja. Dan sesuai perkiraan, lima menit kemudian aku sudah menyusul Nita ke teras.
“Berangkat yuk,” ajakku pada Nita yang langsung mendapat persetujuan darinya.
__ADS_1
Didalam perjalanan menuju ke pabrik, aku terus menerus memijat kepalaku yang semakin terasa pusing. Aku sungguh ingin berbalik arah menuju ke kostanku untuk melanjutkan tidurku jika tidak ingat akan tanggung jawabku ditempat kerja.
Melihatku yang tidak fit hari ini, Nita nampak khawatir, “kamu baik-baik aja Ra? Sepertinya kamu sedang kurang sehat.”
“Semalem aku gak bisa tidur Nit, jadi sekarang kepalaku pusing banget”
“Apa kamu mau pulang lagi aja? Nanti biar aku bilangin izin ke pengawas kamu”
“Gak usah Nit, lagian pengawas aku mana mau menerima alasan gak masuk karena kurang tidur. Yang ada pas nanti masuk aku kena marah” Jawabku yakin.
“Oiya Ra, kemaren kamu kemana?” tanyanya mengalihkan topik.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Nita. Aku menimbang-nimbang apakah aku harus jujur pada Nita bahwa kemarin aku pergi piknik bersama keluarga Heru atau tidak.
“Aku pergi jalan sama Heru” jawabku jujur
Nita nampak terkejut mendengar jawabanku, “kamu jangan terkejut gitu dong Nit, aku gak pergi berdua aja dengan Heru, aku pergi piknik sama keluarganya juga kok” entah mengapa jawaban tambahan dariku malah makin menambah keterkejutannya.
“Kamu itu gak pernah berubah yah Ra,” nampak kekecewaan diwajah Nita saat ini, “tega-teganya kamu udah mengkhianati Umar yang udah baik banget sama kamu.” imbuhnya.
Aku tidak mengerti arah pembicaraan Nita, “maksud kamu berkhianat apa Nit? Aku tidak mengkhianati Umar kok. Lagian aku kemaren pergi sama Heru ya karena Umar juga. Dia malah pulang ke rumah orang tuanya disaat aku ulang tahun, aku kan bete sendirian di kostan.”
“Kamu gak usah mencari pembenaran atas kesalahan kamu sendiri Ra,” jawabnya, “sebenarnya kemaren Umar gak bener-bener pulang kerumah orang tuanya, dia sengaja mau bikin surprise buat kamu. Dia datang ke kostan kamu kemaren pagi. Dia nungguin kamu disana sampai sore Ra.” Imbuhnya.
Aku terkejut mendengar apa yang baru saja Nita katakan, “kamu tahu darimana Umar nungguin aku Nit? Kemaren pagi kan kamu pergi? Trus kalo bener Umar dateng, kenapa dia gak nelpon aku aja pas tau aku gak ada, paling engga kan dia tahu aku dimana.” tanyaku pada Nita.
__ADS_1
“Dari Agung,” jawabnya, “Umar gak nelpon kamu karena berfikir kamu cuma beli seblak di warung langganan kamu itu, makanya dia nungguin kamu.”
Aku berfikir sejenak, mencerna semua yang dikatakan oleh Nita. Aku jadi merasa bersalah. Kemarin pasti Umar sangat kecewa, sedangkan aku malah bersenang-senang bersama Heru. Aku jadi teringat, sejak kemarin tak ada satu pun pesan masuk dari Umar. Padahal biasanya dia tidak pernah lupa mengirimiku pesan, walaupun hanya sekedar mengingatkan makan atau mengucapkan selamat pagi. Tiba-tiba muncul perasaan khawatir pada Umar. Ingin rasanya segera pulang ke kostan kemudian aku akan menelpon Umar menanyakan kabarnya.